Aug 07, 2019 16:07 Asia/Jakarta
  • kemajuan teknologi Iran
    kemajuan teknologi Iran

Para peneliti di Universitas Tehran berhasil menciptakan sebuah minuman fungsional dari air keju dan ekstrak kunyit. Kurkumin adalah senyawa bioaktif alami yang terkandung dalam kunyit. Senyawa ini memiliki sifat antitumor, antioksidan, antibakteri dan antiinflamasi yang sangat baik untuk kesehatan tubuh manusia.

Sifat-sifat itu dapat digunakan dalam berbagai bahan makanan, namun demikian dengan memperhatikan sifat lainnya yaitu sulit larut di dalam air, penggunaannya dalam formulasi makanan dan obat, sangat sedikit.

Menurut keterangan para peneliti, dalam proyek penelitian ini untuk meningkatkan kelarutan kurkumin dalam air, senyawa berharga ini dijadikan kompleks dengan nanostruktur yang dihasilkan protein-protein air keju.

Proses tersebut menyebabkan kelarutan kurkumin meningkat secara signifikan (sekitar 1.200 kali lipat). Selain itu, selama tahap-tahap produksi kompleks ini dilakukan dalam kondisi minuman, hasil penelitian ini dapat secara langsung digunakan untuk memproduksi minuman fungsional kaya kurkumin.

Para peneliti mengatakan, dalam penelitian-penelitian sebelumnya digunakan pelarut-pelarut semacam etanol dalam dosis tinggi untuk menciptakan kompleks dan meningkatkan kelarutan kurkumin.

Dengan memperhatikan fungsi protein air keju dalam penelitian ini, hasil yang diperoleh dapat membantu produksi minuman-minuman dengan kadar protein tinggi yang mengandung kurkumin, akan tetapi tidak menggunakan alkohol.

Maka dari itu ia dapat digunakan untuk membuat minuman-minuman non-alkohol sehingga bisa dikonsumsi oleh umat Islam di seluruh dunia. Para peneliti menjelaskan, hasil penelitian ini dapat meningatkan kegunaan protein air keju yang merupakan produk sampingan dari industri susu olahan.

Selain itu, berdasarkan hasil penelitian ini, penggunaan pelarut-pelarut lain seperti etanol yang berfungsi meningkatkan kelarutan kurkumin, bisa dikurangi atau dihapus sama sekali.

Dalam proses ini, tidak digunakan pelarut-pelarut dan senyawa kimia, oleh karena itu dapat disebut sebagai rekayasa proses hijau. Hasil penelitian tersebut dimuat dalam jurnal ilmiah, Food Hydrocolloids pada tahun 2019.

Para peneliti di Universitas Tarbiat Modares, Tehran dengan memodifikasi abu yang dihasilkan dari sebuah alga berbahaya di bawah Laut Kaspia, untuk digunakan sebagai senyawa aktif elektrode, Anode untuk baterai ion litium. Di antara alat penyimpan energi, baterai ion litium merupakan yang banyak mendapat perhatian.

Fungsi utama jenis baterai ini salah satunya adalah pada peralatan elektronik portable dan kendaraan-kendaraan bertenaga listrik. Baterai ini selain memiliki banyak keunggulan, termasuk daya yang tinggi, juga punya sejumlah kelemahan.

Menurut seorang dosen di Universitas Tarbiat Modares, kemunculan dan pertumbuhan alga berbahaya di laut adalah imbas pencemaran minyak, racun industri pertanian dan limbah rumah tangga, dan salah satu dampak berbahaya pencemaran air laut adalah menurunnya tingkat oksigen air yang mengakibatkan matinya tumbuhan dan hewan laut.

Karena sepanjang tahun pantai Laut Kaspia selalu dipadati wisatawan, ia berubah menjadi lokasi tumbuhnya alga berbahaya. Para peneliti mengatakan, dalam proyek penelitian ini diupayakan agar penggunaan sejenis alga berbahaya dengan nama Cladophora glomerata dapat meningkatkan efektivitas baterai ion litium.

Universitas Tarbiat Modares

Pada kenyataannya, penggunaan hasil penelitian ini selain dapat mengatasi masalah lingkungan hidup terkait dengan keberadaan alga-alga berbahaya, juga meningkatkan kualitas baterai ion litium.

Para peneliti menjelaskan, proyek penelitian ini dua kali mendapatkan hak paten. Hasil penelitian juga dimuat dalam jurnal ilmiah Environmental Science and Pollution Research (ESPR) pada tahun 2017.

Para peneliti Iran berhasil memproduksi kertas tisu nano dengan menggunakan senyawa herbal bahan aktif 100 persen alami. Menurut para peneliti, faktor-faktor  penyebab munculnya penyakit atau patogen yang ada di sekitar manusia, merupakan salah satu ancaman utama kesehatan. Dengan memperhatikan keberadaan berbagai jenis patogen dan pencemaran di berbagai tempat, diperlukan bahan antiseptik yang sangat efektif.

Dikarenakan terbatasnya akses terhadap bahan ini, maka dengan teknologi yang ada pada tisu antibakteri, tanpa menggunakan bahan antiseptik, dan hanya mencuci tangan dengan air, lalu mengeringkannya dengan tisu kertas mengandung nanopartikel herbal, faktor-faktor penyebab penyakit yang ada pada kulit tangan bisa dihilangkan.

Tisu kertas yang diproduksi dengan metode ini, lebih tahan lama dibandingkan tisu basah, begitu juga karena penggunaan senyawa herbal yang 100 persen alami, ia akan terurai sepenuhnya di alam. Pencemaran di lingkungan tidak akan tersisa, dan pada kondisi baik kering maupun basah, seluruh karakteristiknya akan bertahan.

Menurut para peneliti, untuk pertama kalinya di dunia, penggunaan nanopartikel herbal sebagai bahan antimicrobial pengganti nanopartikel perak dalam penelitian ini, tampak pada produk-produk selulosa.

Mengingat strategi global mengkonsumsi produk-produk alami-herbal, biodegradasi penuh produk ini di alam, juga harga yang terjangkau, termasuk kegunaan terpenting dibandingkan produk-produk selulosa lain.

Nanopartikel perak sebagian besar dikenal sebagai bahan antimicrobial sangat efektif yang tidak menimbulkan keracunan sedikitpun bagi mamalia, meskipun demikian berbeda dengan pandangan umum, banyak kajian yang membuktikan dampak beracun nanopartikel perak terhadap hati tikus (BRL 3 A), sel-sel saraf, sel-sel Epithelial paru-paru manusia dan sel-sel punca tikus, dan dengan memperhatikan bahwa nanopartikel perak tidak terurai di alam, maka muncul kekhawatiran serius.

Menurut para peneliti, efek antibakteri tinggi dengan menggunakan nanopartikel yang sepenuhnya herbal dan organik, bisa terurai di alam, memiliki ketahanan tinggi dan kuat dalam berbagai kondisi alam tanpa mengurangi khasiatnya, membuka kemungkinan produksi penuh dengan kapasitas tinggi di dalam negeri Iran, juga membuka kemungkinan produksi di pabrik-pabrik pembuatan tisu kertas dengan melakukan sedikit perubahan pada produksi.

Proyek penelitian ini sudah mendapatkan hak paten, dan dipamerkan pada pameran nano teknologi. Hasil penelitian ini juga mendapat pengesahan staf pengembangan nano teknologi, dan pengesahan antibakteri dan alergi dari sejumlah laboratorium yang diakui badan pangan dan obat Iran.

Prestasi kedokteran baru dicapai di rumah sakit Universitas Sao Paulo, Brazil. Seorang perempuan penerima donor rahim dari orang yang sudah meninggal, berhasil melahirkan seorang bayi perempuan.

Pendonoran rahim dari orang yang sudah meninggal kepada perempuan hidup dan sehat, adalah pekerjaan yang sulit. 10 kali transplantasi rahim dari pendonor meninggal kepada penerima donor yang hidup sebelumnya, gagal dilakukan di Amerika Serikat, Republik Ceko dan Turki.

Perempuan Brazil, 32 tahun menerima donor rahim dari seorang yang sudah meninggal berhasil melahirkan bayi perempuan seberat 2,5 kilogram melalui operasi sesar setelah mengandung selama 35 minggu, 3 hari.

Dani Ejzenberg, dokter rumah sakit Universitas Sao Paulo Brazil yang memimpin penelitian mengatakan bahwa proses transplantasi rahim dilakukan pada bulan September 2016. Lima bulan setelahnya tidak ditemukan aktivitas tidak normal atau penolakan tubuh penerima donor.

7 bulan kemudian setelah operasi bedah, sel telur yang sudah dibuahi disuntikkan kepada perempuan penerima donor dan iapun mengandung. Ibu dan bayinya berada dalam kondisi yang sepenuhnya sehat selama beberapa bulan kemudian.

Menurut para peneliti senior di Universitas Sao Paulo, Brazi, metode ini sampai sekarang masih pada tahap awal, dan para peneliti sedang berusaha meningkatkan kinerjanya.[]