Sep 02, 2019 09:18 Asia/Jakarta
  • 2 September 2019
    2 September 2019

Hari ini, Senin 2 September 2019 bertepatan dengan 2 Muharam 1441 Hijriah atau menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 11 Shahrivar 1398 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi pada hari ini di masa lampau.

Imam Husein as Tiba di Karbala

1380 tahun yang lalu, tanggal 2 Muharam 61 HQ, Imam Husein as, cucu Rasulullah Saw bersama dengan anggota keluarga dan sahabat setia beliau, tiba di tanah Karbala.

Ketika sampai di sana beliau menanyakan nama tempat itu. Ketika mendengar bahwa nama tempat ini adalah Karbala, beliau menangis seraya berkata, "Turunlah kalian. Di sinilah darah kita akan diteteskan dan tempat kuburan kita. Di sinilah kuburan kita akan menjadi tempat ziarah. Begitulah kakekku Rasulullah menjanjikan."

Imam Husein as

Mendengar seruan ini, para sahabat beliau turun dan menurunkan seluruh barang bawaan. Pasukan Hurr bin Yazid al-Riyahi mengambil posisi di tempat berhadapan dengan rombongan Imam Husein as.

Imam Husein as mengumpulkan seluruh keluarga dan memandangi mereka. Beliau pun menangis. Setelah itu, beliau berkata, "Ilahi! Mereka telah mengusir kami dari tanah suci kakekku. Bani Umayah telah menzalimi hak kami. Ya Allah! Ambillah hak kami dari para lalim dan menangkanlah kami atas musuh-musuh kami."

Ubaidillah bin Ziyad menulis sepucuk surat kepada Imam Husein as yang berisi, "Berita ketibaanmu di Karbala telah kami terima. Yazid bin Muawiyah telah memerintahkanku supaya aku tidak tidur sebelum membunuhmu, atau engkau menerima ketentuanku dan ketentuan Yazid bin Mua'wiyah. Wassalam." Imam Husein as berkata, "Surat ini tidak perlu dijawab, karena Ubaidillah memang sudah ditentukan menerima azab Ilahi."

Setelah Imam Husein as membaca surat Ubaidillah Ibn Ziyad, beliau berkata, "Semoga tidak berjaya golongan yang telah rela membeli keridaan manusia dengan harga amarah Allah (Yaitu lebih mementingkan keridaan manusia atas amarah Allah)."

Beberapa bulan sebelumnya,  Imam Husein pergi meninggalkan kota Madinah menuju Mekah dalam rangka penolakannya untuk berbaiat atau berjanji setia kepada Yazid bin Muawiyah yang mengangkat diri sebagai khalifah kaum Muslimin.

Sementara itu, ribuan surat dari warga Kufah disampaikan kepada Imam Husain untuk mengundang beliau agar datang ke kota itu untuk memimpin perjuangan melawan Khalifah Yazid yang sangat kejam. Untuk memenuhi undangan itu, Imam Husein beserta 72 orang rombongan beliau, meninggalkan kota Madinah menuju Irak. Namun, ternyata warga Kufah yang mendapat represi dari pemerintahan Yazid, berbalik menentang Imam Husein, sehingga sebelum sampai ke kota Kufah, Imam Husein sudah dicegat oleh pasukan Kufah dan digiring ke Karbala.

Mesin ATM Pertama

50 tahun yang lalu, tanggal 2 September 1969, Amerika Serikat memperkenalkan penggunaan layanan mesin uang, Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Debut ATM itu berlangsung di Kota New York.

Sejumlah ilmuwan penemu di Eropa sudah merancang versi awal mesin pembagi uang. Namun, eksekutif asal Dallas, Don Wetzel, berhasil mengembangkan mesin otomatis yang menjadi cikal bakal bagi ATM moderen, yang berbasis jaringan.

ATM

Wetzel mendapat ilham saat harus mengantre di bank. Dia ingin agar nasabah tidak perlu antre lama hanya untuk mengambil uang tunai dari petugas bank (teller). ATM kreasi Wetzel itu memulai debut di New York pada 1969 saat digunakan oleh Chemical Bank.

"Pada 2 September [1969], bank kami akan buka pukul 09:00 dan tidak akan pernah tutup lagi," demikian iklan Chemical Bank mengenai layanan baru mereka, seperti dikutip buku Popular Mechanics.

ATM itu baru bisa mengeluarkan uang dalam jumlah tertentu. Namun pada 1971 ATM mulai bisa menyediakan layanan tambahan, seperti informasi saldo rekening nasabah.

Kini jutaan ATM tersebar di penjuru dunia dan diperkirakan muncul satu unit baru setiap lima menit. ATM kini tidak hanya menjadi mesin penarik uang, namun juga menjadi fasilitas pembayaran banyak layanan, mulai dari membayar tagihan listrik hingga membeli pulsa telepon dan tiket pesawat.

Ayatullah Mahdavi Kani Menjadi Perdana Menteri

38 tahun yang lalu, tanggal 11 Shahrivar 1360 HS, Ayatullah Mahdavi Kani menjadi Perdana Menteri Republik Islam Iran.

Pasca ledakan di kantor perdana menteri Iran yang berakibat gugur syahidnya Rajai dan Bahonar, presiden dan perdana menteri Iran, untuk sementara Dewan Kepresidenan bertanggung jawab menjalankan urusan pemerintahan. Sekaitan dengan kondisi ini, Imam Khomeini ra menekankan agar segera dipilih pengganti dan diisinya pos yang ditinggal akibat kejadian tersebut.

Ayatullah Mahdavi Kani

Oleh karenanya, sejak tersebarnya berita ledakan itu langsung dimulai pembicaraan untuk menetapkan perdana menteri. Setelah berunding cukup alot dan lama, Dewan Kepresidenan mengusulkan kepada parlemen agar Ayatullah Mahdavi Kani yang waktu itu menjabat sebagai menteri dalam negeri di kabinet Syahid Rajai agar mengisi posisi perdana menteri.

Pada tanggal 11 Shahrivar 1360 HS, Ayatullah Mahdavi Kani terpilih sebagai perdana menteri dengan suara mayoritas 148 suara setuju dari 179 suara yang ada. Periode jabatan Ayatullah Mahdavi Kani sebagai perdana menteri berakhir pada bulan Mehr tahun itu juga dengan terpilihnya Ayatullah Khamenei sebagai Presiden Iran.

Ayatullah Mahdavi Kani meninggal dunia pada 29 Mehr 1393 HS dalam usia 83 tahun.