Okt 05, 2019 10:52 Asia/Jakarta
  • Lintasan Sejarah 5 Oktober 2019

Hari ini, Sabtu 5 Oktober 2019 bertepatan dengan 6 Shafar 1441 Hijriah atau menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 13 Shahrivar 1398 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi pada hari ini di masa lampau.

Quthbuddin Syirazi Lahir

807 tahun yang lalu, tanggal 6 Shafar 634 HQ, Quthbuddin Mahmud Syirazi, seorang astronom dan ilmuwan kedokteran dunia Islam terkenal terlahir di kota Syiraz, sebuah kawasan di selatan Iran.

Quthbuddin Syirazi mulai tertarik mempelajari ilmu-ilmu kedokteran sejak usia muda. Kemudian, bersamaan dengan kematian ayahnya yang juga seorang dokter, Syirazi berhasil menyelesaikan pendidikan dasarnya di bidang kedokteran. Ia kemudian bekerja di sebuah rumah sakit di kota kelahirannya.

Selama sepuluh tahun bekerja, Syirazi banyak menyempatkan waktunya untuk menelaah sejumlah kitab kedokteran klasik karya Ibnu Sina serta kitab-kitab filsafat dan keilmuan karya para ilmuwan terkenal masa itu. Setelah itu, ia mulai tertarik untuk mengembangkan pengetahuannya dengan cara belajar kepada sejumlah ilmuwan ternama zaman itu, seperti Khaja Nashiruddin Thusi, serta melakukan kunjungan ke sejumlah kawasan ilmu lainnya di Iran dan kawasan sekitar Timur Tengah.

Di antara karya penulisannya yang paling terkenal adalah kitab berjudul "Jami'ul Ushul" dan "Nihayatul Idrak fi Dirayatil Aflak". Quthbuddin Syirazi meninggal dunia pada tahun 710 Hijriah.

 

Imam Khomeini

Imam Khomeini Dipindahkan dari Turki ke Irak

54 tahun yang lalu, tanggal 13 Mehr 1344 HS, Imam Khomeini ra dipindahkan dari Turki ke Irak.

Kondisi krisis yang dialami Iran akibat berlanjutnya pengasingan Imam Khomeini dari satu sisi dan pemerintah Turki yang tidak ingin Imam dipenjara lebih lama di negaranya memaksa rezim Pahlevi untuk mengubah tempat pengasingannya. Oleh karenanya, dalam sebuah perundingan rahasia dengan pemerintah Irak disepakati pemindahan Imam ke Irak. Dalam perundingan itu Iran juga menyepakati tidak mencampuri nasib, pembebasan dan berapa lama tinggalnya Imam di Irak.

Imam Khomeini tiba di Irak pada 13 Mehr 1344 HS setelah tinggal selama 11 bulan di Turki. Sekalipun pada awalnya tidak ada yang mengetahui kedatangan Imam, tapi pada akhirnya beliau disambut hangat oleh ulama dan masyarakat Irak. Setelah beristirahat sebentar di Kazhemain, Imam Khomeini menuju Samarra untuk menziarahi makam suci Imam Hadi dan Askari as. Selama di sana, beliau mendapat sambutan hangat warga dan Hauzah Ilmiah.

Keesokan harinya, kota Karbala yang tahu akan dilewati Imam Khomeini telah terlebih dahulu menyiapkan diri untuk menyambut beliau. Imam tinggal di kota ini selama sepekan. Setelah itu Imam menuju kota Najaf dan di kota ini beliau juga mendapat sambutan luar biasa dari warga dan Hauzah Ilmiah.

Tujuan penting rezim Shah dari pemilihan Irak sebagai tempat pengasingan Imam, agar beliau tidak tidak mendapat perhatian lebih dikarenakan banyaknya ulama besar di sana. Dengan demikian, suara Imam Khomeini dapat ditekan, bahkan hilang selama di sana. Tapi Imam lebih memilih untuk melanjutkan perjuangannya dan mengelola revolusi dari Irak dengan cara yang lain, sehingga rezim Baath, Irak berusaha menekan beliau dan membatasi pergerakannya. Perlahan-lahan, sarana bagi keluarnya Imam dari negara ini semakin terpenuhi.

 

Slobodon Milosevic Dipecat

19 tahun yang lalu, tanggal 5 Oktober 2000, Slobodan Milosevic, diktator Yugoslavia, pelaku utama perang berdarah di Balkan, dipecat dari kekuasaannya.

Sebelumnya, selama berbulan-bulan, Milosevic mendapatkan protes dan penentangan dari dalam negeri dan dunia internasional. Pada masa perang Bosnia, Milosevic melindungi orang-orang Serbia di negara ini dan berperan utama dalam pembasmian etsnis Muslim Bosnia.

Setelah perang Kosovo, Milosevic dengan menggunakan berbagai cara, berusaha menggagalkan usaha-usaha untuk menumbangkan rezimnya. Usaha terakhirnya adalah mengubah undang-undang dasar negara dan mengadakan pemilihan presiden. Namun, dalam pemilu itu, Milosevic gagal terpilih kembali dan rakyat Serbia yang mendapat dukungan dari luar negeri, bangkit menentang Milosevic dan memaksanya untuk turun dari kursi kepresidenan. Pengganti Milosevic kemudian menyerahkannya ke pengadilan penjahat perang internasional di Belanda.