Lintasan Sejarah 20 Oktober 2019
Hari ini, Minggu 20 Oktober 2019 bertepatan dengan 21 Shafar 1441 Hijriah atau menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 28 Shahrivar 1398 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi pada hari ini di masa lampau
Kitab Miftahul Falah, Karya Syaikh Bahai Selesai Disusun
390 tahun yang lalu, tanggal 21 Shafar 1051 HQ, penulisan kitab Miftahul Falah selesai dikerjakan oleh Syaikh Bahai, seorang ilmuwan muslim terkemuka.
Penulisan ini dilakukan di kota Ganjeh yang terletak di kawasan Kaukasus. Penerjemahan kitab Miftahul Falah ke dalam bahasa Persia dilakukan oleh Shadraiy Tabrizi, seorang ahli hadis abad ke-11 Hijriah dan memberi nama kitab terjemahan itu dengan nama Adab-e Abasi.
Kitab Miftahul Falah terdiri dari enam bab yang berisi penjelasan mengenai amal-amal dan doa-doa di berbagai waktu dalam sehari semalam.
Perang Pasukan Turki Melawan Inggris, Perancis dan Rusia
192 tahun yang lalu, tanggal 20 Oktober 1827, sebuah perang berlangsung antara pasukan gabungan Perancis, Rusia, dan Inggris melawan pasukan Turki Ottoman.
Perang yang berlangsung di perairan utara laut Mediterania dan dalam rangka pembelaan pasukan gabungan terhadap Yunani itu berakhir dengan kekalahan telak pasukan Turki Ottoman. Disebutkan bahwa pasukan gabungan tiga negara berhasil menghancurkan 60 kapal serta menewaskan sekitar 6.000 tentara Turki.
Enam tahun sebelumya, yaitu pada tahun 1821, rakyat Yunani memulai perjuangan mereka untuk meraih kemerdekaan dari Turki. Upaya ini kemudian mendapatkan dukungan luas dari negara-negara Eropa. Akhirnya, setelah berlangsungnya perang tersebut, Yunani merdeka dari Turki pada tahun 1829.
Wafatnya Ayatullah Jafar Nezari Naghdi
69 tahun yang lalu, tanggal 28 Mehr 1329 HS Ayatullah Jafar Nezari Naghdi meninggal dunia dalam usia 64 tahun.
Ayatullah Sheikh Jafar Nezari Naghdi lahir ke dunia pada tahun 1265 HS. Sejak kecil beliau telah menunjukkan keseriusannya belajar. Pada awalnya Ayatullah Nezari mempelajari prinsip-prinsip membaca, tulisan Arab dan kemudian Persia. Pada usia 14 tahun beliau melanjutkan pendidikannya ke Hauzah Ilmiah Najaf.
Setelah menyelesaikan pendidikan tingkat Muqaddimah dan Sutuh (Dasar dan Tinggi), Ayatullah Nezari di kemudian mengikuti kuliah-kuliah terbuka Ayatullah Akhond Mulla Mohammad Kazem Khorasani, Sayid Mohammad Kazem Yazdi, Sheikh Ahmad Kasyif al-Ghitha dan para guru besar lainnya yang pada akhirnya mengantarkan beliau meraih derajat keilmuann yang tinggi.
Suatu ketika sejumlah orang dari al-Imarah, sebuah kawasan Syiah di Irak meminta kepada Ayatullah Yazdi, gurunya agar mengirimkan seorang mubalig ke daerah mereka. Gurunya ini kemudian memerintahkannya untuk berdakwah di daerah tersebut. Setelah tinggal dan berdakwah selama 10 tahun di daerah al-Imarah, Ayatullah Nezari diangkat menjadi anggota Pengadilan Agama Baghdad, namun tidak berapa lama beliau mengundurkan diri dari jabatan itu dan menyibukkan diri dengan mengajar, menulis dan menuntun masyarakat.
Ayatullah Nezari meninggalkan banyak karya ilmiah seperti al-anwar al-‘uluwiyah, al-Asrar al-Murtadhawiyah, al-Qawanin al-Manthiqiyah, syarah buku Syara'i al-Islam dan al-Ma'alim.