Lintasan Sejarah 25 Februari 2020
Bulan Suci Rajab
Hari ini merupakan hari pertama bulan Rajab, sebuah bulan yang dipenuhi oleh rahmat dan kemuliaan. Bulan Rajab dan dua bulan berikutnya, yaitu Sya'ban dan Ramadan adalah periode pembangunan jiwa agar mencapai kesempurnaan dan mendekati Tuhan.
Rasulullah Saw mengenai bulan Rajab ini pernah bersabda, "Bulan Rajab adalah bulan Allah yang besar dan bulan kemuliaan. Di dalam bulan ini perang dengan orang kafir diharamkan. Rajab adalah bulan Allah, Sya'ban adalah bulanku, dan Ramadan adalah bulan umatku."
Berpuasa di bulan Rajab sangatlah berpahala. Banyak riwayat yang menyebutkan besarnya pahala dan ampunan Tuhan pada bulan ini. Pada tanggal 27 Rajab, sebuah peristiwa besar terjadi, yaitu diangkatnya Muhammad Sawsebagai Rasul Allah Swt. Selain itu, pada tanggal 13 Rajab, Amirul Mukminin, Ali bin Abi Thalib as terlahir ke dunia.
Imam Muhammad Baqir as Lahir
1384 tahun yang lalu, tanggal 1 Rajab 57 HQ, Imam Muhammad Baqir as, keturunan Nabi Muhammad generasi kelima, terlahir ke dunia.
Imam Muhammad Baqir as dijuluki dengan nama Baqir yang bermakna "pemecah ilmu" karena beliau berhasil memecahkan dan menyelesaikan masalah serta kerumitan dalam berbagai bidang ilmu pada masa itu dengan penuh ketelitian dan kemampuan yang tinggi.
Periode keimamahan beliau, yaitu tahun 96 Hijriah, bertepatan dengan akhir masa kekuasaan Dinasti Umayah dan melemahnya kekuatan dinasti ini. Kesempatan ini digunakan oleh Imam Baqir untuk memperkuat pemikiran dan kebudayaan Islam. Pada masa keimamahan beliau dan putranya, Imam Jakfar Shadiq, banyak bidang keilmuan yang mencapai kegemilangannya dan murid kedua imam ini pun mengembangkan sebagian ilmu-ilmu tersebut dan menemukan cabang-cabang ilmu yang baru.
Di samping mengembangkan ilmu pengetahuan, Imam Baqir juga mengajarkan akhlak. Beliau amat menekankan sikap kebaikan, kedermawanan, dan kesediaan untuk mengunjungi orang sakit. Beliau bukan hanya mengajarkan akhlak, tetapi memberi teladan dengan amat sempurna mengenai akhlak Islami. Beliau pernah berkata, "Siapa saja yang memiliki akhlak baik, sifat bersahabat, dan moderat, akan mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat. Sebaliknya, mereka yang memiliki akhlak buruk, langkahnya akan membawanya ke arah keburukan."

Ayatullah Mir Mohammad Hossein Shahrastani Wafat
123 tahun yang lalu, tanggal 6 Isfand 1275 HS, Ayatullah Sayid Dhiya ad-Din Mir Mohammad Hossein bin Mir Mohammad Ali Shahrastani meninggal dunia dalam usia 57 tahun.
Ayatullah Shahrastani lahir di Kermanshah sekitar tahun 1218 HS dari keluarga ulama dan dari keturunan Marashi Mazandarani yang nasabnya bersambung kepada Imam Sajjad as.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasar dan lanjutan ilmu-ilmu keislaman, beliau mengikuti kuliah Sheikh Mohammad Hossein Ardekani di bidang fiqih dan ushul fiqih. Bertahun-tahun menimba ilmu kepada gurunya menyampaikannya kepada derajat ijtihad. Ayatullah Shahrastani juga menuntut ilmu astronomi kepada Mirza Bagher Yazdi dan matematika kepada Mirza Allam Haravi Hairi.
Ketika berusia 50 tahun, Ayatullah Shahrastani berziarah ke Mashad dan ketika kembali ke Tehran, beliau disambut masyarakat dan memintanya untuk mengajar di sebuah madrasah kota ini. Tapi tidak berapa lama beliau kembali ke Karbala untuk mengajar di sana, sekaligus menjadi marji tertinggi Syiah.
Beliau telah mulai menulis buku sejak usia 12 tahun dan hingga akhirnya sempat menghasilkan sekitar 80 karya tulis seperti al-Istishab, Asl al-Ushul, Tahqiq al-Adillah, Tadzkirah an-Nafs, Lubab al-Ijtihad dan lain-lain.

Pembunuhan di Makam Ibrahim oleh Zionis
26 tahun yang lalu, tanggal 25 Februari 1994, seorang warga Israel ekstrim membunuh massal kaum muslim Palestina yang sedang menunaikan salat di seputar kompleks makam Nabi Ibrahim di kota al-Khalil, Tepi Barat.
Sebanyak 29 warga Palestina gugur syahid dan sejumlah lainnya luka-luka akibat berondongan senjata dari orang Zionis itu. Teror yang terjadi di bulan Ramadhan itu menimbulkan kemarahan masyarakat Arab dan muslim, sampai-sampai, pemerintah negara-negara Arab terpaksa mengundurkan jadwal perundingan damai mereka dengan Tel Aviv.
Di Palestina sendiri, situasi menjadi memanas dan perlawanan bangsa Palestina semakin meningkat. Untuk meredam kemarahan warga Palestina, rezim Zionis menangkap pelaku teror itu dan mengadilinya. Namun pengadilan memutuskan bahwa pelaku teror itu mengalami gangguan jiwa sehingga dibebaskan dari hukuman.