Lintasan Sejarah 9 Agustus 2020
Hari ini, Minggu 9 Agustus 2020 bertepatan dengan 19 Dzulhijjah 1441 Hijriah atau menurut kalender nasional Iran, hari ini tanggal 19 Mordad 1399 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi hari ini.
Kelahiran Ayatullah Sayid Muhammad Thabathabai
183 tahun yang lalu, tanggal 19 Dzulhijjah 1258 HQ Ayatullah Sayid Muhammad Thabathabai lahir di Karbala (sebagian menyebut Tabriz sebagai tempat kelahirannya) dan dibawa ke Iran pada usia 2 tahun.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, Ayatollah Thabathabai belajar filsafat dan akhlak pada Mirza Abu al-Hassan Jelveh dan Sheikh Hadi Najm Abadi. Kemudian beliau pergi ke Najaf, Irak belajar kepada Mirza Shirazi.
Pasca peristiwa pengharaman tembakau oleh Mirza Bozourgh Shirazi, Allamah Thabathabai kembali ke Tehran dan mulai melakukan perjuangan politiknya lewat Revolusi Konstitusi. Ayatullah Sayid Muhammad Thabathabai merupakan ulama pejuang dan termasuk pemimpin utama Revolusi konstitusi.
Ayatullah Thabathabai bekerjasama dengan Ayatullah Sayid Abdullah Behbahani yang juga merupakan salah satu pemimpin revolusi ini berjuang melawan penindasan Dinasti Qajar. Ketika Ain al-Daulah menjadi Perdana Menteri Mozaffaredin Shah, tekanan terhadap para pejuang semakin keras. Alaeddin, Gubernur Tehran menangkap sejumlah pedagang dan mengikat mereka di kayu. Menyaksikan hal itu, kedua rohaniwan pejuang ini bersama-sama rakyat berlindung di kompleks makam suci Hazrat Abd al-Azhim di kota Rey dan melakukan aksi mogok di sana.
Aksi mogok ini menjadi cikal bakal Revolusi Konstitusi di Iran. Namun pasca ditutupnya parlemen oleh Muhammad Ali Shah Qajar, Ayatullah Sayid Abdullah Behbahani diasingkan dan Ayatullah Thabathabai ditahan di rumahnya.
Ayatullah Sayid Muhammad Thabathabai selain seorang pejuang di jalan Allah, juga seorang ulama. Oleh karenanya, beliau tidak pernah lupa mendidik murid. Akhirnya, setelah menanggung segala penderitaan dalam perjuangannya, ulama pejuang ini meninggal dunia pada usia 81 tahun dan dimakamkan di kompleks makam suci Hazrat Abd al-Azhim di kota Rey.
Pemboman Nagasaki
75 tahun yang lalu, tanggal 9 Agustus 1945, tiga hari selepas ledakan bom atom di Hiroshima, AS kembali menjatuhkan bom atomnya di Nagasaki atas perintah Presiden AS waktu itu, Harry Truman.
Dalam sekejap, kota pelabuhan itu luluh lantak dan 80.000 orang tewas seketika. Dampak bahan radioaktif bom tersebut juga menambah jumlah korban.
Tujuan AS dalam serangan bom ini adalah untuk mengalahkan Jepang secara total dan menunjukkan kekuatan AS di dunia. Meskipun akhirnya Jepang bertekuk lutut kepada Sekutu, namun bahaya bom atom ini masih ada karena negara-negara pemilik bom ini, terutama AS, tidak akan ragu-ragu mengulangi kejahatannya itu bila kepentingannya berada dalam bahaya.
Tim Pemantau PBB Tiba di Iran
32 tahun yang lalu, tanggal 19 Mordad 1367 HS, pasukan penjaga perdamaian PBB memasuki Tehran dan Baghdad setelah Iran menerima resolusi Dewan Keamanan PBB no. 598.
Iran dan Irak melakukan gencatan senjata pada 29 Mordad 1367 Hs.
Kemudian, Dewan Keamanan PBB meratifikasi resolusi no.619 pada 18 Mordad 1367 Hs. Berdasarkan ketentuan ini, PBB mengirimkan pasukan penjaga perdamaian di perbatasan Iran dan Irak yang berjumlah sekitar 400 orang dari 25 negara dunia.
Salah satu alasan yang dijadikan dalih oleh rezim Baath untuk menyerang Iran mengenai sengketa perbatasan yang telah ditetapkan pada perjanjian Aljazair tahun 1975.
Dalam perang yang tidak seimbang selama delapan tahun, rezim Baath yang merasa terancam eksistensinya meminta bantuan AS dan sekutunya. Lalu, Dewan Keamanan PBB turun tangan menyerukan supaya Irak dan Irak melakukan gencatan senjata dan berdamai.
Imam Khomeini dengan mempertimbangkan kemaslahatan umat Islam dan konspirasi Barat terutama AS untuk menumbangkan Republik Islam dan menghancurkan rakyat Iran, setelah melakukan konsultasi dengan panglima tinggi militer dan pemerintah akhirnya bersedia menerima resolusi Dewan Keamanan PBB no.598.
Republik Islam Iran setelah mempertimbangkan isi resolusi terutama mengenai poin pembayaran ganti rugi akibat perang oleh Irak bersedia menerima resolusi tersebut. Namun meski secara resmi telah menandatangani perjanjian gencatan senjata pada Agustus 1988, namun tetap saja rezim Baath melanjutkan penyerangan terhadap Iran.