Lintasan Sejarah 27 September 2020
-
27 September 2020
Hari ini, Ahad 27 September 2020 bertepatan dengan 9 Safar 1442 Hijriah atau menurut kalender nasional Iran tanggal 6 Mehr 1399 Hijriah Syamsiah. Berikut kami hadirkan beberapa peristiwa bersejarah yang terjadi hari ini.
Ammar bin Yasir Gugur
1405 tahun yang lalu, tanggal 9 Shafar 37 HQ, Ammar bin Yasir, seorang sahabat besar Rasulullah Saw dan pengikut setia Ahlul Bait Nabi, gugur dalam perang Shiffin pada usia 94 tahun.
Ammar bin Yasir lahir 57 tahun sebelum peristiwa hijrahnya Rasulullah. Kedua orang tuanya, yaitu Yasir dan Sumayah, adalah dua sahabat Rasulullah yang gugur syahid di awal perjuangan menegakkan agama Islam.
Gugurnya Ammar bin Yasir dalam perang Shiffin tersebut sangat menyedihkan Imam Ali as. Akan tetapi, peristiwa ini dicatat oleh para sejarawan sebagai bukti bahwa Imam Ali berada di pihak yang benar dalam perangnya melawan pasukan Muawiyah tersebut.
Sebelumnya, dalam sebuah haditsnya yang terkenal, Rasulullah Saw pernah berkata kepada Ammar sebagai berikut, "Wahai Ammar! Anak-anakku kelak akan didera banyak fitnah. Jika situasi itu kelak engkau saksikan, tetaplah engkau pada kelompok Ali. Karena kebenaran akan selalu bersama Ali, dan Ali selalu berada di jalan yang benar. Wahai Ammar! Engkau nanti akan bertempur membela Ali melawan dua kelompok. Kelompok pertama adalah para pelanggar janji, kelompok kedua adalah para penjahat. Engkau nanti akan terbunuh oleh kelompok yang melawan Ali tersebut."
Resolusi PBB Pertama Soal Perang Irak-Iran
40 tahun yang lalu, tanggal 6 Mehr 1359 HS, PBB mengeluarkan resolusi pertama soal perang Irak-Iran.
Pada tanggal 3 Mehr 1359 HS, tiga hari pasca dimulainya perang yang dipaksakanan Irak terhadap Iran, Sekjen PBB menginformasikan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa sekalipun telah ada upaya untuk menghentikan agresi Irak, tapi perang antara Irak dan Iran di darat, laut dan udara masih terus berlanjut. Perang ini telah menimbulkan kerugian tidak hanya materi tapi juga jiwa. Oleh karenanya, Sekjen PBB mengusulkan agar DK-PBB segera menindaklanjuti masalah ini.
Akhirnya DK-PBB mengadakan sidang darurat dimulai dari tanggal 4 Mehr hingga 6 Mehr dan usulan dikeluarkannya resolusi diterima secara aklamsi oleh anggota DK-PBB. Resolusi 479 DK-PBB menjadi resolusi pertama akhirnya dikeluarkan pada 6 Mehr 1359 HS soal perang Irak dan Iran. Dalam resolusi ini, selain menyatakan kekhawatiran yang mendalam soal kondisi perang yang semakin meluas, kepada kedua negara diminta untuk menyelesaikan masalahnya lewat jalur diplomasi yang sesuai dengan prinsip-prinsip keadilan dan hukum internasional.
Sekaitan dengan dikeluarkannya resolusi ini, Iran menjelaskan bahwa Irak berulang kali melakukan pelanggaraan atas perjanjian 1975 Aljazair dan negara ini tampaknya justru berusaha meningkatkan agresinya terhadap Iran. Di sisi lain, Iran menyatakan bahwa agresi Irak ke daerah-daerah Iran merupakan pelanggaran dan untuk itu, Iran berkewajiban untuk membela kedaulatannya. Iran juga menyatakan bahwa selama Irak melanggar kedaulatan Iran, maka resolusi DK-PBB itu tidak dapat diterima oleh Iran. Sementara perundingan baik langsung maupun tidak juga tidak bermanfaat, bila pelanggaran masih terus dilakukan oleh pihak Irak.
Resolusi 479 tidak menyebutkan sama sekali siapa pemicu perang dan kedua pihak; Iran dan Irak disebutkan secara sejajar. Oleh karenanya, Iran menyebut resolusi itu sangat tidak adil dan zalim terkait agresi Irak terhadap Iran.
Taliban Menguasai Kabul
24 tahun yang lalu, tanggal 27 September 1996, kelompok Taliban berhasil menguasai Kabul, ibu kota Afghanistan.
Kelompok ini dibentuk tahun 1994 dengan dukungan AS. Pemerintah Pakistan juga turut memberikan bantuan militer dan politik kepada organisasi itu. Perlahan namun pasti, Taliban awalnya berhasil menguasai kawasan selatan dan barat Afghanistan. Setelah itu, mereka bergerak menuju Kabul yang terletak di timur Afghanistan. Sehari sebelum jatuhnya Kabul, pasukan pemerintah di bawah komando Ahmad Shah Masoud meninggalkan Kabul.
Setelah berhasil menguasai Kabul, Taliban, dengan segala kedangkalan pemahaman atas hukum-hukum Islamnya, memberlakukan peraturan yang luar biasa ketat atas warga Afghanistan, terutama kaum wanitanya. Rakyat Afghanistan dipaksa kembali menjalani kehidupan abad pertengahan.
Berbagai langkah keras dan kasar tersebut telah membuat rakyat Afghanistan membenci Taliban.
Kemudian, pada bulan Oktober 2001, pasukan AS dan Front Aliansi Utara melakukan penyerangan ke Kabul. Rezim Taliban dengan cepat jatuh dan terusir dari Kabul. Hanya dalam waktu beberapa hari, seluruh wilayah Afghanistan yang tadinya dikuasai kelompok Taliban berhasil dibebaskan.