Lintas Warta 12 Desember 2020
Tegang dengan Uni Eropa, Turki Dibela NATO
Pertemuan pejabat tinggi Uni Eropa yang berlangsung selama dua hari digelar pada Kamis (10/12/2020) di Brussels. Pada pertemuan itu, para petinggi Eropa memutuskan untuk menjatuhkan sanksi lebih besar kepada Turki, buntut aktivitas eksplorasi energi Ankara di timur Laut Mediterania.
Petinggi negara-negara Uni Eropa pada Oktober 2020 sudah memperingatkan Turki, jika terus melanjutkan aktivitas eksplorasi di perairan sengketa, di timur Laut Mediterania, ia akan menerima konsekuensi serius.
Pada bulan November 2020, Turki untuk sementara menghentikan aktivitas eksplorasinya di timur Laut Mediterania, dan menarik kapal-kapalnya dari wilayah sengketa untuk menurunkan eskalasi ketegangan. Namun tidak lama kemudian Turki memulai kembali aktivitasnya.
Hubungan Uni Eropa dan Turki pasca kudeta Juni 2016, selalu diwarnai ketegangan, dan konflik sehingga membuat nasib keanggotaan Ankara di Uni Eropa terus terkatung-katung.
Uni Eropa menggunakan strategi yang memprotes kebijakan dalam negeri Turki, dan berusaha mengubah sistem politik di negara itu melalui parlemen, dan dalam dua tahun terakhir sejumlah pemicu konflik baru seperti intervensi militer Turki di utara Suriah, dan Libya, semakin memperburuk hubungan dua pihak.
Aktivitas eksplorasi energi Turki di timur Laut Mediterania, dan Laut Aegea selama dua tahun ke belakang, diprotes keras oleh Siprus, dan Yunani yang keduanya merupakan anggota Uni Eropa di selatan benua ini. Pasalnya eksplorasi tersebut dilakukan di zona ekonomi eksklusif kedua negara itu.
Uni Eropa bersikap tegas berkenaan dengan sengketa wilayah ini dan mendukung Yunani serta Siprus. Ia mengancam, jika Turki terus melakukan eksplorasi di wilayah ZEE Yunani dan Siprus, maka Ankara akan dijatuhi sanksi luas.