Suriah dan Perang Media Barat
Perang Suriah pecah pada Maret 2011 dan sejauh ini telah menewaskan lebih dari 400 ribu orang. Krisis ini menciptakan gelombang eksodus terbesar dalam sejarah pengungsian dunia. Lebih dari setengah dari total 22 juta penduduk Suriah telah meninggalkan rumah-rumah mereka dan lebih dari 5 juta orang mengungsi ke negara-negara lain.
Satu tahun setelah pecahnya konflik di Suriah, kelompok-kelompok bersenjata penentang pemerintah melancarkan serangan dan menduduki beberapa daerah di kota Aleppo. Beberapa bulan kemudian, pasukan Takfiri juga mengobarkan perang dan merebut bagian tertentu dari Aleppo. Mereka adalah anasir yang berafiliasi dengan Al Qaeda atau yang dikenal kelompok teroris Front al-Nusra.
Pada musim semi tahun 2012, bencana besar menimpa kota itu dan kelompok teroris Daesh menduduki sejumlah daerah di Suriah, termasuk sebagian besar Aleppo. Dari sini sejarah kehancuran Aleppo mulai ditulis. Selama empat tahun, kendali kota Aleppo selalu berpindah tangan di antara berbagai kekuatan yang beradu kekuatan di sana. Saat ini hanya puing-puing reruntuhan yang tersisa dari kota bersejarah, Aleppo.
Perang di Aleppo menelantarkan setengah dari total 3 juta penduduk di kota itu dan lebih dari 30 ribu orang menjemput ajalnya. Namun, pembebasan Aleppo merupakan sebuah pukulan telak bagi Barat dan sekutunya, dan mereka kemudian meluncurkan perang propaganda terhadap pasukan perlawanan dan secara khusus Iran. Media dari negara-negara pendukung teroris di Timur Tengah dan Barat memulai perang psikologis dan mengarahkan opini publik untuk menyudutkan militer dan pasukan relawan rakyat Suriah dalam menumpas teroris.
Media-media mainstream berusaha mengesankan bahwa kehancuran di Suriah disebabkan oleh Iran dan poros perlawanan. Ketika Aleppo terisolasi, kekuatan-kekuatan arogan dan media mainstream mengangkat isu pelanggaran hak asasi manusia demi menyelamatkan teroris. Dan ketika Aleppo dibebaskan, mereka juga bersuara lantang untuk menyerang Iran dan poros perlawanan.
Di tengah operasi pembebasan Aleppo, lembaga-lembaga propaganda dan media-media pendukung teroris menerjunkan tim ahli untuk menyebarkan laporan palsu dan gambar-gambar hoax. Mereka mengesankan bahwa militer Suriah dan sekutunya sedang melakukan pembantaian massal dan kejahatan anti-kemanusiaan di timur Aleppo.
Corong propaganda milik beberapa rezim Arab menyerahkan gambar hoax, laporan palsu, dan video-video rekayasa tentang kejahatan perang Suriah di Aleppo kepada kantor berita dan stasiun televisi Barat. Penayangan produk-produk rekayasa ini bertujuan menyulut perang sektarian dengan alasan kemanusiaan. Sejumlah media Barat juga memainkan peran sebagai sponsor teroris. Pasca pembebasan Aleppo, mereka melancarkan propaganda dan klaim-klaim tentang pelanggaran HAM di Aleppo untuk merusak citra pemerintah Suriah dan sekutunya.
Seorang jurnalis Kanada, Eva Bartlett dalam konferensi pers pada 9 Desember 2016, menyingkap kebohongan media-media Barat di Suriah. Menurutnya, jika realitas di Suriah dipublikasikan, maka situasi tidak akan seburuk ini. Dalam konferensi pers di PBB, Bartlett mengatakan, "Media-media utama Barat yang meliput peristiwa di Suriah, tidak kredibel. Saya sudah sering ke Homs, Maaloula, Latakia, dan Tartus, dan juga empat kali ke Aleppo. Rakyat Suriah mendukung pemerintahannya dan ini adalah fakta. Apa pun yang kalian dengar dari media-media Barat justru kebalikannya."
"Apa yang kalian dengar dari media-media Barat, saya akan sebutkan BBC, The Guardian, The New York Times dan lain-lain tentang apa yang terjadi di Aleppo adalah bertolak belakang dengan kenyataan yang sebenarnya," tegas Bartlett. Ia menambahkan bahwa Organisasi Helm Putih yang disebut memiliki tujuan menyelamatkan warga sipil di timur Aleppo dan Idlib, tapi faktanya, tidak seorang pun warga di timur Aleppo pernah mendengar nama mereka.
Bahkan, lanjut Bartlett, perihal cuplikan video yang mereka buat, ialah anak-anak yang sudah beberapa kali muncul dalam sejumlah laporan lain. Ia menjelaskan, “Seorang bocah perempuan bernama Aya muncul dalam sebuah video di bulan Agustus, lalu dia muncul lagi di bulan berikutnya dalam sebuah laporan lain di lokasi berbeda. Oleh karena itu, Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah (SOHR) tidak dapat dipercaya begitu pula dengan Organisasi Helm Putih, yang tidak dikenal warga Aleppo.
Jurnalis Kanada ini lebih lanjut menegaskan, "Jika media-media Barat memberitakan hal yang sebenarnya di Suriah sejak awal, maka kita tidak akan ada di sini membahas ini sekarang. Kita tidak akan melihat begitu banyak korban tewas.”
Sejak awal pecahnya gelombang Kebangkitan Islam di kawasan, Barat melakukan banyak upaya untuk mengarahkan kebangkitan itu sesuai dengan kepentingan mereka. Para politisi Barat mengerahkan segala upaya untuk membajak gerakan Kebangkitan Islam, yang bertujuan menumbangkan rezim-rezim boneka Barat di kawasan. Barat kadang mencoba mengesankan kepada publik dunia bahwa gerakan tersebut emang sesuai dengan harapan mereka.
Selain mengerahkan upaya dan mengucurkan dana oleh para politisi, media-media Barat juga memainkan peran penting untuk menyokong upaya itu. Kebijakan negara-negara Barat terkait perkembangan di kawasan gencar disuarakan oleh media-media mereka. Sejauh ini, Barat dengan memanfaatkan korporasi media telah memutarbalikkan fakta tentang transformasi di kawasan. Sejumlah media terutama saluran televisi juga menggunakan berbagai taktik untuk menyudutkan negara tertentu di Timur Tengah.
Menariknya, media-media mainstream menggunakan taktik khusus yang sejalan dengan kebijakan pemerintah negara-negara Barat dalam menyerang sebuah negara. Meskipun mereka mengaku independen dan tidak terikat dengan politisi, tapi dalam peliputannya mereka benar-benar berada di bawah dikte pemerintah.
Sejak awal munculnya krisis Suriah, media-media Barat, Arab, dan Ibrani secara kompak mengerahkan semua sarananya untuk tidak hanya memberitakan konflik Suriah, tapi juga secara terang-terangan memutarbalikkan fakta di negara itu. Dengan memanfaatkan kemajuan teknologi, mereka membesar-besarkan sebuah riyak kecil dan mewartakan bahwa jumlah pendemo sangat besar.
Pada saat kelompok-kelompok Takfiri menggunakan senjata kimia untuk menyerang warga sipil, media-media mainstream justru mengarahkan kameranya ke arah pemerintah Damaskus dan melancarkan perang psikologis. Mereka menayangkan gambar anak-anak dan perempuan korban senjata kimia kelompok Takfiri, dan kemudian menuding pemerintah Suriah sebagai pelaku.
Sayangnya, lembaga-lembaga internasional besikap pasif dan mengikuti dikte kekuatan-kekuatan Barat. Di Timur Tengah, Arab Saudi membangun jaringan media yang luas di Suriah dengan meluncurkan berbagai jaringan televisi, radio, dan situs-situs berita. Sumber berita mereka dipasok dari satu dapur dan bertujuan mempengaruhi opini publik dunia serta merusak citra pemerintah Suriah.
Sejumlah penelitian tentang cara kerja televisi BBC Arab, Sky News, al-Arabia, dan al-Jazeera dalam meliput krisis Suriah, menunjukkan bahwa kerjasama antara media Barat, Arab, dan Ibrani telah terbentuk untuk pertama kalinya di dunia.
Dalam hal ini, situs UK Peace dalam sebuah ulasan tentang Suriah, mengkritik kebijakan Barat terhadap negara itu. Front Barat – seperti yang mereka lalukan di Libya – dengan kebijakan peliputan sepihak tentang Suriah, memprovokasi konflik ke arah perang saudara dan pada akhirnya mendorong negara-negara asing untuk menyerang Suriah. Media Barat menyajikan informasi kepada konsumen sesuai dengan kebijakan tersebut, tanpa pernah memperhatikan sumber berita atau kebenarannya.
Seorang wartawan BBC di laman Facebooknya menulis, "Kami berada di salah satu negara Arab untuk mengikuti latihan berkelompok yang diikuti oleh para wartawan kantor berita resmi. Saya kemudian berdiskusi dengan seorang jurnalis perempuan tentang hal-hal yang berhubungan dengan sumber berita. Ia berkata kepada saya, 'Selama ini kami diperintah untuk menjadikan Lembaga Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah – milik oposisi dan bermarkas di Inggris – sebagai sumber utama berita Suriah. Namun, sekarang ada perintah baru bahwa satu-satunya sumber yang bisa kami rujuk adalah Kantor Berita Resmi Suriah (SANA) dan dilarang keras merujuk ke semua sumber milik oposisi.'"
Tren ini menunjukkan bahwa media-media Barat dan Arab tidak ingin kehilangan reputasinya di tengah konsumen, setelah militer Suriah meraih banyak kemajuan dan juga ada kemungkinan kota Mosul di Irak akan bebas dalam waktu dekat.