Bulan Perjamuan Tuhan (2)
https://parstoday.ir/id/radio/west_asia-i57032-bulan_perjamuan_tuhan_(2)
Bulan suci Ramadhan adalah bulan perjamuan Tuhan. Perjamuan dengan segala keindahan dan kenikmatannya ini sebagaimana perjamuan-perjamuan yang lain, waktunya terbatas sehingga kita tidak boleh menyia-nyiakan dan harus memanfaatkan semaksimal mungkin kesempatan yang terbatas ini. Di hari pertama bulan Ramadhan ini, akan disinggung khutbah Nabi Muhammad Saw menyambut Ramadhan atau khutbah Sya'baniyah.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
May 18, 2018 09:28 Asia/Jakarta

Bulan suci Ramadhan adalah bulan perjamuan Tuhan. Perjamuan dengan segala keindahan dan kenikmatannya ini sebagaimana perjamuan-perjamuan yang lain, waktunya terbatas sehingga kita tidak boleh menyia-nyiakan dan harus memanfaatkan semaksimal mungkin kesempatan yang terbatas ini. Di hari pertama bulan Ramadhan ini, akan disinggung khutbah Nabi Muhammad Saw menyambut Ramadhan atau khutbah Sya'baniyah.

Rasulullah Saw menyeru kita, wahai umat manusia, bulan Tuhan yang penuh dengan keberkahan, rahmat dan pengampunan untuk kalian telah tiba dan di dalamnya kalian diundang ke perjamuan Tuhan dan mendapat limpahan kemuliaan-Nya.

Benar bahwa Tuhan Maha Pengasih memiliki sebuah kota yang setiap tahun selalu menjadi tempat untuk menjamu tamu-tamunya di waktu tertentu dengan kapasitas tak terbatas. Ruang perjamuan yang megah dan agung, dan semua orang yang ada di dalamnya, dikelilingi para malaikat yang bertawaf.

Di seluruh penjuru kota yang luasnya bisa menampung semua makhluk Tuhan ini, ditemukan jejak-jejak langkah para nabi dan wali Allah Swt. Lorong-lorong kota ini semuanya berujung kepada Tuhan. Sekalipun kota ini sangat besar dan luas, namun jalan-jalannya pendek dan setiap perjalanan dapat ditempuh dalam waktu singkat. Lorong-lorong taman kota meski kuno namun tidak usang.  

Bulan Ramadhan

Lorong-lorong kota itu sangat bersih dan dihiasi dengan pepohonan hijau yang kerindangannya menaungi setiap pejalan kaki, tapi tidak gelap, semata-mata untuk menjamu tamu-tamu Tuhan. Di tengah setiap lorong, terdapat sebuah rumah dari rumah-rumah para wali Tuhan yang dari dalamnya terdengar lantunan indah ayat-ayat suci Al Quran sehingga menarik perhatian semua orang.

Seolah terdengar suara merdu Nabi Muhammad Saw melantunkan Surat Al Baqarah ayat 185,

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِّنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَن شَهِدَ مِنكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَن كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّـهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّـهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur."

Di perjamuan ini, ribuan malaikat Ilahi sibuk menjamu tamu-tamu Tuhan. Sembari berdzikir, mereka menyambut setiap tamu dengan pandangan penuh kasih. Terkadang tangan lembut mereka dilambaikan untuk mengundang para tamu, dan terkadang diangkat untuk mendoakan para tamu. Lalu Tuhanpun dengan keridhaan-Nya mengabulkan seluruh permintaan mereka untuk hamba-hamba-Nya.

Sekelompok malaikat membentangkan alas perjamuan yang dipenuhi oleh makanan surga, sementara kelompok lainnya menyiapkan sejadah untuk beribadah para hamba Tuhan. Sejumlah malaikat turun dari langit membawa rahasia untuk para ahli makrifat, yang lainnya menyampaikan hajat para pecinta kepada Tuhannya.

Mereka tidak lain adalah para malaikat yang disebut dalam khutbah Rasulullah Saw, di bulan Ramadhan, Allah Swt menugaskan sejumlah malaikat untuk mendoakan setiap orang yang berpuasa dan doa ini adalah permohonan untuk mendapat kebaikan dan kemaslahatan dari Tuhan.

Sebagian malaikat bertugas menjaga tamu-tamu Tuhan di bulan ini. Mereka menutup jalan bagi setan dan para pengikutnya yang ingin masuk ke perjamuan agung ini. Dengan demikian para tamu undangan Tuhan dapat bermunajat dengan Tuhannya dalam suasana tenang seorang diri.

Bulan Ramadhan

Sehingga pada akhirnya mereka terlepas dari keburukan setan dan jatuh ke pangkuan kasih sayang Tuhan dengan ketenangan penuh. Para penjaga tamu-tamu Tuhan itu, siang dan malam melindungi setiap orang dan menyibak kegelapan dari pandangan mereka, dan mengiringi seluruh perjalanannya.

Kota Tuhan yang rumah-rumah bercahayanya merupakan tempat turunnya Al Quran, juga merupakan tempat naiknya doa-doa dan munajat para kekasih Tuhan. Al Quran tumbuh di hati orang-orang yang khusyu. Lantunan ayat-ayat surat-surat Al Quran tidak menganggu keheningan perenungan ayat-ayatnya dan ketelitian pembacaannya. Pembacaan Al Quran membawa ketawadhuan dan tidak membuat seseorang menjadi sombong.

Air mata cinta tidak pernah mengugurkan kelezatan rintihan harapan, dan pemahaman rasional tidak pernah bisa menyembuhkan sakit karena cinta. Dengan bantuan Al Quran, sebuah kitab yang merupakan mizan itu, akan muncul keseimbangan di hati para penduduk kota.   

Di malam-malam bulan Ramadhan, kunci-kunci rahasia dan kebutuhan, terbuka, dan hati orang-orang yang menghidupkan malam, terbebas, dan pintu-pintu cahaya Tuhan memancarkan sinar pengampunan kepada tamu-tamu-Nya. Malam-malam bulan ini lebih terang dari siang dan siangnya lebih tenang dari malamnya. Tidur ringan di malam bulan Ramadhan membawa kenyamanan yang luar biasa di siang hari dan mimpi indah di malam hari, terwujud di siang hari.

Para tamu Tuhan tidak pernah merasa terasing. Tempat tinggal mereka sudah ditentukan sebelumnya, dan masing-masing memiliki kedudukan tersendiri. Sebagian dari mereka sebagaimana biasanya, tidak berjarak dengan Tuhan. Sementara sebagian lainnya, sedikit berjarak.

Akan tetapi yang penting adalah di manapun mereka tinggal, mereka merasakan dengan baik kehadiran Tuhan. Mereka mengangkat tangannya memohon kepada Tuhan, namun mereka merasakan Tuhan lebih dekat dari sebelumnya dan sangat mendambakan pertemuannya dengan-Nya. 

Rasa haus dan lapar di dalam perjamuan ini memiliki cita rasa berbeda. Para tamu dijanjikan akan terbebas dari dahaga langsung oleh Tuhan jika mereka bisa menjaga mulutnya dari air minum dan tubuhnya dari makanan.

Suasana penuh cinta dan penyerahan diri, ketabahan menahan kesulitan, tubuh lemah dan lunglai mereka, sungguh merupakan pemandangan indah. Hanya di kota inilah hakikat dunia dapat dipahami dan kelezatan akhirat dirasakan. Di sini kita bisa memahami bahwa semakin sedikit menikmati kelezatan dunia, maka kita akan semakin besar mendapat kenikmatan akhirat.

Para tamu Tuhan di setiap shalatnya merasa seolah-olah itu adalah rahasia dan munajat terakhirnya, dan seakan waktu terakhir bertemu dengan-Nya. Setiap kali ia mendapatkan kesempatan untuk bermunajat, begitu bersemangatnya ia, seolah untuk pertama kalinya bersimpuh di hadapan Tuhan.

Salah satu ciri khas munajat mereka di bulan Ramadhan ini adalah, bahwa mereka tidak pernah memahami apa sebenarnya yang menyebabkan mereka berbicara dengan Tuhan dan menangis, apakah karena cinta kepada Tuhan atau karena khusyu dan takut pada-Nya.

Bulan Ramadhan

Meski takut kepada Tuhan, namun tidak pernah sekalipun menjauh dari-Nya. Meski setiap saat melangkah ke arah-Nya dan sampai kepada-Nya, namun langkah ini tidak pernah berujung. Mereka beribadah dan mentaati Tuhan sedemikian rupa sehingga seolah ia menghabiskan umurnya dalam kesendirian dan sekarang ingin menebus semuanya.

Wangi surga memenuhi seluruh sudut kota ini. Para penduduk meski keras pada dirinya, namun lembut pada orang lain. Terkadang orang salah mengira bahwa mereka adalah para malaikat Tuhan yang ditugasi untuk melayani para tamu. Seolah mereka berhutang kepada semua dan tidak menginginkan apapun dari Tuhan.

Semakin mereka merasa lapar, semakin giat upaya mereka untuk mengenyangkan orang lain, dan saat kenyang, mereka merasa malu di hadapan orang. Meski mereka adalah tamu, namun ketika orang datang bertamu, mereka merasa sangat bahagia dan merasa nikmat saat menjamu orang lain.

Selalu tersenyum dan bersikap lembut kepada sesama, tapi selalu keras terhadap diri sendiri. Mereka adalah perwujudan dari ayat 8-9 Surat Al Insan,

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا ﴿٨﴾ إِنَّمَا نُطْعِمُكُمْ لِوَجْهِ اللَّـهِ لَا نُرِيدُ مِنكُمْ جَزَاءً وَلَا شُكُورًا

"Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim dan orang yang ditawan. Sesungguhnya kami memberi makanan kepadamu hanyalah untuk mengharapkan keridhaan Allah, kami tidak menghendaki balasan dari kamu dan tidak pula (ucapan) terima kasih."

Karena seluruh hadiah dari kota ini dan bulan Tuhan yang dihadiahkan kepada kita, maka kita harus mencium Ramadhan dan menghirup aroma bunganya. Kita harus menerangi wujud kita dengan cahayanya dan dengan bantuannya, kita menemukan jalan Tuhan. Ramadhan layaknya Rumah Tuhan, sebelum masuk kita harus meminta izin kepada pemiliknya.