Bulan Perjamuan Tuhan (3)
https://parstoday.ir/id/radio/west_asia-i57090-bulan_perjamuan_tuhan_(3)
Sepanjang sejarah, para nabi Tuhan selalu menyampaikan seruan Ilahi kepada umat manusia untuk melangkah menuju kebahagiaan abadi. Dalam Surat Nuh ayat 5, Nabi Nuh as berkata,
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
May 19, 2018 08:40 Asia/Jakarta

Sepanjang sejarah, para nabi Tuhan selalu menyampaikan seruan Ilahi kepada umat manusia untuk melangkah menuju kebahagiaan abadi. Dalam Surat Nuh ayat 5, Nabi Nuh as berkata,

قَالَ رَبِّ إِنِّي دَعَوْتُ قَوْمِي لَيْلًا وَنَهَارًا

"Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang"

Begitu pula rantai terakhir dari silsilah kenabian Ilahi di muka bumi yaitu Nabi Muhammad Saw juga demikian, beliau ditugasi untuk menyampaikan risalahnya mengajak umat manusia kepada Tuhan.

Dalam Surat Yusuf ayat 108, Allah Swt berfirman,

قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّـهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّـهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

"Katakanlah: "Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik".

Bulan Ramadhan

Seruan Tuhan mempunyai ciri khas tersendiri yang membedakannya dengan seruan-seruan lain. Inti dari seruan ini adalah hikmah dan perkataan yang baik, sebagaimana dijelaskan dalam Surat An Nahl ayat 125,

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk."

Maka saat Rasulullah Saw hendak menyampaikan seruan pertamanya setelah melakukan dakwah secara tersembunyi, beliau naik ke atas bukit Shafa dan berseru dengan suara lantang, Wahai umat manusia katakanlah tidak ada Tuhan kecuali Tuhan yang Esa sehingga kalian memperoleh kemenangan.

Apa yang dimaksud dengan kemenangan itu dan bagaimana cara meraihnya ? kemenangan diartikan sebagai kebaikan dan keselamatan mencapai tujuan dan harapan. Orang-orang yang ingin meraih kemenangan dan berharap sampai ke tujuan, pertama harus mempersiapkan semua yang diperlukan.

Kemenangan memerlukan perjuangan yang terkadang hanya sementara dan memposisikan manusia di bawah ancaman bahaya. Faktor-faktor yang menyebabkan kemenangan, masing-masing adalah anak tangga yang membawa manusia ke tujuan, saling melengkapi dan berujung pada sebuah tujuan.

Jalan menuju kemenangan ini sangat bergantung pada seruan ikhlas Nabi Muhammad Saw yang disampaikannya di setiap sudut kota Mekah dan menyentuh fitrah umat manusia, dan Al Quran mengabarkannya dengan cara khusus. Di awal Surah Al Mukminun disebutkan,  قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ.

Sesungguhnya Mukmin akan meraih kemenangan. Oleh karena itu, ayat ini menjelaskan bahwa saat manusia beriman kepada Tuhan dan janji-janji-Nya, maka otomatis ia melangkah di jalan kemenangan, meski mungkin saja di jalan ini ia harus berhadapan dengan bahaya.

Di ayat lain, tazkiyatun nafs (penyucian diri) diperkenalkan sebagai salah satu faktor yang menentukan agar manusia bisa meraih kemenangan. Di Surat As Syams, Allah Swt setelah menyampaikan 11 sumpah-Nya berfirman,

قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا ﴿٩﴾ وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا

"Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, (9) dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya."

Tazkiyah dalam istilah akhlak dan irfan adalah penyucian dan pembersihan jiwa dari keburukan dan kekotoran-kekotoran akhlak demi melangkah menuju keutamaan yang pada akhirnya akan berujung pada kesempurnaan dan kebahagiaan hakiki di dunia dan akhirat.

Bulan Ramadhan

Dalam pandangan Al Quran, jiwa manusia pada awalnya seperti kertas putih dan kosong yang bisa diisi apapun, keutamaan akhlak dan kesempurnaan atau keburukan serta kekotoran akhlak, keduanya bergantung pada ikhtiar dan kehendak bebas manusia.

Orang-orang yang mendidik dirinya untuk mensucikan jiwa dari keburukan, mempelajari tata cara menjadi manusia sejati dan melangkah menuju kebahagiaan abadi yaitu Tuhan, adalah orang-orang yang akan meraih kemenangan.

Dengan kata lain, mengarahkan tujuan hidup dan memperbaiki kencenderungan diri dengan memperhatikan ridha Tuhan, adalah upaya membangun diri, bukan menghentikan aktivitas sosial dan beruzlah serta mengasingkan diri dari masyarakat lalu berharap bisa sampai kepada Tuhan.

Buah dari tazkiyatun nafs dan pengembangan diri adalah penghambaan Tuhan. Penghambaan kepada Allah Swt adalah bukti kekhusyuan di hadapan Penguasa Mutlak semesta dengan kesadaran, dan maknanya jauh lebih luas dari ibadah.

Melaksanakan atau meninggalkan segala perbuatan atas dasar kehendak bebas dan kesadaran untuk meraih ridha Allah Swt, berarti berada di bawah naungan penghambaan. Setiap manusia diseru untuk melaksanakan shalat dan berpuasa sebagai jalan menuju kemenangan dan takwa, karena penghambaan yang terdapat di dalamnya, memberikan arah kepada aktivitas ibadah lainnya.

Penghambaan selalu beriringan dengan mengingat dan dzikir Tuhan, karena itu mengingat Tuhan merupakan salah satu cara untuk meraih kemenangan. Allah Swt berfirman dalam Surat Jum'at ayat 10,

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّـهِ وَاذْكُرُوا اللَّـهَ كَثِيرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung."

Orang-orang yang selalu mengingat Tuhan, memahami bahwa terbiasanya lidah dan hati manusia mengucapkan Asmaul Husna, merupakan salah satu perwujudan terindah dari hubungan cinta dengan Tuhan dan jalan paling asasi untuk menuju kepada-Nya.

Ruh dan jiwa ceria jika manusia selalu mengingat Tuhan dan mencapai kesucian, kesadaran, kebahagiaan dan cinta. Allah Swt menyebut dzikir kepada-Nya menyebabkan hati bercahaya dan sadar.

Bulan Ramadhan

Matinya hati dan depresi telah menyeret manusia ke dalam kegelapan, sehingga Imam Ali as dalam peerjalanan pertamanya bersama Imam Hassan as menasihati putranya itu untuk lebih menyuburkan hati.

Imam Ali berkata, anakku sayang, aku menasihati engkau untuk bertakwa dan mematuhi perintah Tuhan, menyuburkan hati dan jiwa dengan berdzikir kepada-Nya dan memegang erat tali Allah Swt. Allamah Thababai dalam tafsir ayat Al Quran yang menjelaskan bahwa dengan mengingat Tuhan, hati akan tenang.

Ia menuturkan, karena manusia dalam hidupnya tidak punya tujuan lain selain kemenangan dan meraih kebahagiaan serta kenikmatan abadi, dan tidak takut menghadapi kesulitan, serta yakin satu-satunya sebab kebahagiaan dirinya hanyalah Tuhan, dan karena semua urusan kembali kepada-Nya, dan Dialah puncak penghambaan dan Penguasa dirinya serta Maha Berkehendak dan Wali setiap Mukmin, juga tempat berlindung seluruh makhluk, maka mengingat-Nya bagi jiwa-jiwa yang tersandera berbagai peristiwa kehidupan dan mencari pegangan kokoh yang menjamin kebahagiaannya, akan membawa ketenangan dan ketenteraman.  

Bulan suci Ramadhan adalah kesempatan penting untuk menyambut seruan Tuhan dan nikmat besar untuk mengembangkan jasmani dan ruhani manusia. Di dalam Al Quran salah satu buah dari mengingat nikmat-nikmat Tuhan adalah kebahagiaan dan kemenangan.

Di Surat Al A'raf ayat 69 berfirman,

أَوَعَجِبْتُمْ أَن جَاءَكُمْ ذِكْرٌ مِّن رَّبِّكُمْ عَلَىٰ رَجُلٍ مِّنكُمْ لِيُنذِرَكُمْ ۚ وَاذْكُرُوا إِذْ جَعَلَكُمْ خُلَفَاءَ مِن بَعْدِ قَوْمِ نُوحٍ وَزَادَكُمْ فِي الْخَلْقِ بَسْطَةً ۖ فَاذْكُرُوا آلَاءَ اللَّـهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

"Apakah kamu (tidak percaya) dan heran bahwa datang kepadamu peringatan dari Tuhanmu yang dibawa oleh seorang laki-laki di antaramu untuk memberi peringatan kepadamu? Dan ingatlah oleh kamu sekalian di waktu Allah menjadikan kamu sebagai pengganti-pengganti (yang berkuasa) sesudah lenyapnya kaum Nuh, dan Tuhan telah melebihkan kekuatan tubuh dan perawakanmu (daripada kaum Nuh itu). Maka ingatlah nikmat-nikmat Allah supaya kamu mendapat keberuntungan."