Bulan Perjamuan Tuhan (7)
https://parstoday.ir/id/radio/west_asia-i57320-bulan_perjamuan_tuhan_(7)
Suatu hari, As'ad ibn Zurarah mendatangi rumah sahabatnya, Utbah ibn Rabi'ah di kota Mekkah dan meminta bantuannya untuk menyelesaikan konflik di antara dua kabilah. Namun, Utbah berkata, "Hari ini kami menghadapi sebuah masalah baru yang telah menyita waktu kami sehingga kami tidak memiliki kemampuan untuk menolong kalian."
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
May 23, 2018 05:28 Asia/Jakarta

Suatu hari, As'ad ibn Zurarah mendatangi rumah sahabatnya, Utbah ibn Rabi'ah di kota Mekkah dan meminta bantuannya untuk menyelesaikan konflik di antara dua kabilah. Namun, Utbah berkata, "Hari ini kami menghadapi sebuah masalah baru yang telah menyita waktu kami sehingga kami tidak memiliki kemampuan untuk menolong kalian."

As'ad kemudian bertanya, "Apa masalah kalian bukankah engkau hidup di tempat yang aman?" Utbah menjawab, "Seorang pria telah muncul di tengah kami yang mengaku sebagai utusan Tuhan, ia menyebut kami tidak menggunakan akal, melecehkan para tuhan dan berhala kami, masyarakat kami terpecah-belah dan pemuda kami menjadi rusak."

As'ad dengan heran kembali bertanya, "Dari kabilah mana ia berasal?" Utbah menjelaskan, "Dia putra dari Abdullah ibn Abdul-Muttalib dan kebetulan dari sebuah keluarga terpandang. Dia sekarang datang ke Masjidil Haram, jika engkau ingin ke sana, jangan dengarkan ucapannya dan jangan bertutur satu kata pun dengannya, karena ia penyihir yang pandai."

"Aku harus ke sana karena aku sudah berihram dan akan melakukan thawaf di Ka'bah," ujar As'ad. Sahabatnya itu lalu menimpali, "Kalau begitu, letakkan sedikit kapas di telingamu sehingga ucapannya tidak terdengar olehmu."

Bulan Ramadhan

As'ad ibn Zurarah memasuki Masjidil Haram dengan menyumpal kedua telinganya dengan kapas dan memulai thawaf di Ka'bah. Ia menyaksikan Muhammad di samping Ka'bah bersama sekelompok orang yang sedang mendengarkan ucapannya. As'ad melirik sekilas dan cepat-cepat berlalu. Pada putaran kedua, As'ad bergumam dalam hatinya, "Tidak ada orang yang lebih bodoh dari aku, bagaimana mungkin sebuah cerita penting sedang diperbincangkan di Mekkah, sementara aku tidak tahu apa-apa tentangnya."

As'ad kemudian menyingkirkan kapas dari telinganya dan duduk di sekitar Muhammad untuk mendengarkan ucapannya. Ia tidak menemukan apa yang disebut sihir atau sulap. Apa yang ia dengar adalah cahaya petunjuk yang menerangi hatinya dan diterima oleh akalnya. Ia datang mendekat dan bertanya, "Kemana engkau mengajak kami?" Muhammad dengan tenang berkata, "Aku mengajak kalian pada tauhid dan aku adalah utusan Tuhan." Muhammad lalu membacakan ayat 151 sampai 153 surat al-An'am.

As'ad ibn Zurarah terpesona oleh lantunan ayat-ayat al-Quran. Hatinya terguncang dan berteriak, "La ilaha illallah Muhammadur rasulullah." Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi Muhammad adalah utusan Allah.

Di awal permulaan Islam, al-Quran merupakan sumber kehidupan masyarakat Muslim dan hari ini ia juga menjadi sumber kekuatan, kemuliaan, dan kedamaian hati bangsa-bangsa Muslim. Ayat-ayatnya mengajak manusia kepada tauhid, keselamatan, dan kemuliaan. Seruan ini semakin sering terdengar selama bulan Ramadhan.

Di bulan ini, kaum Muslim mempererat interaksinya dengan al-Quran dan menghiasi siang-malamnya dengan lantunan ayat-ayatnya. Bulan Ramadhan adalah memomentum untuk mengembalikan kedudukan al-Quran dalam kehidupan sosial serta memperbaiki dan memperkuat landasan pemikiran dan budaya masyarakat Islam.

Dengan melihat sejarah para nabi dan orang-orang saleh, kita akan menemukan bahwa derajat tertinggi al-Uns (intim/hubungan yang dekat) adalah hubungan langsung dengan Allah Swt. Dalam Islam, al-Quran dianggap sebagai sarana yang paling meyakinkan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Kitab suci ini memperkenalkan Tuhan dengan keagungan, kebesaran, kasih sayang, dan rahmat.

Jika manusia mengetahui bahwa manifestasi dari Tuhan Yang Maha Agung dapat ditemukan dalam al-Quran dengan sifat-sifat Jalaliyah dan Jamaliyah-Nya, serta mengetahui bahwa Dia hadir setiap saat dan bisa bercengkrama dengan-Nya tanpa perantara, maka mereka akan mendapati ayat-ayat al-Quran sebagai cahaya, nasihat, hikmat, dan petunjuk.

Bulan Ramadhan

Manusia selalu membutuhkan keintiman (al-Uns) dengan al-Quran, karena kandungannya yang kaya, ia adalah jawaban atas kebutuhan utama kehidupan mereka. Oleh karena itu, kaum Muslim diminta untuk memperbanyak membaca al-Quran dan memanfaatkan kandungan isinya yang tak terbatas. Imam Husein as membagi manusia ke dalam empat golongan dan mereka semua bisa mendekatkan diri kepada al-Quran sebatas kapasitasnya.

Beliau berkata, "Sesungguhnya al-Quran turun dalam empat bentuk yaitu; Ibarat (ungkapan tekstual) untuk orang awam, Isyarat (permisalan) untuk orang khusus (khawas), Latha’if (makna-makna yang lembut) untuk para wali, dan Hakikat untuk para nabi.”

Al-Quran menyimpan pengetahuan yang dalam dan di sini masyarakat awam dapat menimba ilmu dari kalimat-kalimat yang sederhana atau Ibarat. Orang alim bisa memperoleh pengetahuan yang lebih banyak dari al-Quran dengan mempelajari isyarat-isyarat yang tersembunyi. Para wali akan memanfaatkan lathaif al-Quran untuk menyirami jiwanya dan mempererat hubungannya dengan Allah Swt. Dan para nabi – yang menerima wahyu langsung dari Allah – mempelajari hakikat yang dikandung al-Quran, di mana tidak bisa dipahami oleh manusia biasa.

Jadi, keintiman dengan al-Quran akan menciptakan sebuah perubahan total dalam jiwa dan pikiran manusia, dan ia menghadirkan ufuk yang cerah di hadapan para pencari kebenaran. Dalam surat al-Maidah ayat 15-16, Allah Swt berfirman, "sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan…"

Di bulan Ramadhan, kota-kota dan desa di Iran merasakan nuansa yang berbeda. Di sepanjang Ramadhan, masjid-masjid dan rumah-rumah di Iran menggelar acara tadarus dan khataman al-Quran. Kaum laki-laki biasanya mengikuti tadarus di masjid yang dilakukan setelah shalat Zuhur. Mereka duduk membentuk barisan yang rapi dan kemudian memulai kegiatan tadarus yang dipandu oleh beberapa qari’ nasional. Sementara untuk kaum perempuan, kegiatan tadarus umumnya digelar di rumah-rumah secara bergiliran dengan tujuan membagi keberkahan Ramadhan.

Kajian terhadap sejarah kehidupan ulama dan tokoh agama menunjukkan bahwa mereka sudah akrab dengan al-Quran sejak kanak-kanak dan dengan cara ini menempuh jalan menuju kesempurnaan. Imam Khomeini ra memanfaatkan setiap kesempatan untuk mendekatkan diri dengan al-Quran dan memperoleh manfaat darinya.

Dikisahkan, Doktor Fathimah Thabathabai, menantu Imam Khomeini menuturkan, "Ketika kami di Najaf bersama beliau, mata beliau sakit. Setelah dokter memeriksanya, ia berkata kepada beliau, 'Anda jangan membaca al-Quran dalam waktu beberapa hari dan istirahatkan mata Anda.'" Mendengar itu, Imam tertawa ringan dan berkata, "Dokter! Aku menginginkan mataku untuk membaca al-Quran. Apa gunanya aku punya mata tapi tidak membaca al-Quran? Lakukan-lah sesuatu sehingga aku bisa membaca al-Quran.”

Bulan Ramadhan

Imam Khomeini menaruh perhatian khusus pada al-Quran dan menyemangati seluruh lapisan masyarakat, terutama kaum pelajar untuk membaca dan membangun interaksi dengan kitab suci tersebut.

Dalam salah satu nasihatnya, beliau berkata, "Wahai anakku! Kenalilah al-Quran, kitab besar makrifat ini, bukalah jalan ke arah Sang Kekasih dengan membacanya dan jangan mengira bahwa membaca tanpa makrifat, tidak memiliki pengaruh apapun, ini adalah godaan syaitan. Kitab ini datang dari Sang Kekasih untuk kalian dan untuk semua. Meskipun kalian tidak mengerti maknanya, namun kecintaan Sang Kekasih akan datang menyapa dan mungkin merangkul tangan kalian."

Dunia modern membutuhkan Islam murni yang dibawakan oleh Nabi Muhammad Saw. Kesengsaraan akibat hilangnya nilai-nilai spiritual, telah lama menyiksa ruh dan batin manusia modern. Hal ini tidak bisa disembuhkan kecuali dengan membangun kedekatan dengan al-Quran, karena ia adalah penawar atas segala rasa sakit dan penyakit.