Bulan Perjamuan Tuhan (15)
https://parstoday.ir/id/radio/west_asia-i57862-bulan_perjamuan_tuhan_(15)
Setiap tahun kaum Muslim diwajibkan berpuasa selama bulan Ramadhan. Ini adalah sebuah kesempatan istimewa untuk mencapai derajat takwa. Di sepanjang perjamuan ini, kita harus berusaha maksimal untuk memperoleh berkah Ramadhan dan rahmat Ilahi. Dengan terampuninya dosa-dosa, hati manusia akan siap menerima makrifat dan memperoleh kedudukan yang tinggi.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
May 31, 2018 11:22 Asia/Jakarta

Setiap tahun kaum Muslim diwajibkan berpuasa selama bulan Ramadhan. Ini adalah sebuah kesempatan istimewa untuk mencapai derajat takwa. Di sepanjang perjamuan ini, kita harus berusaha maksimal untuk memperoleh berkah Ramadhan dan rahmat Ilahi. Dengan terampuninya dosa-dosa, hati manusia akan siap menerima makrifat dan memperoleh kedudukan yang tinggi.

Bulan Ramadhan merupakan momentum untuk memperbaiki diri, menumbuhkan sifat pemaaf, memperbanyak kebaikan, membantu orang lain, dan sebagainya. Semua individu di setiap jabatan sangat rentan terperosok dalam dosa dan keburukan. Misalnya saja, orang yang bekerja di sektor perbankan dan keuangan menghadapi godaan besar korupsi. Politisi juga menemui banyak tantangan dalam melaksanakan tanggung jawab sosial dan politiknya.

 

Jika seseorang sudah terjebak dalam maksiat dan mulai meremehkan dosa, maka ia akan semakin jauh dari rahmat Ilahi dan tenggelam dalam keburukan. Manusia harus selalu waspada agar tidak ternodai dengan dosa. Menjaga diri secara konstan dari godaan dosa dan perbuatan maksiat disebut takwa, sementara individu yang selalu melawan godaan dan meninggalkan maksiat dinamakan orang yang bertakwa.

 

Dalam hal ini, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah Sayid Ali Khamenei mengatakan, "Prinsip utama untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt adalah meninggalkan dosa. Mengerjakan amalan sunnah, bertawassul, berdoa, dan melakukan perbuatan lain adalah pelengkapnya. Secara prinsip, manusia harus mencegah dirinya dari perbuatan dosa dan pelanggaran, dan pekerjaan ini menuntut adanya takwa."

Image Caption

 

Bulan Ramadhan merupakan kesempatan terbaik untuk mencapai derajat takwa dan memperkuatnya, seperti yang disinggung pada ayat 183 surat al-Baqarah, "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."

 

Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa ketakwaan diperoleh secara bertahap dan tidak datang tiba-tiba. Seseorang bisa mencapai takwa dengan latihan dan mawas diri. Untuk menuju ke arah sana, pekerjaan terpenting yang harus dilakukan adalah mengenal diri. Dengan evaluasi diri, manusia akan menyadari tentang sifat-sifat buruknya, dan penyakit ini dapat disingkirkan dengan latihan dan kemudian menghiasi dirinya dengan sifat-sifat terpuji.

 

Mengenai evaluasi diri, Ayatulllah Khamenei menjelaskan, "Wahai anak-anaku! Marilah kita melihat keburukan-keburukan kita dan dengan bekal yang kita peroleh dari bulan Ramadhan, marilah kita menghapus keburukan itu secara perlahan. Jika kita menyimpan dengki, maka ia harus kita singkirkan, demikian juga dengan sikap keras kepala, malas, dan tidak semangat. Jika hati kita busuk dan mengharapkan keburukan untuk orang lain, ia juga harus kita hapus dari hati. Demikian juga jika komitmen kita lemah dan tidak menepati janji; ini semua harus kita buang."

 

"Kita tidak boleh berbangga diri dan sombong. Setiap aib yang ada dalam akhlak kita, maka ia harus kita singkirkan dari perilaku kita dengan memanfaatkan bulan Ramadhan. Kita harus berkomitmen dengan ini dan terus bergerak maju. Ketahuilah bahwa Allah Swt akan menolong orang-orang yang berjuang di jalan ini. Dia tidak akan membiarkan kalian sendirian di medan jihad untuk meraih kesempurnaan, dan keuntungan pertama akan dinikmati oleh pelakunya," tambahnya.

 

Takwa berarti memiliki rasa mawas diri dan waspada, meninggalkan keburukan, dan menjauhi maksiat sehingga melahirkan rasa takut kepada Allah Swt. Setelah mencapai takwa lisan, manusia harus mulai fokus pada takwa dalam hati. Takwa hati bermakna menghapus dengki, buruk sangka, sombong, dan khianat dari dalam diri kita, dan menggantikannya dengan ikhlas, memberi maaf, tawadhu', ramah, dan penyayang.

 

Para guru akhlak percaya bahwa semua perbuatan lahiriyah tidak akan berguna jika manusia tidak memperbaiki hatinya. Alangkah indahnya jika semua penyakit hati itu bisa disingkirkan selama bulan Ramadhan dan memperkuat takwa hati.

 

Berkenaan dengan takwa, Ayatullah Khamenei menuturkan, "Takwa adalah sebuah kondisi waspada konstan yang membuat manusia tidak keliru dalam melangkah dan tidak terperosok dalam duri yang tajam. Sebenarnya, takwa adalah sebuah baju besi yang melindungi pemiliknya dari tembakan panah beracun dan pukulan mematikan terhadap dimensi spiritualnya; tentu saja bukan hanya masalah maknawiyah. Takwa juga memiliki pengaruh yang sangat penting dalam urusan duniawi. Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya."

 

Pada dasarnya, setiap orang yang bertakwa yaitu meninggalkan maksiat karena takut kepada Allah, tidak melanggar larangan-Nya, dan menunaikan kewajiban agama, maka ia akan memperoleh jalan keluar yang membebaskannya dari kesulitan hidup. Ia akan memperoleh rezeki dan semua kelapangan hidup dari arah yang tidak disangka-sangka.

 

Dalam surat al-'Araf ayat 96, Allah Swt berfirman, “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi…” Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa mendapat rezeki takwa, berarti ia telah mendapat rezeki dunia dan akhirat.”

Image Caption

 

Manusia – yang sedang menapaki jalan kesempurnaan – akan memegang prinsip-prinsip tertentu untuk mencapai tujuannya dan mereka tidak pernah berhenti berjuang. Para guru akhlak meyakini bahwa tahap pertama dari takwa adalah mengontrol lisan dan menjaga ucapan dari perkataan yang sia-sia. Sayangnya, salah satu penyakit yang sering menimpa orang-orang adalah banyak bicara, berkata ucapan yang sia-sia, dan berbicara kotor.

 

Imam Ali as telah menyampaikan banyak pesan berharga tentang pentingnya menjaga lisan. Pada salah satu pesan itu, beliau berkata, "Aku bersumpah kepada Allah, aku tidak melihat seorang bertakwa yang akan diuntungkan oleh ketakwaannya kecuali menjaga lisannya. Sesungguhnya lisan orang mukmin bermula dari balik hatinya, sedangkan hati orang munafik bemula dari balik lisannya. Sebab orang mukmin berpikir dahulu baru berbicara, jika baik ia akan mengatakan dan jika buruk ia akan menyembunyikannya. Sedangkan orang munafik akan mengatakan apa yang ada di lisannya, dan ia tidak tahu mana yang untung dan rugi."

 

Seorang mukmin berkewajiban untuk selalu menjaga lisannya. Berdasarkan banyak riwayat, lisan bisa menyelamatkan manusia dari segala kehancuran dan juga bisa mencelakakannya. Tentu semua ini bergantung pada cara menggunakan lisan itu sendiri dan selalu waspada dalam menjaga lisan. Surat Qaf ayat 18 menyebutkan, "Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir." Rasulullah Saw bersabda, "Barang siapa yang menjaga lisannya dari perkataan yang sia-sia, maka ia telah menjamin surga untuk dirinya."

 

Jika lisan keluar dari kendali kita selama 11 bulan ini, maka kita harus memanfaatkan Ramadhan untuk mengekang lisan dan mempraktekkan hal ini dalam kehidupan sehari-hari. Perlu dicatat bahwa jika kita tidak memiliki takwa lisan selama Ramadhan, maka puasa  juga akan kehilangan nilai dan maknanya.

 

Takwa lisan adalah menjaga lidah dari dusta, tidak menggunjing, tidak menyebar fitnah, tidak menghina, tidak menyebar hoax, tidak membuat tulisan provokatif, menghindari lelucon yang kasar, dan sejenisnya. Jadi, puasa tidak hanya menjaga mulut dari makan dan minum, tapi juga harus mencegah lisan dari perkataan yang merusak nilai ibadah puasa. (IRIB)