Menyambut Hari Kemenangan (2)
Di hari raya Idul Fitri orang-orang yang berbahagia adalah mereka yang berhasil melakukan perubahan dalam diri dan akhlaknya lewat puasa dan ibadah. Mereka yang menjadi begitu dekat dengan Al Quran di bulan suci Ramadhan dan memanfaatkan sebaik-baiknya ayat-ayat rahmat dan hikmah Al Quran.
Ramadhan adalah bulan perjamuan Tuhan bagi manusia untuk meningkatkan ketakwaan, dan ujung dari perjamuan ini adalah Idul Fitri. Idul Fitri adalah simbol dari sebuah bulan penghambaan dan hari perayaan atas ridha Tuhan kepada hamba-hamba-Nya. Ridha Allah Swt adalah nikmat terbesar.
Umat Islam di akhir bulan suci Ramadhan yang merupakan bulan penghambaan dan perjamuan Tuhan, bersyukur kepada-Nya karena telah diberi kesempatan menjalankan ibadah di bulan suci ini dan berhasil melewati ujian di hari-harinya.
Idul Fitri adalah hari raya bagi orang-orang berpuasa yang menghadiri perjamuan Tuhan dan menghidupkan malam-malam Qadr, serta membaca Al Quran dan mengangkat tangannya ke langit sembari memanjatkan doa pengampunan.
Sehubungan dengan Idul Fitri Allah Swt berfirman, Aku mengganjar setiap Mukmin yang berpuasa di bulan Ramadhan dan menegakkan shalat, dengan kebahagiaan dan pengampunan dari sisi-Ku.
Idul Fitri menandai kembalinya manusia kepada fitrah. Fitrah layaknya air jernih dan bersih dari sumber mata air yang mengalir. Air yang mengalir dari sumbernya, selalu baru. Ied yang berasal dari kata Aud bermakna kembali yaitu selalu baru dan segar.
Oleh karena itu orang-orang yang senantiasa berperilaku sesuai fitrahnya, setiap detik kehidupannya adalah Ied, karena mereka setiap saat menyaksikan sebuah manifestasi baru dari kebenaran.
Sementara orang-orang yang sepanjang tahun berlumuran dosa baik jasmani maupun batin, sebenarnya telah melanggar fitrah dan terasing dari dirinya, namun Allah Swt memberikan kesempatan yang sangat berharga seperti Ramadhan bagi mereka untuk memperbaiki diri. Di bulan suci Ramadhan, hamba-hamba yang menjalin hubungan terus-menerus dengan Tuhannya, sehingga jiwa mereka semakin dekat dengan fitrahnya.
Di bulan ini, hamba-hamba Tuhan yang menahan diri segala sesuatu yang membatalkan puasa, hati mereka semakin bersinar karena diterangi cahaya Ilahi. Bercahayanya hati menyebabkan kuatnya tekad manusia dalam menghindari dosa.
Pada saat yang sama, cahaya dan kekuatan hasil ketaatan pada Tuhan, menjadikan fitrah mereka sebagai perisai yang kokoh dalam menghadapi panasnya api neraka. Oleh karena itu, orang-orang Mukmin merayakan akhir bulan Ramadhan sebagai momentum kembalinya manusia kepada fitrah hakikinya dengan nama Idul Fitri.
Tidak diragukan, setiap hari yang dilalui manusia tanpa maksiat kepada Tuhan semenjak terbangun dari tidur hingga akhir malam, adalah hari raya, karenanya kita dapat menjadikan setiap hari sepanjang tahun sebagai hari raya bagi diri kita sendiri. Imam Ali as berkata, hari ini adalah hari raya bagi orang-orang yang diterima puasanya dan diberikan ganjaran atas amal-amalnya, dan diampuni dosa-dosanya.
Kemudian Imam Ali melanjutkan, hari ini bagi kami adalah hari raya dan setiap hari yang di dalamnya kita tidak dilakukan maksiat kepada Tuhan, juga adalah hari raya bagi kita. Maka jelaslah bahwa orang-orang yang tidak berpuasa atau puasanya dicemari dosa dan ketidaktaatan, tidak akan merasa bahagia dan gembira.
Kebahagiaan, kata Imam Ali, adalah milik orang-orang yang hati mereka bersih dan jiwa mereka bercahaya, karena melakukan amal baik dan ibadah kepada Tuhan serta ketaatan mereka diterima di sisi-Nya.
Umat Islam, seiring dengan tibanya hari raya Idul Fitri merasakan kebahagiaan dan kelezatan maknawi di dalam dirinya, namun sambutan mereka di hari Idul Fitri tidak sama.
Pasalnya, setiap orang memiliki pandangan berbeda dan mendapatkan manfaat yang bertingkat dari Idul Fitri sesuai dengan pengetahuan dan keimanannya. Mirza Javad Agha Maliki Tabrizi, salah seorang ulama dan arif kontemporer Islam, membagi orang-orang berpuasa yang sampai ke Idul Fitri ke dalam beberapa kelompok.
Terkait derajat para penyambut Idul Fitri yang paling rendah, ia berkata, sekelompok orang berpuasa dengan tidak memahami hakikat puasa dan dengan segala kesulitan mereka menghindari makan, minum dan segala sesuatu yang membatalkan puasa, tapi pada saat yang sama mereka tidak menjaga anggota tubuhnya dan menyakiti orang lain dengan berbohong, ghibah, menuduh, menghina dan menyia-nyiakan kerja kerasnya.
Mereka, katanya, tidak punya kedudukan di sisi Tuhan, kecuali kehadirannya di hari Idul Fitri untuk berprasangka baik terhadap rahmat Tuhan dan di tempat sujudnya di hari ini, ia memohon ampun atas segala dosa.
Mirza Tabrizi menganggap derajat penyambut Idul Fitri tertinggi adalah mereka yang lupa akan penderitaan karena lapar, haus dan beratnya menghidupkan malam, dan menyambut seruan Tuhan dari kedalaman lubuk hati. Allah Swt menerima amal-amal mereka dan menempatkannya bersama para waliullah di sisi-Nya.
Perumpamaan paling halus terkait kembalinya manusia kepada Tuhan dan bertemu dengan-Nya digambarkan dalam Surat Al Inshiqaq ayat 6,
يَا أَيُّهَا الْإِنسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَىٰ رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلَاقِيهِ
"Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya."
Hari raya Idul Fitri adalah perwujudan dari hakikat dan makrifat agama. Sebuah makrifat yang dengannya wali-wali Allah memandang Idul Fitri. Imam Ali berkhutbah di hari Idul Fitri dan berkata, wahai umat manusia, hari ini adalah hari kalian, yang memberikan pahala dan ganjaran kepada orang-orang yang berbuat baik dan para pendosa merugi di hari ini.
Imam Ali melanjutkan, hari ini adalah hari yang paling mirip dengan hari kiamat kalian. Maka saat keluar dari rumah, ingatlah ketika kalian dibangkitkan dari kubur menuju Tuhan kalian, dan saat berdiri untuk melaksanakan shalat Idul Fitri, ingatlan ketika kelak engkau berdiri di hadapan Tuhan, dan saat kembali dari shalat, ingatlah saat kalian kembali ke surga atau neraka.
Keutamaan terbesar bulan Ramadhan adalah diturunkannya Al Quran di bulan ini. Al Quran melukiskan bulan Ramadhan dalam Surat Al Isra ayat 82,
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِينَ ۙ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
"Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian."
Oleh karena itu, hakikat Idul Fitri adalah perayaan atas pencapaian jalan hidayah dan dibedakannya kebenaran dari kebatilan. Selain itu, Idul Fitri adalah hari raya rahmat dan kasih sayang, serta kedekatan dengan Allah Swt.
Idul Fitri dari satu sisi adalah tanda hubungan maknawi manusia dengan Tuhannya, dan dari sisi lain, hubungan manusia dengan sesama. Dalam Islam, penghambaan kepada Allah Swt tidak terpisah dari pelayanan kepada sesama. Sedemikian dianjurkannya ibadah bagi manusia, seperti juga khidmat kepada makhluk.
Bulan suci Ramadhan yang merupakan kesempatan berharga untuk melaksanakan perintah Tuhan, bahkan lebih banyak mengandung anjuran untuk melayani sesama. Karena Islam tidak menerima keberadaan sebuah masyarakat yang terbagi menjadi kelas kaya dan miskin, maka agama ini memerintahkan distribusi kekayaan secara adil.
Hal ini dapat terwujud jika golongan masyarakat kaya mengakui hak orang-orang miskin di dalam hartanya dan memberikannya kepada mereka tepat waktu. Karenanya, di hari Idul Fitri umat Islam, pertama memisahkan zakat fitrah yang harus di bayarkan dari hartanya, lalu mendirikan shalat.
Zakat fitrah adalah hadiah dari orang-orang Mukmin kepada fakir miskin sebagai bentuk rasa syukur atas ketaatan kepada Tuhan dan mendapat nikmat Ilahi, dan dengan perbuatan ini, mereka berharap Allah Swt mensucikan harta dan dirinya dari berbagai kekotoran dan memberi kesempatan kepada sesama untuk turut merasakan nikmat Ilahi.
Meski jumlahnya terbatas, namun zakat fitrah jika dilakukan secara terpogram dan terencana dengan baik, maka akan menghimpun jumlah yang cukup berarti sehingga dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan sosial masyarakat Islam setiap tahun.