Tujuan dan Dampak Serangan ke Al-Hudaydah
Perang koalisi militer pimpinan Arab Saudi terhadap Yaman dimulai sejak 26 Maret 2016.
Ketika para penguasa Saudi beranggapan bahwa perang di Yaman ini akan menjadi perang singkat, akan tetapi kini telah 40 bulan berlalu dan sampai saat ini tidak ada kejelasan untuk mengakhiri perang tidak seimbang tersebut. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam laporan pada bulan Maret 2018 bersamaan dengan akhir tahun ketiga perang tersebut menyatakan, sedikitnya 10 ribu warga sipil tewas dalam serangan langsung Arab Saudi sementara lebih dari 40 ribu lainnya terluka di mana mayoritas korbannya adalah warga sipil.
Disebutkan dalam laporan tersebut bahwa hanya pada tahun 2017 saja, sebanyak 50 ribu anak Yaman, atau berarti rata-rata per hari 130 anak tewas akibat berbagai faktor tidak langsung dalam perang yang dikobarkan Arab Saudi. Kantor urusan hak asasi manusia PBB juga menyatakan bahwa lebih dari tiga juta warga Yaman di dalam negara ini dan 280 ribu warga Yaman mengungsi di negara-negara seperti Djibouti dan Somalia. Para pengungsi itu baik di dalam maupun di luar negeri menghadapi kekurangan makanan dan juga tidak memiliki akses perawatan kesehatan maupun tempat tinggal yang manusiawi.
Dalam kondisi seperti ini, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab menyerang kota pelabuhan al-Hudaydah sejak 13 Juni 2018. David Ignatius, seorang jurnalis Barat dalam sebuah analisanya bertajuk "Operasi Terakhir di Yaman" yang dimuat koran The Washington Post menulis, "Pasca blokade kontroversial terhadap pelabuhan tersebut oleh UEA dan Arab Saudi serta berbagai sarana mediasi internasional menjanjikan dan seorang pejabat UEA berbicara soal pencapaian mekanisme damai dengan kelompok Houthi, serangan ke pelabuhan al-Hudaydah dimulai yang merupakan tahap tersulit dalam perang di Yaman."
Salah satu faktor terpenting tujuan koalisi pimpinan Arab Saudi dalam serangan ke al-Hudaydah adalah pemisahan kota pelabuhan tersebut dari berbagai wilayah yang dikontrol kelompok Houthi. Al-Hudaydah, setelah Sanaa, merupakan kota terbesar kedua yang dikontrol kelompok Houthi. Al-Hudaydah memiliki posisi strategis karena menjadi kutub logistik penting dan rantai penyambung Houthi dengan dunia luar. Di barat al-Hudaydah, terdapat Laut Merah dan kapal-kapal internasional melintasi perairan tersebut untuk relokasi barang ke Eropa, Asia dan Afrika melalui Terusan Suez.
Di timur al-Hudaydah, terdapat lahan subur yang merupakan wilayah pertanian terpenting untuk Yaman. Di utara al-Hudaydah juga terdapat terminal minyak Ras Isa yang menjadi terminal ekspor utama Yaman. Oleh karena itu, kota pelabuhan tersebut sangat penting bagi Ansarullah dan selama kontrol terhadap kota ini masih dipegang kelompok Houthi, maka Yaman dapat mengantongi pendapatan sebesar 1,2 miliar dolar. Salman al-Dusari, seorang jurnalis pro-Arab Saudi dalam hal ini menilai operasi pendudukan al-Hudaydah sebagai pemisahan kepala dari badan.
Arab Saudi dan Uni Emirat Arab berencana mengontrol al-Hudaydah untuk menyempurnakan memblokade Ansarullah dari laut dan juga secara finansial. Di sisi lain, gaji para pegawai yang berafiliasi dengan pemerintah mantan presiden Yaman yang telah mengundurkan diri, Abd Rabuh Mansur Hadi, telah menunggak selama 20 bulan. Oleh sebab itu, pendapatan dari kota pelabuhan al-Hudaydah dapat mereduksi kesulitan finansial yang dihadapi pemerintah Yaman.
Salah satu tujuan penting lain serangan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab ke kota al-Hudaydah adalah dengan menduduki al-Hudaydah dan menyempurnakan blokade laut, maka kelompok Houthi Ansarullah akan terkepung di Sanaa. Mengingat al-Hudaydah hanya berjarak 140 kilometer dengan Sanaa, maka pendudukan al-Hudaydah akan menjadi langkah terpenting untuk mengepung Sanaa. Koran Rai al-Youm dalam sebuah analisa menyebutkan, "Ansarullah mengetahui dengan baik menyerahkan al-Hudaydah sama seperti membuka pintu kepada pasukan koalisi Saudi-Emirat menuju Sanaa."
Tujuan akhir Arab Saudi dan sekutunya dalam serangan ke kota pelabuhan al-Hudaydah adalah represi dan pemaksaan Ansarullah untuk bersedia berunding berdasarkan resolusi Dewan Keamanan 2216, di mana Ansarullah harus keluar dari wilayah-wilayah yang dikuasainya serta meletakkan senjata dan pemerintahan diserahkan kembali kepada Mansur Hadi. Poin-poin tersebut merupakan tujuan utama perang yang digulirkan Arab Saudi terhadap Yaman pada tahun 2015.
Pertanyannya penting lainnya adalah apa dampak dari krisis serangan Arab Saudi dan Uni Emriat Arab ke al-Hudaydah ini? Dampak terpenting dari perang ke al-Hudaydah adalah memburuknya kondisi kemanusiaan di Yaman. 70 persen impor dan masuknya komoditi ke Yaman dilakukan melalui pelabuhan al-Hudaydah. Sementara itu, lebih dari 22 juta warga Yaman atau tiga perempat populasi Yaman, membutuhkan bantuan pangan sementara delapan juta warga Yaman menghadapi kelaparan dan tidak memiliki sumber untuk mendapatkan makanan. Perang di al-Hudaydah akan memperburuk kondisi tersebut karena kapal-kapal tidak akan dapat aman merapat ke pelabuhan al-Hudaydah.
Selain itu, satu juta warga Yaman tahun lalu telah tewas karena wabah di mana al-Hudaydah merupakan satu dari lima wilayah yang menghadapi kondisi tersulit. Perang ini dapat memperburuk kondisi karena perang akan merusak saluran air dan sanitasi serta penyebaran berbagai penyakit yang disebabkan pencemaran air. Sepertiga dari 400 ribu anak Yaman menghadapi gizi buruk di kota al-Hudaydah. Oleh karena itu, Ilyas Diyab seorang pejabat PBB di Yaman menekankan, "Sangat penting agar kota pelabuhan itu harus selalu terbuka dengan cara apapun."
Perang di al-Hudaydah telah memasuki pekan ketiga di mana menurut anggapan pangeran mahkota Arab Saudi, serangan dengan skala massif ini dalam waktu singkat akan menjatuhkan al-Hudaydah dan Ansarullah pada akhirnya akan menyerah. Akan tetapi prediksi Muhammad bin Salman meleset karena Ansarullah memilih perjuangan heroik dan bahkan melanjutkan serangan rudal ke Riyadh. Ibrahim Darwish, kepada koran Al-Quds Al-Arabi terbitan London menulis, "Pangeran Muhammad bin Salman (MBS), pangeran mahkota Arab Saudi pada bulan Maret 2015 memulai perang terhadap Yaman dengan alasan pengusiran Houthi dari Sanaa, ibukota negara itu, serta pengembalian Mansur Hadi."
Rencana perang di Yaman berlandaskan pada perspektif bahwa perang hanya akan berlangsung dalam beberapa pekan dan seluruh tujuan yang ditetapkan akan tercapai. Akan tetapi, perkiraan beberapa pekan itu berubah menjadi perang gerilya yang melelahkan dan sekarang lebih dari tiga tahun berlalu, alih-alih keamanan di wilayah perbatasan semakin kokoh di hadapan Houthi, kota-kota Arab Saudi semakin rentan di hadapan serangan rudal Yaman yang ditembakkan secara berkesinambungan.
Perang al-Hudaydah juga dimulai dengan peritungan keliru yang sama dan pasukan koalisi beranggapan mereka dapat mendaratkan pukulan telak terhadap Houthi dan pendukungnya, serta bergerak maju menuju Sanaa dan dengan demikian masalah Houthi akan terselesaikan untuk selamanya. Akan tetapi tidak seperti yang mereka bayangkan, para pejuang Houthi menolak menyerah dan bahkan akan menyeret pasukan koalisi ke pertempuran kota, yang berusaha dihindari oleh pasukan koalisi Arab Saudi. Dengan demikian, salah satu dampak dari perang di al-Hudaydah adalah semakin besarnya kekalahan Arab Saudi dan kroninya.
Tidak diragukan lagi bahwa perang yang digulirkan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab terhadap al-Hudaydah juga tidak mungkin terjadi tanpa dukungan Amerika Serikat dan sejumlah negara Barat. Berdasarkan laporan koran Le Figaro terbitan Perancis, pasukan operasi khusus Perancis juga mendukung pasukan militer Uni Emirat Arab dalam serangan ke al-Hudaydah. Dalam hal ini, Abdul Malik al-Houthi, pemimpin Ansarullah menyatakan bahwa Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel juga membantu perang di Yaman.
Ro Khanna, anggota kubu Demokrat di DPR Amerika Serikat, menilai tragis serangan baru terhadap al-Hudaydah dan menyatakan bahwa keterlibatan pemerintahan Donald Trump dalam tragedi baru di Yaman sangat nyata. Menurutnya, dengan berkuasanya Trump di Gedung Putih, Uni Emirat Arab dan Arab Saudi lebih berani dalam melancarkan serangan ke Yaman, peran militer AS dalam perang tersebut semakin luas dan sekarng pasukan baret hijau telah terjun ke medan pertempuran.