Euro 2016 dan Ancaman Keamanan Eropa
https://parstoday.ir/id/radio/world-i12580-euro_2016_dan_ancaman_keamanan_eropa
Ketika para politisi Eropa menempatkan terorisme sebagai ancaman paling berbahaya bagi keamanan warganya, pada saat yang sama masalah dalam negeri kian hari semakin membengkak dan sulit diatasi.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Jun 22, 2016 10:23 Asia/Jakarta

Ketika para politisi Eropa menempatkan terorisme sebagai ancaman paling berbahaya bagi keamanan warganya, pada saat yang sama masalah dalam negeri kian hari semakin membengkak dan sulit diatasi.

Insiden kekacauan di Euro 2016 hanya sebagian kecil dari gunung es masalah sosial dan ekonomi di negara-negara Eropa. Potret buram ini memperlihatkan bagaimana para politisi Eropa lebih menyalahkan pihak luar dari pada menelisik penyebab timbulnya masalah di dalam negerinya sendiri.

 

Polisi menempatkan besi pembatas antara dua pendukung tim yang bermain di stadion berkapasitas 65 ribu orang di kota Marcy, Prancis. Besi tersebut sebagai salah satu cara pemerintah Paris menjaga keamanan pemain dan pendukungnya dalam pertandingan sensitif antara tim sepak bola Inggris dan Rusia. Pertandingan yang memperebutkan juara euro 2016 ini berakhir dengan skor sama.

 

Hasil pertandingan 1-1 sedikit memberi harapan mengenai akhir yang damai. Tapi setelah pertandingan berakhir, layar televisi menayangkan bentrokan antara pendukung dua suporter. Kekacaualan yang dimulai dari dalam stadion menjalar hingga ke jalan raya Mercy. Meskipun polisi telah mengerahkan pasukan untuk meredam situasi disertai penyemprotan gas air mata, tapi bentrokan terus berlanjut hingga pagi hari.

 

Bentrokan antara ratusan orang dari 20 ribu suporter Rusia dan 80 ribu supporter Inggris menimbulkan korban luka dan sebagian di antara mereka adalah anggota polisi. Kondisi tersbeut diperparah dengan semakin aktifnya kelompok gangster Prancis di kota Mercy beberapa hari pasca bentrokan tersebut.Oleh karena itu, kekerasan yang terjadi 10 Juni 2016 antara suporeter tim sepak bola Rusia dan Inggris disebut-sebut sebagai insiden terburuk pertandingan sepak bola selama  beberapa tahun akhir.

 

Pemerintah Prancis sebelumnya telah mempersiapkan pengamanan penyelenggaraan Euro 2016. Menteri Dalam Negeri Prancis, Bernard Cazeneuve mengatakan, sebanyak 77 ribu  petugas keamanan, dan 13 ribu lainnya berpakaian sipil dikerahkan untuk mengawal keamanan penyelenggaraan even pertandingan sepakbola bergensi di Eropa itu. Tidak hanya itu, 10 ribu relawan juga diterjunkan untuk membantu mengamankan dua juta supporter yang datang dari berbagai negara Eropa. Kepala polisi Paris mengungkapkan tiga ribu personil polisi dikerahkan di tempat-tempat yang sensitif dan rawan.

 

Statemen sebagian besar pejabat Prancis bertumpu pada kekhawatiran serangan teroris terhadap keamanan penyelenggaraan pertandingan sepak bola Euro 2016. Oleh karena itu, pemerintah Prancis sejak November lalu hingga kini mengumumkan kondisi darurat nasional. Ribuan tentara dengan pakaian polisi dikerahkan untuk menjaga keamanan pertandingan sepak bola tahun ini. Organisasi keamanan Jerman dalam statemennya memperingatkan kemungkinan serangan teroris di Prancis. Sebelum pertandingan sepakbola Euro 2016 dimulai, para pejabat Eropa dalam statemennya mengulang kata terorisme, daesh, al-Qaeda dan ancaman imigran.

 

Bentrokan yang terjadi di kota Mercy telah menyebabkan situasi kota ini tidak aman dan kacau. Tapi insiden ini tidak disebabkan oleh anggota Al-Qaeda maupun Daesh. Para pelaku kekacauan pun tidak ada hubungannya dengan Muslim maupun etnis tertentu di negara-negara Timur Tengah, Afrika Utara maupun Asia Tenggara. Peristiwa yang terjadi di kota Mercy pada 10 Juni 2016 lalu mengulang insiden sebelumnya. Fenomena Football Hooliganism tidak asing bagi masyarakat Eropa.

 

Rekam jejak sebelumnya menunjukkan sepak terjang hooliganisme sebagai penyakit sosial Inggris. Contohnya, sepak terjang destruktif suporter Inggris setelah pertandingan sepak bola negaranya dengan Tunisia yang berlangsung di kota Mercy tahun 1998. Selama beberapa hari, mereka menyerang supporter tim lawan, pusat perbelanjaan dan restoran.

 

Tidak hanya itu, supporter Inggris juga mengacaukan kota Charleroi dalam pertandingan sepak bola Euro 2000, yang menyebabkan sedikitnya 35 orang cidera. Selanjutnya pada piala dunia 2010, suporter tim seoak bola Inggris juga menimbulkan kekacauan setelah tim sepak bola Jerman mengalahkan tim Inggris dengan skor 4-1. Mereka membakar bendera Jerman serta menyerang dan menghancurkan restoran. Hanya di tahun 2009 hingga 2010, dilaporkan terdapat 103 kasus hooliganisme di Inggris. Pengaruh destruktifnya pun tidak hanya di negaranya sendiri, tapi menjalar ke negara lain.

 

Studi lapangan yang dilakukan terhadap fenomena Hooliganisme di Eropa menunjukkan adanya hubungan antara premanisme di ranah sepak bola ini dengan rasisme di Eropa. Di arena stadion, suporter Inggris melemparkan pisang ke arah pemain kulit hitam sambil menirukan perilaku monyet sebagai bentuk penghinaan. Setelah melakukan riset terhadap berbagai kasus di lapangan, termasuk mempertimbangkan tempat terjadinya serangan, perilaku publik dan sejarah bangsa dan negaranya, para ahli menempatkan Inggris sebagai negara kedua paling rasis di Eropa. Dengan kata lain, rasisme sebagai faktor tetap terjadinya fenomena hooliganisme suporter sepak bola.

 

Michel Gaudin, mantan kepala polisi Prancis secara terbuka mengungkapkan adanya hubungan nyata antara premanisme dan rasisme di neganya. Di Spanyol terjadi fenomena serupa. Pengaruh faktor rasisme lebih besar dalam bentrokan yang berkaitan dengan kompetisi antar tim sepak bola dibandingkan hanya sekedar pertandingan semata.

 

Sejatinya, ancaman keamanan yang menyebabkan terjadinya kekacauan di kota Mercy  bukan diakibatkan oleh aksi teroris imigan asing, tapi sepak terjang warga Eropa sendiri. Sosiolog Eropa berkeyakinan bahwa peningkatan angka kemiskinan dan tingkat pengangguran berpangaruh besar terhadap munculmya fenomena hooliganisme. Cass Pennant, salah seorang pemimpin hooligan Inggris mengatakan, setiap kali masalah ekonomi dan sosial di Eropa semakin meningkat, maka perilaku hooligan di pertandingan olah raga kian brutal.

 

Studi yang dilakukan terhadap masalah ini menunjukkan di era 1970 dan 1980-an Masehi terjadi resesi ekonomi dan peningkatan angka pengangguran di Inggris, yang berkorelasi dengan meningkatnya aksi kekerasaan dan kekacauan yang dilakukan hooligan Inggris. Sejatinya, masalah kemiskinan, pengangguran, yang diperparah dengan menjamurnya pemikiran rasisme lebih berbahaya dari ancaman terorisme terhadap keamanan dan stabilitas negara-negara Eropa. Rangkaian faktor tersebut menjadi sarana yang tepat bagi orang maupun kelompok kriminal dalam menyerang dan menghancurkan fasilitas publik dan pribadi, bahkan mengancam nyawa warga Eropa.

 

Ketika menelisik data statistik ekonomi dan sosial Eropa muncul berbagai kekhawatiran mengenai meningkatnya perilaku destruktif dan kian melemahnya solidaritas sosial dan keamanan di Eropa. Berdasarkan laporan Eurostat, tingkat pengangguran di Uni Eropa selama triwulan pertama tahun 2016 sebesar 10, 2 persen.

 

Studi lapangan yang dilakukan BBC di tahun 2014 dan 2015 menunjukkan terjadinya peningkatan kejahatan rasial di Uni Eropa sebesar 30 persen. Sementara itu, dari 10.640 peristiwa teroris di tahun 2015 di dunia, kontribusi Eropa kurang dari 300 kasus.Jumlah tersbeut jauh di bawah Timur tengah dan Afrika Utara dengan 5.580 kasus teroris. Oleh karena itu, Eropa relatif lebih aman dari ancaman terorisme dibandingkan kawasan lainnya, terutama Timur Tengah.

 

Tapi para politikus Eropa tetap saja menutup mata atas fakta tersebut dengan menilai terorisme sebagai ancaman paling berbahaya bagi warganya. Hal ini menunjukkan pola pikir politikus Eropa yang menilai pemicu masalah di negaranya adalah orang asing, bukan di dalam negeri sendiri.

 

Dengan paradigma keliru tersebut mereka memberlakukan berbagai pembatasan terhadap imigran yang memasuki kawasan Eropa, melanjutkan intervensi militer di Timur tengah dan negara dunia ketiga. Dengan pola pikir serupa, ribuan polisi yang dikerahkan untuk mengamankan pertandingan sepak bola Euro 2016, dengan memusatkan kontrol ketat terhadap kulit hitam dan imigran asing. Tapi ratusan kulit putih dengan leluasa menimbulkan kekacauan di stadion dan jalan raya, restoran dan pusat perbelanjaan kota Mercy.