Pejabat Eropa: Harga Pupuk Melonjak 70 Persen, Petani Terancam Bangkrut
-
Peningkatan harga pupuk di Eropa
Pars Today - Christophe Hansen, Komisaris Pertanian dan Ketahanan Pangan Eropa, menyatakan bahwa harga pupuk di Eropa telah melonjak 70 persen sejak tahun 2024 akibat kenaikan drastis biaya energi yang dipicu oleh penutupan Selat Hormuz.
Dilansir Pars Today, 20 Mei 2026, sebelum perang, sekitar sepertiga dari perdagangan pupuk global melewati Selat Hormuz. Penutupan selat tersebut, dikombinasikan dengan kenaikan harga gas alam (yang merupakan bahan baku utama pembuatan pupuk nitrogen), telah menciptakan badai sempurna bagi para petani Eropa.
Krisis Harga dan Bantuan Terbatas dari UE
Komisi Eropa telah mengumumkan akan menggelontorkan dana darurat sekitar €200 juta dari cadangan krisis pertanian untuk membantu petani yang paling terdampak, dengan rencana menambah jumlah tersebut menjadi sekitar €500 juta sebelum musim panas.
Hansen menyatakan, "Kami akan mendukung petani Eropa agar mereka dapat membeli pupuk yang mereka butuhkan untuk musim panen berikutnya."
Namun, paket bantuan ini mendapat reaksi keras dari serikat petani Eropa (Copa-Cogeca), yang menilai langkah tersebut tidak memberikan "respons nyata" terhadap skala krisis. “Rencana ini hanyalah plester untuk luka yang menganga,” demikian pernyataan tegas para petani yang berdemonstrasi di depan Parlemen Eropa di Strasbourg.
Para petani memperingatkan bahwa jika harga pupuk tetap tinggi dalam beberapa minggu ke depan, krisis pertanian akan dengan cepat berubah menjadi inflasi pangan bagi konsumen Eropa dan krisis pangan global. Pupuk menyumbang lebih dari 7 persen biaya input pertanian UE secara umum, dan hingga 16 persen untuk petani tanaman pangan.
Ironi Kebijakan: Menolak Pupuk Rusia, Mencari Kotoran Sapi
Ironisnya, kebijangan jangka panjang UE justru memperburuk situasi. Brussels memberlakukan tarif tinggi pada pupuk dari Rusia dan Belarusia serta berencana menghentikan impor sepenuhnya pada tahun 2028 untuk menghukum Moskow atas perang di Ukraina. Mereka juga menolak untuk menangguhkan pajak karbon perbatasan (CBAM) untuk pupuk impor, yang jika dilakukan akan membuat pupuk luar negeri lebih murah bagi petani.
Alih-alih mengambil langkah cepat yang dinilai "beracun secara politik", Brussels justru meluncurkan rencana jangka panjang yang berfokus pada daur ulang pupuk organik, termasuk mendaur ulang kotoran sapi menjadi pupuk untuk mengurangi ketergantungan pada impor.
Di tengah pertaruhan hidup-matinya petani Eropa, Brussels memilih strategi yang terkesan lamban dan kontradiktif. Mereka menolak pupuk murah dari Rusia karena alasan politik, gagal mengambil tindakan cepat untuk menurunkan harga, dan kini berharap pada tumpukan kotoran sapi untuk menyelamatkan musim tanam. Namun, bagi petani yang harus membayar tagihan sekarang, kotoran sapi bukanlah solusi atas krisis yang dipicu oleh kebijakan perang dan isolasi ini mungkin akan membuahkan hasil pahit berupa melonjaknya harga roti di rak-rak toko Eropa dalam waktu dekat.(Sail)