Kembalinya Rubah Kolonial Tua ke Teluk Persia (2, Habis)
https://parstoday.ir/id/radio/world-i36102-kembalinya_rubah_kolonial_tua_ke_teluk_persia_(2_habis)
Geo-politik negara-negara sekitar Iran selalu memberikan dampak besar bagi keamanan nasional Iran. Banyak aliansi dan pakta militer termasuk Pakta Saadabad, Pakta Baghdad, Pakta Sinto, Liga Arab dan Dewan Kerjasama Teluk Persia terbentuk dalam atmosfer dua kutub. Sebelum merefleksikan tuntutan keamanan negara-negara regional, pakta-pakta itu terlebih dahulu menjadi media keamanan untuk membendung infiltrasi kutub lawan atau sarana untuk merebut kekuasaan di tingkat regional.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Apr 16, 2017 06:09 Asia/Jakarta

Geo-politik negara-negara sekitar Iran selalu memberikan dampak besar bagi keamanan nasional Iran. Banyak aliansi dan pakta militer termasuk Pakta Saadabad, Pakta Baghdad, Pakta Sinto, Liga Arab dan Dewan Kerjasama Teluk Persia terbentuk dalam atmosfer dua kutub. Sebelum merefleksikan tuntutan keamanan negara-negara regional, pakta-pakta itu terlebih dahulu menjadi media keamanan untuk membendung infiltrasi kutub lawan atau sarana untuk merebut kekuasaan di tingkat regional.

Kondisi regional saat ini juga terkecualikan dari metode tersebut. Pada hakikatnya, berbagai kesepakatan dan pakta baru antara negara-negara Arab regional dan kekuatan transregional juga mengacu tujuan yang sama. Dengan kata lain, Teluk Persia saat ini merupakan sarana untuk membentuk tatantan keamanan baru, di mana kesepakatan militer baru di antara kedua pihak merupakan elemen utama tatanan baru tersebut. Tujuan apa yang sebenarnya diacu dan di mana posisi negara-negara Arab Teluk Persia dalam susunan kesepakatan militer tersebut?

 

Pakta-pakta keamanan di Teluk Persia, menurut perspektif negara-negara Arab, pada umumnya berdasarkan pada pola klasik kontrak jual-beli senjata dengan definisi "demi pengamanan kawasan." Perspektif ini lebih banyak didiktekan oleh Arab Saudi, yang berujung pada pembelian senjata melampaui kebutuhan negara-negara kawasan. Ada pihak-pihak yang mengelola dan menggiring proses tersebut, bukan negara-negara Arab Teluk Persia, melainkan kartel-kartel besar produsen senjata yang beraksi dalam kerangka politik makro Britania dan Amerika Serikat.

 

Sebagai contoh, volume ekspor senjata Inggris ke Arab Saudi dalam beberapa tahun terakhir telah mencapai tiga miliar USD. Bagi para pejabat Inggris, perdagangan senjata dengan tujuan-tujuan ekonomi adalah prioritas, sementara berbagai catatan kriminalitas rezim Saudi di Yaman dan juga isu Hak Asasi Manusia (HAM) adalah masalah marginal. Penjualan bom-bom kluster merupakan bagian kecil dari transaksi besar senjata Inggris dengan Arab Saudi.

 

The Guardian dalam hal ini menulis, "Inggris dalam satu dekade terakhir merupakan eksportir kedua perlengkapan pertahanan di dunia dan telah menjual sekitar 122 miliar USD perlengkapan militernya." Tahun lalu sekitar 63 persen ekspor perlengkapan militer Inggris menuju ke kawasan Timug Tengah. Sementara itu, koran Independent terbitan Inggris juga menulis, "Industri militer, memainkan peran penting dalam perekonomian Inggris dan setiap tahun menghasilkan pendapatan sekitar 7,7 miliar pound.

 

Berdasarkan data Badan Kerjasama Keamanan Pentagon, Amerika Serikat juga pada tahun 2009 telah menjual berbagai jenis senjata senilai 115 miliar USD kepada Arab Saudi dan total 198 miliar USD ke negara-negara Arab Teluk Persia, yang merupakan angka fenomenal dan belum pernah terjadi sebelumnya. Perampungan sebagian besar kontrak senjata tersebut akan berlanjut hingga beberapa tahun kemudian dan ini berarti proses relokasi senjata Amerika Serikat ke Arab Saudi akan berlanjut

hingga 2020.

 

Saat ini, arsitektur pakta keamanan dan pertahanan di kawasan disusun dalam tiga kategori. Kategori awal adalah pakta militer transregional seperti NATO di mana sejumlah negara kawasan menjadi anggota atau anggota pengawas. Kategori kedua adalah pakta regional seperti Dewan Kerjasama Teluk Persia dan Liga Arab yang terbentuk tanpa partisipasi langsung kekuatan asing. Sementara kategori ketiga adalah pakta militer bilateral negara-negara seperti AS, Inggris dan Perancis dengan negara-negara Arab di kawasan, yang meliputi banyak profit. Sisi kolektif seluruh pakta tersebut adalah upaya menjadikan Iran sebagai ancaman bagi keamanan regional.

 

Amerika Serikat saat ini menjadi pemain asing terpenting dan terbesar di kawasan dan dengan membangun 14 pangkalan militer, Washington telah menjalin kerjasama keamanan sangat luas di kawasan. Sebagian analis mengemukakan perspektif bahwa peran Amerika Serikat di Teluk Persia sedang berubah dari pemain menjadi pengelola. Oleh karena itu, dalam menyikapi instabilitas di kawasan, Amerika Serikat alih-alih terjun langsung, justru berusaha menjadi penentu "aturan main". 

 

Akan tetapi perspektif kelompok lain justru lebih dekat dengan fakta dan transformasi  saat ini, bahwa Amerika Serikat sedang menggulirkan strategi barunya di Teluk Persia dari sudut pandang internasional serta mengimplementasikannya sesuai dengan sikap "masyarakat internasional". Perspektif tersebut sesuai dengan doktrin baru Inggris yang dikemukakan oleh Perdana Menteri Theresa May. Dalam hal ini, baik Amerika Serikat maupun Inggris menekankan beberapa elemen kolektif termasuk memarginalkan Iran dan juga mengesankan Republik Islam sebagai ancaman bagi stabilitas dan keamanan kawasan, dengan menggunakan politik "Iranphobia".

 

Berdasarkan perspektif yang sama pula terbentuklah Dewan Kerjasama Teluk Persia (PGCC). Dean tersebut pada tahun 1983 membentuk pasukan pertahanan kolektif bernama "Perisai Jazirah" dan seiring dengan kian meluasnya propaganda Iranphobia, pembelian senjata negara-negara anggota Dewan juga semakin meningkat dengan alasan menguatnya pengaruh Iran.  

 

Menonjolkan Iran sebagai ancaman kolektif, dan upaya untuk membentuk sebuah identitas budaya kolektif di bawah slogan "persatuan Arab" Telk Persia itu bergulir di saat pangkalan-pangkalan Amerika Serikat dan Inggris sedang mengalami pendefinisian ulang. Kawasan Teluk Persia dalam beberapa dekade terakhir telah mengalami berbagai jenis struktur keamanan. Namun sebagian besar tatanan dan struktur yang berlaku di Teluk Persia berbasis bipolar.

 

Arab Saudi dan Iran, sebelum kemenangan Revolusi Islam, merupakan sekutu utama Barat di kawasan dan berdasarkan doktrin "Twin Pillars" oleh Richard Nixon, kedua negara bertugas menindaklanjuti dan menjamin kepentingan Amerika Serikat di kawasan. Akan tetapi kemenangan Revolusi Islam di Iran telah merusak seluruh perimbangan regional dan global.

 

Memperhatikan masalah tersebut, prioritas dan tujuan penting Saudi di sektor ini, adalah upaya mencegah chaos perimbangan kekuatan di kawasan yang menguntungkan Iran. Oleh karena itu, Arab Saudi sekarang berusaha meningkatkan pengaruhnya. Dengan peluang yang dapat diberikan Britania, Arab Saudi mendorong Inggris untuk meningkatkan kehadiran militernya di kawasan. Ditambah dengan fakta bahwa garis besar politik Arab Saudi adalah mengiringi politik jangka panjang Inggris di kawasan.

 

Riyadh saat ini sedang berada di persimpangan sensitif apakah harus tetap mengandalan Amerika Serikat atau tidak. Rezim Al-Saud ingin memanfaatkan peran baru Britania dan persaingan dua kekuatan interventor di kawasan Teluk Persia itu, untuk mengamankan kekuasaannya. Selain itu, masih harus dilihat bagaimana Arab Saudi akan melanjutkan politik-politiknya di masa lalu yang telah membentur jalan buntu itu dalam menghadapi berbagai tantangan dan friksi  pada era pasca Obama.

 

Meski hingga kini, banyak sisi dari politik luar negeri dan keamanan Donald Trump yang masih mengambang, akan tetapi mengingat kecenderungan Trump untuk "memperdagangkan" perimbangan keamanan, kemungkinan Presiden baru AS ini akan tetapi menilai Dewan Kerjasama Teluk Persia sebagai sebuah komunitas menguntungkan dalam transaksi senjata, serta media untuk mengimbangi kekuatan Republik Islam Iran. Ditambah dengan fakta bahwa penjualan senjata merupakan salah satu sektor paling menguntungkan dalam perputaran roda perekonomian dunia. Dari total volume perdagangan dunia, sedikitnya 16 persen nya adalah di sektor penjualan senjata. Itu berarti setiap hari lebih dari dua miliar USD dibelanjakan setiap hari untuk membeli senjata.