KTT G-20: Konfrontasi AS dan Dunia (Bagian-2, Habis)
Salah satu agenda penting yang digulirkan di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) kelompok G-20 di Hamburg Jerman yang digelar 7-8 Juli 2017 adalah masa depan kesepakatan perdagangan dan secara umum, perdagangan bebas di dunia. Sikap keras kepala Presiden Amerika Serikat, Donald Trump keluar dari kesepakatan perdagangan dengan negara lain telah memicu kekhawatiran seluruh negara anggota kelompok ini.
Sebelum menghadiri KTT Hamburg, Trump di laman Twitternya kembali menekankan bahwa Amerika Serikat menjalin kontrak perdagangan terburuk sepanjang sejarah dunia, karena kesepakatan ini tidak membantu Washington. Sebaliknya seluruh anggota kelompok G-20 khususnya negara-negara yang ekonominya bertumpu pada sektor ekspor seperti Cina dan Jerman menekankan komitmen AS terhadap kesepakatan perdagangannya dengan negara lain. Selain itu, mereka juga menegaskan Washington harus melepas kebijakan proteksionisme yang menjadi agenda perdagangan dan ekonomi pemerintah baru Trump.
Oleh karena itu, para pemimpin kelompok G-20 selama sidang mereka di Hamburg memilih sikap yang berseberangan dengan Trump terkait perdagangan bebas. Dalam hal ini, pemimpin negara G-20 seraya mendukung perdagangan bebas di tingkat internasional, juga menekankan dukungannya terhadap produk dalam negeri. Deklarasi final KTT G-20 menyebutkan bahwa seluruh negara anggota melanjutkan kondisi "Menjaga Pasar Bebas" dan "Melawan Kebijakan Proteksionisme".
Hal ini jelas bertentangan dengan kebijakan pemerintah Donald Trump yang berkuasa dengan slogan "Amerika Pertama". Di berbagai media Barat disebutkan bahwa Emmanuel Macron, presiden Perancis membujuk Turmp untuk menandatangani deklarasi final KTT G-20 terkait isu perdagangan bebas. Di laman Twitternya, terkait hasil perundingannya di Hamburg, Trump menulis, "KTT G-20, sebuah prestasi besar bagi Amerika Serikat".
Saat memberikan penjelasan atas komentarnya tersebut, Trump mengatakan bahwa Washington terbebas dari melaksanakan sejumlah kesepakatan buruk perdagangan. Namun demikian presiden Amerika dalam hal ini terpaksa memberikan sejumlah konsesi dan kompromi.
Menurut Fyodor Lukyanov, ketua Dewan Kebijakan Luar Negeri dan Pertahanan Rusia, Perdagangan bebas dan kecenderungan menolak proteksionisme merupakan dua tujuan utama kelompok G-20. Kelompok ini pada dasarnya dibentuk untuk mencegah peningkatan kecenderungan dukungan terhadap produk dalam negeri (kebijakan proteksionisme) di dunia. Sejak lama seluruh negara anggota kelompok ini mengejar kebijakan tersebut, kini di Amerika, presiden yang baru berkuasa dengan slogan proteksioismenya dan perubahan ini sangat mencolok.
Dari sekian banyak pemimpin dari kubu pro-pasar terbuka, Merkel dinilai menjadi orang paling berpotensi memberi tekanan terbuka ke Trump dalam KTT G20. Pasalnya, sebagai negara dengan ekspor terbesar di Eropa, Jerman selama ini terus menunjukkan agresivitasnya untuk mendorong setiap aksi perdagangan bebas dan globalisasi yang melibatkan Jerman.
Merkel bahkan menjadi pengkritik keras rencana Trump untuk memberlakukan proteksi perdagangan. Di sisi lain dia juga aktif menjalin kerjasama baru di perdagangan bebas dengan negara-negara seperti China, India, dan Meksiko. Terlebih dalam pertemuan dengan Parlemen Jerman pekan lalu, Merkel berjanji memperjuangkan pembelaan pada aktivitas perdagangan bebas di G20.
Dalam pertemuannya dengan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, Merkel kembali menekankan niatannya memperjuangkan pelaksanaan arus perdagangan yang terbuka dan bebas. "Kami sama-sama berkomitmen mendukung masyarakat yang terbuka, terutama arus perdagangan terbuka di KTT G20 nanti," kata Merkel, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (6/7).
Apa yang diperjuangkan Jerman dan Merkel itu berpotensi mendapat dukungan dari Inggris. Pasalnya, kebijakan Negeri Ratu Elizabeth untuk meninggalkan Uni Eropa (Brexit) telah memunculkan persoalan baru, yakni tersingkirnya negara itu dari pasar bebas Uni Eropa. Kondisi itu berpeluang membuat Inggris ditinggalkan para pebisnis dan mereduksi ekspor nasional mereka. Tak heran jika nantinya May akan berusaha membuat Inggris lebih terbuka dan menjadi pendukung aktivitas perdagangan bebas.
Dukungan lain juga diperkirakan datang dari negara Amerika Latin yakni Argentina dan Brasil. Indikasi itu muncul setelah Presiden Brasil Michel Temer ingin agar KTT G20 dapat menghasilkan dokumen dukungan kepada aktivitas perdagangan multilateral yang terbuka sesuai dengan aturan WTO.
Sementara itu, dukungan yang sama juga dinilai akan datang dari Presiden Argentina Mauricio Macri yang menghendaki negaranya dapat berperan kembali di pasar global setelah 15 tahun terisolasi. Di sisi lain, adapula China yang selama ini terus mempromosikan dirinya sebagai lokomotif baru bagi globalisasi dan perdagangan bebas. Presiden China Xi Jinping pun telah mendeklarasikan dukungannya pada aktivitas perdagangan bebas sejak awal tahun ini, saat pertemuan World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss.
Bahkan, Gubernur Bank Sentral China (PBOC) Zhou Xiaouchuan dalam pidatonya April lalu mendesak negara anggota G20 segera menemukan konsensus untuk menyikapi isu globalisasi. Dalam hal ini dia ingin seluruh negara anggota menyatakan dukungan pada globalisasi, dan menolak seluruh bentuk proteksionisme.
Merkel pada 8 Juli di jumpa pers usai KTT menyatakan, selanjutnya anggota kelompok ini dua hari kemudian secara kolektif akan mengumumkan dukungannya terhadap perdagangan bebas. Menurut Merkel, meski perundingan para peserta KTT terkait perdagangan bebas sangat alot, namun hasilnya cukup menggembirakan. Seraya mengisyaratkan perundingan pemimpin negara anggota KTT dengan Donald Trump, Merkel mengatakan, mereka mencapai hasil cukup bagus di sejumlah isu, namun sejumlah isu lainnya hasilnya masih sulit.
Merkel juga secara tersirat mengisyaratkan sikap kontra 19 negara G-20 dengan Amerika dan menekankan bahwa kami dapat mengatakan pasar bebas harus kami pertahankan. Merkel juga menegaskan, para pemimpin G-20 mencapai kesepakatan melawan kebijakan proteksionisme dan mendukung perdagangan adil. Meski demikian, kanselir Jerman mengingatkan bahwa mencapai kesepakatan terkait isu perdagangan dapat diraih setelah perundingan sulit dengan Amerika Serikat.
Sementara itu, para pempimpin G-20 secara kolektif mendukung globalisasi dan melalui komitmen terhadap pelaksanaan kebijakan pintu terbuka dan menentang proteksionisme, mereka memutuskan membantu mengembangkan investasi stabil dengan menciptakan sebuah sistem perdagangan internasional. Di deklarasi KTT G-20 Hamburg ditekankan bahwa melawan kendala baru dan pembangunan bersama negara dunia menjadi tujuan utama kelompok ini sebagai lembaga kerjasama ekonomi dunia.
Donald Trump selama masa kampanye pemilu presiden 2016 menekankan pentingnya kebijakan proteksionisme terhadap produk dan perusahaan Amerika. Ia berjanji jika menang di pemilu, pemerintahannya akan memperhatikan masalah ini dengan serius. Ia bahkan mengancam akan membatalkan sejumlah perjanjian perdagangan Amerika dengan negara-negara lain.
Pasca kemenangan Trump di pemilu presiden dan setelah ia resmi menduduki Gedung Putih pada 20 Januari 2017, presiden baru Amerika ini mulai menggulirkan sikap transparan anti perdagangan bebas dan penentangannya dengan perjanjian internasional. Sikap Trump ini memicu reaksi keras dari berbagai negara dunia. Presiden Donald Trump resmi menarik Amerika Serikat dari perjanjian perdagangan bebas Pasifik atau yang dikenal dengan nama Trans-Pacific Partnership (TPP), Senin (23/1).
TPP adalah peninggalan Barack Obama yang belum juga rampung disahkan. Dengan menarik AS dari TPP berarti Trump telah memenuhi janjinya selama kampanye. Ketimbang terikat dalam perjanjian perdagangan bebas dengan 12 negara anggota TPP, Trump mengatakan AS akan menggelar kesepakatan satu-per-satu dengan negara-negara tersebut.
TPP digadang presiden AS sebelumnya, Barack Obama, sebagai salah satu pendongkrak perekonomian AS. Perjanjian ini telah diikuti 12 negara Pasifik yang mewakili 40 persen ekonomi dunia, yaitu AS, Kanada, Meksiko, Jepang, Australia, Selandia Baru, Chile, Peru, Malaysia, Singapura, Vietnam dan Brunei.
Pakta dagang ini mencakup kesepakatan penghapusan bea masuk dan peningkatan kerja sama dagang. TPP dirancang agar bisa menciptakan pasar tunggal baru, seperti halnya Uni Eropa.
Selain itu, Obama berharap TPP bisa menyaingi pengaruh ekonomi China di kawasan. Namun kesepakatan yang ditandatangani pada Februari 2016 belum diratifikasi dari Kongres AS. Menurut Trump, TPP hanya akan merugikan pengusaha-pengusaha AS. Tidak hanya TPP, Trump juga akan menegosiasi ulang perjanjian dagang bebas Amerika Utara atau NAFTA dengan Meksiko dan Kanada. Trump ingin AS bisa memaksimalkan keuntungan setiap kali melakukan kesepakatan dagang dengan negara lain.