Senjata Api di AS; Kebebasan atau Bencana?
https://parstoday.ir/id/radio/world-i45675-senjata_api_di_as_kebebasan_atau_bencana
Penembakan brutal di Las Vegas yang menewaskan 59 orang, tercatat sebagai insiden paling mengerikan dan berdarah dalam sejarah kontemporer Amerika Serikat.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Okt 10, 2017 09:16 Asia/Jakarta

Penembakan brutal di Las Vegas yang menewaskan 59 orang, tercatat sebagai insiden paling mengerikan dan berdarah dalam sejarah kontemporer Amerika Serikat.

Dalam insiden tersebut, seorang laki-laki berusia 64 tahun bernama Stephen Paddock, memuntahkan peluru dari tingkat 32 hotel di Las Vegas ke arah warga yang sedang menyaksikan konser musik. Akibatnya, sekitar 60 orang tewas dan sebanyak 515 lainnya terluka. Pelaku dengan menggunakan senapan otomatis, memuntahkan 600 peluru selama sembilan menit ke arah kerumunan warga, hingga pada akhirnya dia bunuh diri.

Telah beberapa hari berlalu dari insiden tersebut, akan tetapi pihak berwenang belum menemukan potensi motif dari aksi brutal Paddock. Di balik wajah yang tenang itu, tersembunyi sosok penjudi yang telah selama 10 tahun mengoleksi puluhan senjata. Di rumahnya polisi juga menemukan puluhan koleksi berbagai macam senjata api. Senjata-senjata yang tampaknya dibeli secara legal itu pada akhirnya menorehkan sejarah tragedi Las Vegas yang membuat bukan hanya ratusan keluarga melainkan seluruh rakyat AS berduka.

Namun tragedi Las Vegas bukan pembantaian membabi-buta yang pertama di Amerika Serikat dan yang pasti bukan yang terakhir. Akan tetapi meski telah terulang berkali-kali insiden seperti ini, mengapa pemerintah Amerika Serikat tidak mengekang kepemilikan senjata atau memikirkan solusi dalam hal ini?

Setiap bangsa di dunia memiliki definisi masing-masing dengan fenomena atau konsep tertentu. Bangsa Amerika Serikat tidak memiliki definisi tanpa senjata. Selama beberapa tahun dan menyusul penembakan mengerikan di sekolah dasar di negara bagian Connecticut, yang menewaskan 20 siswa, mantan presiden AS Barack Obama, mengkritik keras kondisi buruk kebebasan senjata dan menilai senjata api sebagai bagian dari identitas orang-orang AS.

Oleh karena itu, telah diupayakan banyak cara untuk memperketat undang-undang membawa dan memiliki senjata api, namun semuanya membentur dinding. Kegagalan tersebut berakar dalam sejarah, budaya, tradisi kebutuhan sehari-hari dan yang terpenting kepentingan ekonomi kelompok-kelompok politik dan lobi di Amerika Serikat. Benua Amerika dan negara yang pada akhirnya menjadi sebuah negara Amerika Serikat, pada hakikatnya terbentuk karena senjata dan hanya hidup dengan senjata.

Para imigran Eropa pada waktu itu sangat mengandalkan senjata api untuk mengalahkan perlawanan dari suku Indian serta dalam menghadapi berbagai bahaya di tanah baru dan kosong tersebut. Tanpa senjata, mereka tidak dapat hidup dan bahkan menjadi bagian dari eksistensi mereka. Revolusi Amerika melawan penjajahan Britania juga mencapai kemenangan dengan bantuan senjata.

Serangan berkesinambungan milisi Amerika, berhasil membuat militer Britania yang disiplin dan besenjata lengkap bertekuk lutut, sehingga George III terpaksa mengumumkan kemerdekaan 13 negara bagian Amerika Serikat. Pengalaman ini memunculkan sebuah langkah baru dalam penyusunan undang-undang dasar di dunia, yaitu hak kepemilikan dan kebebasan membawa senjata yang tercantum dalam UUD Amerika Serikat.

Meski demikian para penyusun UUD tersebut menegaskan bahwa akses senjata untuk warga ditujukan untuk memperkuat mereka dalam menghadapi potensi kebijakan zalim pemerintah dan mencegah terbentuknya pemerintahan despotik Eropa di negara AS yang baru terbentuk. Namun demikian, hak yang seharusnya menjamin keselamatan politik dan mencegah despotisme, pada akhirnya menjadi biang musibah bagi bangsa Amerika Serikat.

Selain tradisi sejarah dan ketentuan hukum, akses senjata api dalam beberapa tahun terakhir terasa semakin urgen menyusul kondisi geografis saat ini. Di kawasan Amerika Serikat yang luas dan tatanan demografi dispersif, warga khususnya di wilayah pelosok barat dan selatan negara ini, tidak punya pilihan kecuali membawa senjata demi menjaga keamanan mereka. Selama beberapa dekade pasca pembentukan Amerika Serikat, lembaga-lembaga keamanan tidak mampu menjamin keamanan warga kecuali di kota-kota besar di timur negara ini. Pada umunya warga memiliki senjata api untuk berjaga-jaga.

Sejarah Amerika Serikat sangat terkenal dengan Wild West era koboi dengan geng-geng bersenjata yang menebar maut dan warga yang cenderung menyelesaikan masalah dengan duel senjata. Bagi warga Amerika Serikat di wilayah barat, hidup tanpa senjata sama artinya dengan kematian. Bahkan kemajuan sipil dan perluasan jangkauan aktivitas lembaga-lembaga keamanan tidak mampu melepas ketergatungan warga Amerika Serikat pada senjata api.

Untuk saat ini, masih banyak dari wilayah pedesaan yang jarak antara rumah warga sangat berjauhan dan mereka terpaksa mengandalkan senjata api untuk menjaga keamanan keluarga mereka dari hewan buas atau penjahat. Jika senjata digunakan untuk menjaga keamanan di wilayah pedesaan, akan tetapi di kota-kota besar senjata api menjadi biang masalah. Oleh karena itu cukup beralasan bila upaya melarang memiliki dan membawa senjata api mendapat penentangan keras dari warga di luar kota-kota besar dan pedesaan.

Drama ketergantungan bangsa Amerika Serikat pada senjata api bukan hanya berasaskan tradisi, sejarah dan tuntutan hidup saja, melainkan telah terikat dengan kepentingan ekonomi perusahaan-perusahaan produsen senjata. Perusahaan-perusahaan yang akan kehilangan peluang untuk menjual jutaan pucuk senjata api jika larangan memiliki dan membawa senjata diratifikasi.

Asosiasi Senjata Nasional (NRA) di Amerika Serikat merupakan salah satu lembaga utama yang memainkan peran penting dalam mengaitkan perusahaan-perusahaan senjata dengan para politisi. NRA juga merupakan lembaga utama pembenteng kebebasan membawa senjata di Amerika Serikat. Disebutkan bahwa NRA memiliki lebih dari lima juta anggota dan merupakan lobi paling berpengaruh di Washington. Bahkan NRA ikut menggelontorkan dana bagi para kandidat presiden dalam pemilu.

Dalam 70 tahun terakhir, para pejabat Amerika Serikat atau deputi mereka yang merupakan anggota NRA di antaranya adalah dua mantan presiden AS John F. Kennedy, Ronald Reagan dan presiden petahana Donald Trump. NRA mendukung hak kepemilikan dan membawa senjata bagi warga Amerika Serikat dengan mengandalkan Amandemen Kedua UUD Amerika Serikat, yang menjamin kebebasan dalam hal ini.

Menurut para pemimpin NRA, keterlibatan pemerintah dalam memberlakukan ketentuan seperti mekanisme penjualan senjata kepada pemilik, larangan sejumlah senjata otomatis dan semi otomatis, menunjukkan pelanggaran individu dan intervensi pemerintah di sektor ekonomi. NRA bahkan menolak pemasangan keamanan pemicu pada senjata api atau larangan produksi tempat peluru yang dapat menampung di atas 30 peluru.

Secara keseluruhan, NRA menentang keras segala bentuk batasan yang diberlakukan pemerintah di bidang kepemilikan dan membawa senjata, bahkan bagi orang-orang yang memiliki gangguan mental. Karena menurut NRA batasan tersebut akan mempengaruhi profit dan pendapatan puluhan miliar dolar perusahaan-perusahaan produsen senjata. Dengan sedikit menyisihkan dana dari keuntungan penjualan senjata tahunan mereka, NRA hingga kini berhasil mencegah segala bentuk larangan dan batasan kepemilikan dan membawa senjata di Amerika Serikat.

Sejak dua dekade terakhir, berbagai jenis senjata yang lebih destruktif mengalir ke pasar Amerika Serikat. Itu dibarengi meningkatnya jumlah korban aksi penembakan brutal di negara ini. Mungkin hanya terjadi di Amerika Serikat, ketika seseorang menembakkan senjatanya ke arah warga tanpa ada alasan atau motif pasti. Data menunjukkan bahwa jumlah korban kekerasan bersenjata di Amerika Serikat sejak awal dekade 1970 atau 50 tahun lalu, telah melampaui jumlah korban dalam perang selama 230 tahun lalu di negara ini.

Setiap tiga dari warga Amerika Serikat, dua di antaranya memiliki senjata dan sebagian dari senjata yang diperjual-belikan bahkan hanya dimiliki oleh militer segelintir negara dunia. Setiap tahun lebih dari 20 ribu orang tewas akibat kekerasan bersenjata di Amerika Serikat. Dan orang-orang yang menderita gangguan mental, kefrustasian sosial dan penjahat sadis seperti Stephen Paddock pelaku pembantaian Las Vegas, dapat dengan mudah mengakses senjata api.

Sebagian senjata api bahkan dijual lebih murah dibanding sebuah buku di Amerika Serikat. Jika seandainya seseorang tidak dapat membeli senjata secara legal, dengan membayar beberapa ratus dolar saja dia dapat memperoleh senjata paling modern di pasar gelap. Dan pada akhirnya selama warga Amerika Serikat tidak dapat merasakan keamanan tanpa membawa senjata, dan selama kepentingan perusahaan-perusahaan produsen senjata menjadi prioritas, tragedi di Las Vegas tidak akan dapat dicegah dengan cara lain.