Mimpi Amerika Wujudkan Timur Tengah Baru (Bag. 2, Habis)
https://parstoday.ir/id/radio/world-i55006-mimpi_amerika_wujudkan_timur_tengah_baru_(bag._2_habis)
Asia Barat atau Timur Tengah adalah wilayah geografis majemuk yang terdiri dari berbagai etnis, mazhab dan ras, dan merupakan tempat lahir agama-agama Tuhan. Karakteristik ini, selain posisi geopolitik dan cadangan melimpah minyak dan gas, membuat wilayah Timur Tengah semakin urgen.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Apr 14, 2018 05:10 Asia/Jakarta

Asia Barat atau Timur Tengah adalah wilayah geografis majemuk yang terdiri dari berbagai etnis, mazhab dan ras, dan merupakan tempat lahir agama-agama Tuhan. Karakteristik ini, selain posisi geopolitik dan cadangan melimpah minyak dan gas, membuat wilayah Timur Tengah semakin urgen.

Sejak awal abad 20 terutama pasca berakhirnya perang dunia pertama dan kedua, posisi geopolitik Timur Tengah sangat penting dalam kebijakan luar negeri Inggris, kemudian Amerika Serikat.

Bahkan proses pembangunan negara-bangsa atau nation state di kawasan, penentuan perbatasan negara dan jaminan keamanan penguasa kawasan, dilakukan oleh kekuatan adidaya Barat.

Tidak diragukan, pembentukan sebuah kawasan bernama Timur Tengah adalah hasil dari penjajahan Inggris dan Perancis. Berdasarkan perjanjian Sykes Picot tahun 1914, dibentuklah sebuah wilayah geografis baru sesuai peta penjajah.

Tolok ukur pendirian negara-negara baru dan perbatasan di Timur Tengah, ditentukan sedemikian rupa sehingga bisa menjamin kepentingan imperialis. Dengan kata lain, pembagian wilayah yang dipaksakan itu membuka kemungkinan pecahnya krisis-krisis abad ke-20 di Timur Tengah.

Konflik Arab-rezim Zionis Israel, perang Irak-Kuwait, sengketa perbatasan Arab Saudi, Qatar dan Uni Emirat Arab, konflik mazhab di Saudi dan Bahrain, serta krisis-krisis serupa lainnya, semua merupakan dampak geopolitik penjajah di kawasan Timur Tengah.

Peta Timur Tengah

Disintegrasi Palestina dan terbentuknya rezim penjajah Israel tahun 1948 dapat dianggap sebagai puncak intervensi kubu imperialis di Timur Tengah yang selamanya menjadi sumber ketegangan dan krisis di wilayah ini.

Di masa perang dingin, dunia terbelah menjadi dua blok, dan sistem yang berlaku cenderung bipolar. Saat itu beberapa negara Muslim terkonsentrasi di perbatasan selatan Uni Soviet.

Oleh karena itu, Amerika Serikat lebih konservatif dan menjadi pendukung pembagian negara dan wilayah berdasarkan perjanjian Sykes Picot, serta berusaha memecah belah Timur Tengah.

Amerika yang gagal meraih ambisinya lewat pengerahan kekuatan militer, sekarang menyebut Timur Tengah sebagai "lelaki tua sakit abad ke-20". Penamaan ini merupakan pendahuluan lain bagi upaya memecah belah dan membagi-bagi wilayah ini.

Berdasarkan strategi itu, di era pasca perang dingin, khususnya setelah peristiwa 11 September, kebijakan teritorial Barat dan Amerika terkait negara-negara Timur Tengah, mengalami perubahan.

Konflik etnis, perang saudara dan pembagian wilayah perbatasan rekayasa di Timur Tengah dimulai dan pelemahan negara dan perubahan perbatasan kawasan, kali ini  gencar dilakukan dalam kerangka kebijakan luar negeri Amerika.

Proyek Timur Tengah Raya yang digagas Amerika awal tahun 2003 menggunakan dalih perang melawan terorisme dan penghancuran senjata kimia Saddam Hussein, dan dimulai dari perang Irak. Dalam strategi ini, jargon-jargon semacam demokrasi, kebebasan, pembangunan dan reformasi lantang disuarakan.

Konflik etnis dan sengketa perbatasan yang diciptakan oleh perjanjian Sykes Picot, sejak lama sudah membuka peluang yang menjanjikan bagi intervensi kekuatan-kekuatan transregional.

Dengan didudukinya Irak pada Maret 2003 oleh Amerika semakin memperjelas kemungkinan terulangnya kembali skenario Sykes Picot dengan tujuan memecah Timur Tengah. Proyek Timur Tengah Raya pada kenyataannya adalah simbol upaya pembagian wilayah Timur Tengah, kali ini lebih kental warna Amerika-nya.

Atas dasar ini, kebijakan luar negeri resmi dan kekuatan media Barat dipusatkan pada isu konflik Sunni-Syiah yang dipropagandakan sebagai akar instabilitas di kawasan. Dukungan Amerika atas konflik internal di sejumlah negara adalah salah satu opsinya.

Peta Timur Tengah

Oleh karena itu pulalah Amerika tidak pernah menekan Saudi untuk menerapkan demokrasi meski negara itu terus melakukan pelanggaran hak asasi manusia di dalam negeri dan giat menyuburkan terorisme di seluruh dunia. Semua tahu, ancaman teror dunia bersumber dan lahir di Saudi.

Mantan ketua Dewan Hubungan Luar Negeri Amerika, Richard Haass terkait hal ini mengatakan, Sykes Picot baru, jika terealisasi, akan menyelamatkan Amerika dari krisis Irak dan sekarang melebar ke Suriah. Dengan tegas kami katakan bahwa Timur Tengah lama telah pergi menuju keruntuhan.

Maka dari itu, Amerika memanfaatkan setiap konflik internal di negara-negara Muslim dengan maksud untuk mencapai tujuan jangka pendek dan jangka panjangnya. Kajian transformasi negara-negara Muslim menunjukkan bahwa Barat sedang menjalankan strategi disintegrasi dan melemahkan negara-negara dunia. Menariknya, dalam proses menjadikan Timur Tengah seperti wilayah Balkan, Irak sebenarnya bukanlah target pertama.

Sebelumnya di tahun 2011, proses disintegrasi Sudan terjadi akibat tekanan bertahun-tahun Amerika dan langkah pertama yang dilakukan Sudan Selatan adalah mengakui secara resmi negara Israel. Libya dan Yaman merupakan target berikutnya dalam daftar domino upaya disintegrasi yang dilancarkan Amerika dan Israel di kawasan.

Mesin propaganda dan media Barat terus mendengungkan suara disintegrasi dengan jelas mulai dari Yaman, Suriah, Pakistan, Libya, Irak, Turki dan negara Muslim lain di Timur Tengah dan sekitarnya, kepada masyarakat dunia dalam berbagai program termasuk program Bernard Lewis.

Lewis adalah mantan dosen di Universitas Princeton yang menulis lebih dari 20 ribu buku dan makalah ilmiah tentang Timur Tengah dan Dunia Islam. Ia memulai penelitiannya dengan memusatkan kajian pada sejarah kawasan penting Syam atau Levant.

Setelah berdirinya rezim Israel, Lewis memusatkan kajiannya pada sejarah sosial politik dan ekonomi daerah-daerah Arab di bawah kekuasaan Ottoman. Bernard Lewis untuk pertama kali menghadiri pertemuan grup Bilderberg tahun 1979 di Austria dan memaparkan programnya.

Program yang berisi proses disintegrasi negara-negara Timur Tengah termasuk Iran menjadi beberapa negara kecil yang dapat didikte oleh kekuatan ekonomi dan politik anggota grup Bilderberg. Dalam programnya, negara-negara Timur Tengah akan dipecah sesuai akar bahasa, ras dan wilayah.

Inggris menurut program yang didesain Lewis, harus mendukung pemberontakan yang dilakukan kelompok minoritas Druz di Lebanon, Baluch, Turki dan Kurdi di Iran, Alawi di Suriah, kelompok etnis di Ethiopia, aliran mazhab di Sudan, suku Arab di beberapa negara, Kurdi di Turki dan yang lainnya. Tujuan program tersebut adalah memecah belah Timur Tengah dan mengubahnya menjadi negara-negara kecil dan lemah yang bersaing satu sama lainnya.

Tentara Amerika di Timur Tengah

Iran menempati posisi penting dalam program ini. Setiap transformasi yang terjadi di perbatasan Iran dengan mudah dapat mengganggu stabilitas negara tetangga terutama Irak, Turki dan Pakistan. Program Bernard Lewis ini banyak memberikan kontribusi bagi proyek mengubah Timur Tengah seperti Balkan.

Oleh karena itu, untuk merealisasikan skenario Bernard Lewis tersebut, dinas-dinas intelijen Amerika dan Israel menjalankan operasi berbahaya di dalam Iran dengan biaya yang tidak sedikit.

Kehadiran pasukan Amerika di kawasan, pendudukan Afghanistan dan Irak serta pendirian pangkalan-pangkalan militer di sejumlah negara Muslim Timur Tengah, merupakan bagian dari implementasi skenario tersebut oleh negara itu.

Invasi ke Irak atau Afghanistan oleh pasukan Amerika bisa saja terjadi lagi, karena negara itu sedang berusaha menemukan strategi yang lebih ampuh untuk meraih tujuan finalnya di Timur Tengah.