Di Balik Kebocoran Data Facebook
Potensi besar dunia maya dan media sosial saat ini acapkali disalahgunakan oleh pihak tertentu untuk meraih tujuannya, baik target finansial, politik, propaganda, bahkan keamanan. Salah satu kasus terbaru adalah spandal kebocoran data pengguna Facebook.
Pada pertengahan Maret 2018, beredar berita mengenai kebocoran data pengguna Facebook. Meskipun di awal diam, CEO facebook, Mark Zuckerberg akhirnya angkat bicara pada Kamis (22/3) untuk menanggapi isu penyalahgunaan data pengguna media sosial ini oleh Cambridge Analytica.
Penyalahgunaan data 50 juta pengguna Facebook oleh Cambridge Analytica (CA) menjadi salah satu kasus penyalahgunaan data terbesar yang terjadi saat ini. The New York Times melaporkan, CA mengumpulkan data dari mulai identitas pengguna, jaringan pertemanan hingga 'like' pengguna di Facebook. Cara kerjanya dengan memetakan kepribadian berdasarkan apa yang disukai di Facebook, kemudian menggunakan informasi tersebut untuk menargetkan audiens dengan iklan digital, dan kepentingan lain.
The New York Times melaporkan bahwa periset dari CA pada 2014 meminta pengguna untuk melakukan survei kepribadian. Tak hanya itu, pengguna pun diminta untuk mendownload aplikasi yang menghapus beberapa informasi pribadi dari profil mereka dan profil teman mereka.
Skandal penyalahgunaan data oleh Cambridge Analytica pertama kali diungkap oleh Christopher Wylie, yang pernah bekerja di perusahaan pengolah data itu. Wylie memadukan data dengan aspek psikologi yang bisa dipakai untuk memprediksi pilihan pengguna facebook, termasuk arah politik publik. Cara tersebut akan memudahkan untuk menjejali publik dengan iklan-iklan kampanye politik yang "sesuai" dengan karakter psikologis target.
Dalam aksinya, Wylie memanfaatkan data dari pengguna Facebook yang saat ini menjadi jejaring sosial terbesar di dunia. Para ahli mensinyalir cara ini turut membantu Trump memenangkan Pilpres AS tahun 2016. Sebab banyak konsultan politik yang memanfaatkan Facebook untuk menyebar konten demi mempengaruhi pilihan politik.
Data-data ini didapatkan Wylie dari seorang akademisi Cambridge University, Aleksander Kogan lewat perusahaan riset miliknya bernama Global Science Research. Kogan turut membuat aplikasi semacam kuis untuk bersenang-senang soal tes kepribadian di Facebook bernama "thisismydigitallife."
Lewat tes kepribadian yang bisa diakses di laman Mechanichal Turk dan Qualtrics itu, setiap orang yang melakukan tes, tanpa mereka sadari setuju untuk memberi akses kepada Kogan guna mengakses profil Facebook mereka. Bahkan, profil teman Facebook mereka juga bisa dicuri.
Aplikasi kuis inilah yang dimanfaatkan Kogan untuk mengumpulkan data. Menurut laporan AFP, ada 320 ribu orang yang mengikuti kuis di Facebook buatan Kogan, yang kemudian bisa mengumpulkan 50 juta data pengguna Facebook.
Wylie dan Cambridge Analytica menyadari bahwa informasi personal seperti ras, gender, orientasi seksual, kecerdasan, sampai trauma masa kecil, bisa diketahui dengan melacak jejak maya berupa "likes" yang diklik seseorang di laman Facebook mereka. Hanya dengan selusin likes, Cambridge Analytica bahkan bisa memprediksi partai politik mana yang bakal dipilih seseorang.
Berbagai kalangan menilai pihak facebook lalai dalam menjaga kerahasiaan informasi setiap penggunanya yang dimanfaatkan pihak ketiga untuk kepentingan tertentu. Isu penyalahgunaan data 50 juta pengguna Facebook oleh Cambridge Analytica (CA) mendorong munculnya kampanye #DeleteFacebook di media sosial. Pengguna sekaligus perusahaan media beramai-ramai diajak untuk secara permanen menghapus akun mereka.
Pendiri WhatsApp, Brian Acton termasuk salah satu sosok yang paling keras menyerukan kampanye tersebut melalui akun Twitter pribadinya. Brian yang telah hengkang dari WhatsApp pada akhir 2017 itu menyatakan bahwa saat ini waktu yang tepat untuk menghapus akun Facebook.
Pada tahun 2014, WhatsApp dibeli oleh Facebook dengan nilai 19 miliar dolar. Skandal kebocoran data akun facebook telah memukul saham Facebook yang sempat merosot hingga lebih dari 9 persen, dan kekayaan Mark Zuckerberg dilaporkan berkurang sekitar 6 miliar dolar.
CEO Facebook saat ini harus menghadapi berbagai masalah, termasuk memberikan kesaksian di depan para senator dan anggota parlemen DPR AS dalam sidang yang berlangsung lebih dari lima jam pada Selasa (10/4/2018).
Zuckerberg menyesali jaringan sosial itu bisa digunakan secara tidak benar untuk kepentingan politik. Ia menyatakan permintaan maaf baik kepada pengguna maupun publik. "Itu adalah kesalahanku, dan aku minta maaf," kata Zuckerberg.
"Sudah jelas sekarang bahwa kami tidak melakukan cukup [upaya] untuk mencegah alat-alat ini digunakan untuk hal yang berbahaya. Itu berlaku untuk berita palsu, campur tangan asing dalam pemilu, dan pidato kebencian, juga pengembang dan privasi data,” tegasnya dilansir Time.
The Guardian melaporkan bahwa Facebook selama lebih dari dua tahun mengetahui terjadi kebocoran data penggunanya, tapi tidak melakukan aksi signifikan untuk menjaga keamanannya. Cambridge Analytica disinyalir mengakses data lebih dari 80 juta pengguna Facebook untuk pemenangan Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 2016.
Tidak hanya itu, perusahaan pengolah data ini juga dituding mempengaruhi pemilih di Nigeria dengan mengobarkan sentimen anti-Islam. Seorang pembocor atau whistleblower mengungkapkan bahwa Cambridge Analytica mengarahkan sebuah perusahaan layanan digital asal Kanada, AggregateIQ (AIQ) untuk mempengaruhi pemilih dengan video bermuatan Islamophobia pada 2015.
Menteri Keamanan Nasional Inggris, Ben Wallace menyebut korporasi media sosial seperti Facebook, Google dan lainnya sebagai pengejar laba yang sangat kejam. Wallace mengklaim mereka tidak melakukan aksi nyata untuk membantu memerangi ekstremisme online dan terorisme dengan membiarkan tersebarnya pesan kekerasan melalui jejaring sosial.
Kekhawatiran senada juga disampaikan Kepala Europol, Rob Wainwright yang menyatakan bahwa kelompok terois Daesh saat ini sedang mengembangkan media sosialnya untuk menyebarkan keyakinan mereka. Laporan Europol Mei 2017 menunjukkan menjamurnya media sosial kelompok teroris dan ekstrem. Dilaporkan, lebih dari 2.000 kasus media yang berafiliasi dengan Daesh.
Terbongkarnya kebocoran data pengguna Facebook untuk kepentingan tertentu dan berlanjutnya penggunaan media sosial oleh kelompok ekstrem dan teroris untuk menyebarkan keyakinannya, menunjukkan terjadinya penyalahgunaan dunia maya yang bertentangan dengan tujuan perdamaian global dan kesejahteraan masyarakat dunia.(PH)