Alienasi Masyarakat Modern di Barat (1)
https://parstoday.ir/id/radio/world-i56510-alienasi_masyarakat_modern_di_barat_(1)
Pemerintah Inggris baru-baru ini mengangkat seorang menteri baru untuk mengatasi masalah kesepian di tengah masyarakat. Menteri tersebut ke depan akan bekerja untuk membantu menyelesaikan permasalahan kesepian warga Inggris sebagai akibat dari gaya hidup modern. Dalam beberapa dekade terakhir, kesepian dan keterasingan menjadi fenomena yang terus meluas di tengah masyarakat Barat.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
May 09, 2018 13:08 Asia/Jakarta

Pemerintah Inggris baru-baru ini mengangkat seorang menteri baru untuk mengatasi masalah kesepian di tengah masyarakat. Menteri tersebut ke depan akan bekerja untuk membantu menyelesaikan permasalahan kesepian warga Inggris sebagai akibat dari gaya hidup modern. Dalam beberapa dekade terakhir, kesepian dan keterasingan menjadi fenomena yang terus meluas di tengah masyarakat Barat.

Menurut data resmi, di Inggris saja, lebih dari sembilan juta orang mengalami masalah kesepian. Dalam dua bagian acara berseri ini kami mencoba mengulas bagaimana dan mengapa masalah ini bisa muncul di tengah masyarakat Barat.

Dalam pandangan para ilmuwan, kegelisahan terbesar umat manusia sekarang bukan ditimbulkan oleh perang atau kemiskinan, tapi oleh ketakutan atas kesepian dan kesendirian. Berdasarkan hasil kajian para psikolog di Universitas Brigham Young, Amerika Serikat, kesepian dan terisolasi secara sosial, merupakan ancaman besar bagi manusia modern.

Wanita dan Pria di Barat

Hasil penelitian ilmuwan yang dipublikasikan dalam konvensi tahunan Asosiasi Psikologi Amerika, APA, menunjukkan bahwa interaksi sosial adalah kebutuhan bagi manusia untuk menjaga kesehatan jiwa dan kunci kelanggengan generasi manusia.

Menurut laporan yang dipublikasikan tahun 2017 itu, bahaya kesepian setara dengan menghisap 15 batang rokok dalam sehari. Namun sungguh disayangkan, kesepian dan terisolasi secara sosial, saat ini telah berubah menjadi sebuah epidemi terselubung dan menjangkiti seluruh lapisan umur, terutama di tengah masyarakat Barat.

Kesepian adalah sebuah masalah yang selalu mendapat perhatian serius sejak dahulu kala. Para psikolog mendefinisikan kesepian sebagai keadaan yang rumit dan biasanya tidak menyenangkan dan dimulai dengan keterasingan atau sedikit bahkan tidak adanya teman bicara.

Keadaan ini biasanya meliputi perasaan cemas atas kurangnya komunikasi dan kesempatan berbagi dengan orang lain yang telah berlangsung sejak lama dan berlanjut di masa depan. Kesepian dapat disebabkan oleh sejumlah faktor berbeda seperti faktor sosial, mental dan emosi. Menurut pendapat para pakar, tidak terjalinnya hubungan sosial dapat membawa dampak-dampak yang sangat berbahaya bagi mental dan kesehatan jiwa masyarakat, bahkan dapat mengurangi usia manusia.

Kajian yang dilakukan asosiai pensiunan Amerika, AARP (American Association of Retired Persons) menunjukkan, sekitar tujuh juta warga Amerika yang berusia di atas 45 tahun menderita kesepian akut. Berdasarkan sensus tahun 2014, lebih dari seperempat penduduk Amerika, hidup sendiri dan lebih setengah dari mereka tidak menikah.

Menurut data resmi pemerintah Inggris dan Organisasi Palang Merah, sekitar 15-20 persen (lebih dari sembilan juta) warga Inggris juga hidup sendiri dan terasing. Satu hingga lima warga Inggris yang merujuk ke dokter setiap harinya di negara itu adalah orang-orang kesepian.

Mereka merasa tidak ada yang bisa menyelamatkannya kecuali dengan mendatangi dokter dan untuk beberapa menit berbincang dengan harapan bisa bangkit dari kesepian. Kondisi ini akan semakin buruk ketika kita menyadari bahwa berdasarkan data resmi, 200 ribu orang di Inggris, dalam sebulan sama sekali tidak berbicara dengan seorangpun bahkan untuk semenit.

Sungguh disesalkan, masalah kesepian justru lebih besar menimpa warga Barat yang lanjut usia. Dalam beberapa hari terakhir, media-media Barat dipenuhi propaganda dengan konten ini bahwa setiap orang yang di masa mudanya sibuk bekerja, berhak menikmati hidup sejahtera dan tenang di masa senja dan pensiunnya.

Kebebasan?

Meski harapan tersebut sampai tingkat tertentu berhasil diwujudkan dan para lansia di Barat dapat hidup dari gaji pensiun, namun mereka hidup sendiri. Kalangan lansia di Barat tidak kelaparan dan kehausan, seluruh kebutuhan primernya terpenuhi, tapi mereka tidak punya teman bicara dan hidup dalam keterasingan.

Masalah kesepian warga lanjut usia berbeda antara perempuan dan laki-laki. Biasanya, perempuan lebih mudah mengatasi masalah kesepian di masa tua, dibandingkan laki-laki. Perasaan tidak memiliki sandaran dan kebutuhan hidup bersama di antara para laki-laki, cepat berujung dengan hilangnya keseimbangan jiwa dan mental mereka.

Oleh karena itu, dalam kondisi seperti ini, pria lebih terdorong untuk berpikir bunuh diri ketimbang perempuan dan banyak yang benar-benar melakukannya. Mereka biasanya menggantung diri atau menembak dirinya sendiri untuk mengakhiri hidup atau melemparkan diri dari ketinggian. Data resmi menunjukkan, dari tiga kasus bunuh diri yang dilakukan orang lanjut usia, dua di antaranya dilakukan pria.

Kasus bunuh diri di antara orang lanjut usia di Barat berbeda dengan yang dilakukan kalangan muda, mereka melakukannya bukan sebagai bentuk protes atas kondisi yang ada. Mereka sudah kenyang hidup dan dengan bunuh diri, ingin mengakhiri hidupnya. Para lanjut usia biasanya sudah sejak lama memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri.

Seiring dengan munculnya untuk pertama kali derita fisik, psikis dan sakit, maka saat itu juga ia langsung merealisasikan rencananya itu. Para pakar meyakini bahwa proses bunuh diri di antara orang lanjut usia di Barat terus mengalami peningkatan.

Badan Kesehatan Dunia, WHO mengumumkan, setiap tahun lebih dari satu juta orang melakukan bunuh diri di seluruh penjuru dunia. Berdasarkan laporan badan dunia ini, angka bunuh diri terbesar di dunia terjadi di tengah masyarakat Barat.

Pejabat WHO untuk urusan kesehatan jiwa dan mental, terkait kasus bunuh diri di antara warga Eropa menuturkan, angka bunuh diri di Eropa mengalami peningkatan dan fenomena ini telah berubah menjadi salah satu masalah sosial. Saat ini, fenomena bunuh diri menjadi salah satu cara utama warga Eropa untuk mengakhiri hidup.

Sebagai contoh, data resmi pemerintah Jerman menunjukkan, dalam setiap 47 menit, satu warga Jerman melakukan bunuh diri, sehingga dalam setahun warga Jerman yang meninggal karena bunuh diri sekitar 11 ribu orang. Angka ini ternyata lebih besar terjadi pada warga Jerman yang berusia di atas 65 tahun. Lebih dari sepertiga kasus bunuh diri di Jerman dilakukan oleh orang-orang di usia ini.

Para pakar memprediksikan, kasus bunuh diri di tengah orang lanjut usia Barat terus bertambah, pasalnya secara bertahap jumlah lanjut usia di negara-negara Eropa akan lebih banyak dari pemuda.

Pilihan bagi manusia

Sekarang di Eropa, jumlah warga negara berusia di atas 60 tahun lebih banyak dari pemuda berusia di bawah 20 tahun. Peningkatan jumlah orang lanjut usia di tengah masyarakat Eropa mungkin saja menyebabkan peningkatan angka bunuh diri.

Salah satu pakar psikologi di Universitas Muenster, Jerman percaya bahwa bunuh diri di antara orang lanjut usia di Jerman disebabkan oleh perasaan sia-sia yang muncul di dalam diri mereka. Mereka merasa keberadaannya tidak berguna bagi orang lain. Kepada surat kabar Deutsche Welle psikolog Jerman itu mengatakan, orang-orang pada usia ini menghadapi banyak masalah.

Mereka biasanya menderita sakit menahun dan sakit tersebut dalam banyak kasus memberikan tekanan psikologis dan menyebabkan depresi. Hal ini ditambah dengan kesepian yang dialami sebagian besar dari mereka karena biasanya sudah kehilangan istri dan ditinggalkan anak-anaknya.

Mereka sama sekali tidak punya sandaran dan tempat mengadu, dan karena sudah pensiun biasanya tidak lagi melakukan pekerjaaan yang selama bertahun-tahun ditekuninya dan memberi makna pada kehidupannya. Mereka tidak bisa menyesuaikan diri dengan kondisi baru dan akhirnya memilih bunuh diri untuk menyelesaikan masalah.

Perkembangan pesat teknologi yang telah mengubah cara berkomunikasi manusia menjadi serba online, membuat anak-anak para lanjut usia lebih sering menggunakan media online untuk menghubungi orangtuanya ketimbang bertemu langsung dan bertatap muka.

Namun kenyataannya, tidak ada yang bisa menggantikan pertemuan langsung dan peluk cium ayah dan ibu. Sementara kesepian jauh lebih dalam dari yang dibayangkan dan tidak bisa diselesaikan dengan sekedar mengirim pesan pendek ucapan selamat.

Sedemikan parahnya masalah ini, sampai-sampai  Perdana Menteri Inggris Theresa May menunjuk Tracey Crouch, Menteri Olahraga dan Komunitas Sipil, untuk memimpin kelompok antardepartemen menciptakan kebijakan yang terkait dengan "masalah kesepian" ini. WHO menetapkan Hari Kesehatan Dunia tahun 2017 sebagai hari melawan kesepian dan depresi dengan slogan "Mari Kita Bicara".