Alienasi Masyarakat Modern di Barat (Bag.2 Habis)
Salah satu masalah yang dihadapi dunia Barat saat ini terkait kesepian manusia adalah tenggelamnya masyarakat dalam dunia maya. Penelitian terbaru menunjukkan, banyak masyarakat Amerika yang lebih memilih hanyut dalam internet dan dunia maya ketimbang menjalin interaksi nyata dengan orang lain. Alasan terbesar mengapa masyarakat Amerika banyak yang berkonsultasi dengan psikolog juga karena mereka menderita masalah kesepian.
Di salah satu kota California, Amerika, pernah diadakan sebuah pertemuan yang dihadiri 20 orang laki-laki yang semuanya berstatus kepala keluarga dan berusia rata-rata 30-40 tahun untuk membahas tema tanggung jawab seorang ayah. Ke-20 ayah itu ditanya siapa di antara mereka yang memiliki sahabat di dunia nyata.
Hasilnya cukup mencengangkan, hanya dua orang yang mengaku memiliki sahabat di dunia nyata dan 18 lainnya sama sekali tidak punya sahabat di dunia nyata. Sebuah riset lain menunjukkan, banyak warga Amerika yang lebih memilih menjalin interaksi sosial di dunia maya daripada di dunia nyata.
Meski dunia maya berperan besar menciptakan perasaan kesepian pada manusia, namun sebagian psikolog berpendapat, karena masyarakat Amerika menganggap dirinya bebas dan spesial, mereka tetap kesulitan mencari teman.
Oleh karena itu mereka memanfaatkan dunia maya untuk mencari teman. Sementara sejumlah banyak penelitian menunjukkan bahwa kebutuhan paling vital manusia setelah makan dan tempat tinggal adalah hubungan sosial.
Media sosial membuka lebar kesempatan kepada manusia untuk terkoneksi dengan orang lain di seluruh penjuru dunia, namun pakar teknologi, sosiolog dan psikolog percaya, para pengguna media sosial justru lebih kesepian dibanding orang-orang yang tidak menggunakan teknologi tersebut atau lebih sedikit menggunakannya, mereka bahkan cenderung lebih egois.
Beberapa waktu lalu, Stephen Marche, seorang penulis Amerika dalam salah satu artikel berjudul "Apakah Facebook Membuat Diri Kita Kesepian ?" yang dimuat majalah The Atlantic, menyinggung temuan-temuan dari beberapa penelitian dan menulis, meningkatnya kesepian dan egoisme di tengah mayoritas pengguna media sosial, bahkan telah memunculkan berbagai jenis penyakit fisik dan mental tertentu pada diri mereka.
Marche menambahkan, kita belum pernah sedemikian terkoneksi seperti sekarang, namun kita juga belum pernah merasa sedemikian terasing seperti ini. Para pendahulu kita bahkan tidak pernah membayangkan kondisi ini.
Marche menambahkan, hubungan sosial menurun dan tidak ada lagi yang namanya masyarakat. Kita hidup di dunia serba paradoks yang bergerak sangat cepat, dan semakin kita terikat dengan dunia maya, maka kita akan semakin terasing.
Stephen Marche menjelaskan, kita tahu secara intuitif bahwa kesendirian berbeda dengan kesepian. Kesendirian terkadang bisa membawa ketenangan dan kenikmatan, namun kesepian adalah kondisi kejiwaaan yang membahayakan. Menurut keyakinan Marche, kesendirian bisa menjadi indah, dan pesta yang penuh sesak bisa sangat menyakitkan.
Masalah kesepian di tengah manusia modern bahkan sudah mengalami peningkatan sebelum ditemukannya media sosial. Menurut Marche, "paradoks internet" sudah dimulai sejak dekade 90-an dan pengaruh internet di tengah masyarakat manusia terus mengalami peningkatan sejak saat itu. Seiring dengan hal tersebut, kesepian juga meningkat di tengah masyarakat.
Secara umum, menurut keyakinan Stephen Marche, sekarang sahabat dekat jauh lebih sulit dicari ketimbang sebelumnya. Acara pertemuan dan berkumpul di antara anggota masyarakat menurun drastis, bahkan ketika berkumpul pun diri mereka tidak sepenuhnya berada di sana, karena sebenarnya mereka sudah terpisah dengan masyarakat dan bagi mereka dunia maya lebih menarik.
Sejumlah penelitian menunjukkan, memiliki hubungan sosial yang baik dalam hidup, membantu manusia memiliki perasaan yang lebih baik, namun hari ini masyarakat Barat semakin menjauh dari hubungan sosial di dunia nyata, dan masalah ini bahkan telah menurunkan angka pernikahan di antara mereka.
Dalam beberapa dekade terakhir, tingkat pernikahan di Barat mengalami penurunan tajam. Menurut data resmi pemerintah, hanya setengah masyarakat Amerika berusia dewasa yang menikah.
Di tahun 1960, 72 persen warga Amerika berusia 18 tahun keatas menikah, sementara sekarang hanya 51 persen warga Amerika kelompok usia ini yang menikah. Usia rata-rata menikah untuk perempuan saat ini berubah menjadi 26 tahun dan untuk pria 28 tahun.
Data yang dikeluarkan Uni Eropa menunjukkan, di tahun 1985 jumlah perempuan menikah di kebanyakan negara Eropa yang berusia antara 30-40 tahun, mengalami penurunan tajam. Bahkan dewasa ini muncul model baru dalam kehidupan masyarakat Barat dan sebagiannya mengejutkan.
Sologamy adalah sebuah model keyakinan baru bahwa seseorang menikah dengan dirinya sendiri. Anehnya model semacam ini sedang menyebar dengan luas di sejumlah negara seperti Australia, Inggris dan Amerika Serikat.
Parahnya lagi, dalam kondisi seperti ini, masyarakat Barat semakin jarang membagikan rasa kasih sayang kepada sesama. Banyak laki-laki dan perempuan yang hidup sendiri, tidak punya istri, anak atau famili yang berhubungan dengannya.
Mengapa ? karena lingkungan keluarga di tengah masyarakat semacam itu biasanya sudah dilupakan. Jumlah orang yang hidup sendiri mengalami peningkatan dua kali lipat di Amerika dan Inggris dalam tiga dekade terakhir. Beberapa penelitian baru di Finlandia menunjukkan, kemungkinan "hidup sendiri" dan "kesepian" berdampak pada munculnya depresi, meningkat 80 persen.
Para peneliti Finlandia dalam risetnya meneliti 3.500 perempuan dan laki-laki bekerja, selama tujuh tahun dan pekerjaan sehari-hari mereka dicatat dan kondisi jiwa serta moral setiap orang, dibandingkan.
Hasil penelitian itu menunjukkan, kemungkinan terkena depresi pada orang-orang yang hidup sendiri, mengalami peningkatan. Berdasarkan hasil penelitian itu, depresi merupakan salah satu masalah psikiatri yang paling banyak ditemukan.
Gejala depresi di antaranya adalah munculnya perasaan tertekan dan sedih, rasa percaya diri yang rendah dan tidak berselera melakukan aktivitas apapun dan menikmati hal-hal yang menyenangkan dalam hidup.
Dr. Adrian J. Winbow, salah seorang psikiater Inggris mengatakan, jika ada orang lain di dalam rumah, tekanan dan stress akibat pekerjaan dapat dikurangi secara signifikan. Ia bisa bercanda dengan istri atau mengungkapkan isi hati tentang berbagai hal kepadanya.
Oleh karena itu, menikah dapat menurunkan risiko terserang penyakit mental. Menurut Kantor Statistik Nasional Inggris, berdasarkan sebuah jajak pendapat, sepertiga warga Inggris hidup sendiri dan angka perceraian terus bertambah, sementara jumlah warga yang menikah menurun drastis.
Laporan Kantor Statistik Nasional Inggris juga menyebutkan, diprediksi hingga tahun 2020, 40 persen rumah di Inggris hanya ditinggali satu orang dan mereka 80 persen lebih berisiko terkena depresi dibandingkan orang lain.
Dr. Winbow menuturkan, kita tahu kesepian adalah salah satu penyebab utama depresi dan dari setiap 20 warga Inggris, satu orang di antaranya mengkonsumsi obat penenang dan kemungkinan jumlah warga yang tinggal sendiri di Inggris akan meningkat.
Dengan memperhatikan kenyataan ini, kita dapat memahami bahwa gaya hidup modern mungkin saja bisa membawa kesejahteraan dan kenyamanan materi kepada sebagian masyarakat Barat, namun di sisi lain menciptakan jurang pemisah di antara mereka yang salah satu penyebab utamanya adalah dunia maya.
Interaksi sosial di dunia maya sampai kapanpun tidak akan bisa menyembuhkan kesepian manusia. Oleh karena itu, masyarakat Barat jika ingin mendapatkan ketenangan yang nyata, pertama harus kembali kepada fitrah mereka sebagai makhluk sosial.
Duduk bersama teman, berbincang dan bersenda gurau dengan mereka, adalah nikmat yang bisa menyembuhkan berbagai derita akibat kesepian. Karena itu juga agama-agama Tuhan termasuk Islam menganjurkan untuk menjalin persahabatan dan pertemanan dan berkasih sayang dengan sesama.