AS, dari Kekalahan Tabas hingga Permusuhan terhadap IRGC (1)
-
Tabas
5 Ordibehest di kalender Iran diperingati sebagai hari kekalahan Amerika Serikat di gurun Tabas. Di agresi ini, Amerika Serikat mengalami kekalahan paling menggelikan. Kali ini kami akan menganalisa esensi agresi AS dan alasan permusuhan abadi Washington terhadap Republik Islam Iran.
Peristiwa Tabas sejatinya bagian dari rencana militer Amerika Serikat untuk membebaskan mata-mata mereka di Tehran yang bekerja di kedutaan besar dengan kedok diplomat dan staf kedubes. Para spionase AS ini tengah merancang kudeta untuk menumbangkan pemerintahan Republik Islam Iran yang baru saja dibentuk.
Aktivitas spionase kedutaan besar AS terkuak menyusul gerakan revolusioner mahasiswa pengikut garis Imam pada 13 Aban (4 November 1979) serta ditemukannya ratusan dokumen dan bukti yang sebagiannya dihancurkan.
Untuk mengontrol dimensi aksi memalukan ini, Amerika merancang operasi militer di Iran. Upaya ini ditujukan untuk melepaskan diri dari peristiwa memalukan spionase dan pendudukan pusat mata-matanya di Tehran, namun Washington masih gagal.
Pasukan komando Amerika sebelumnya dikirim ke Arizona dan melakukan latihan keras di wilayah yang serupa dengan Tabas tersebut. Latihan ini dimaksudkan agar pasukan tersebut memiliki kesiapan penuh ketika tiba di Tabas dan melancarkan operasinya. Dengan maksud ini, Amerika membentuk unit Delta Force yang terdiri dari 132 personil untuk menyerang Iran dan membebaskan para sendera. Agresi militer Amerika ini dilancarkan dengan sandi Operation Eagle Claw.
Pada 24 April 1980, enam pesawat dan 8 helikopter Amerika memasuki zona udara Iran untuk membebaskan 53 mata-mata mereka di Tehran. Ketika memasuki zona udara Iran, salah satu helikopter di 120 km Kerman mengalami kerusakan teknis dan terpaksa mendarat serta seluruh penumpangnya dipindahkan ke helikopter lain. Helikopter kedua tersebut pada akhirnya juga mengalami gangguan teknis dan terpaksa kembali ke kapal induk.
6 pesawat dan 6 helikopter lainnya berhasil sampai di Tabas dan mendarat di wilayah terpencil ini di tengah kegelapan malam. Tapi ketika pesawat ini tengah mengisi bahan bakar, salah satu helikopter mengalami gangguan teknis dan ketika operasi belum digelar, tiga helikopter telah berkurang.
Kemudian pasukan ini menghubungi pusat komando operasi dan Presiden AS saat ini Jimmy Carter menginstruksikan pembatalan operasi serta pasukan komando harus segera kembali. Tapi ketika pesawat dan helikopter mulai terbang, tiba-tiba terjadi badai pasir. Pesawat C-130 dan helikopter CH-53 terbakar setelah saling bertabrakan. Selama peristiwa ini delapan pasukan Amerika tewas terbakar dan empat helikopter gagal terbang serta ditinggalkan. Sisa pasukan Amerika meninggalkan Tabas dengan lima pesawat tersisa dan kembali ke kapal induk USS Nimitz. Dengan demikian operasi ini gagal total.
Myles Kaplan, mantan pejabat CIA yang terlibat dalam kudeta 28 Mordad 1332 Hs di Iran menjelaskan tujuan agresi militer AS ke Iran yang kandas di Tabas. Ia mengatakan, "Serangan militer melalui Tabas tidak hanya untuk membebaskan para sandera, tapi tujuan utamanya adalah kudeta dan menumbangkan rezim Iran."
Harold Brown, mantan menteri pertahanan Amerika Serikat mengatakan, "Delapan militer Amerika tewas dalam operasi gagal Tabas dan para sandera belum dibebaskan hingga Ronald Reagen menjabat presiden pada Januari 1981."
Dengan demikian operasi Eagle Claw gagal dilibas badai pasir dan yang tersisa bagi Amerika adalah sebuah skandal besar dan memalukan. Peristiwa Tabas kembali menguak sifat agresor Amerika. Namun demikian, skandal ini bukan akhir dari agresi Amerika Serikat.
Intervensi militer Amerika untuk membebaskan para spionasenya merupakan langkah intervensif Washington di Iran pasca kemenangan Revolusi Islam. Catatan Amerika selama 40 tahun pasca peristiwa Tabas patut untuk dicermati.
Sejatinya Amerika geram karena kehilangan hegemoni minyak dan posisi strategisnya di Iran serta kehilangan salah satu pangkalannya di kawasan yang berperan sebagai penjaga kepentingannya di samping rezim Zionis Israel. Selain itu, AS juga marah atas kemenangan Revolusi Islam Iran dan tumbangnya rezim Shah.
Oleh karena itu, ketika Revolusi Islam Iran menang, wajar jika Amerika melakukan apa saja untuk kembali ke masa lalu dan impiannya menguasai kembali Iran. Kemenangan Revolusi Islam Iran dan akhir dari periode kekuasaan rezim despotik Shah di Iran menjadi babak baru dari kebencian AS terhadap Iran. Dampak dari permusuhan ini berbentuk dukungan terbuka Amerika terhadap rezim Saddam dalam perang delapan tahun dengan Iran. Kemudian dilanjutkan dengan berbagai tekanan AS terhadap Iran di arena internasional, termasuk sanksi ekonomi.
Tidak hanya itu, negara-negara Barat, terutama AS terus menyebarkan isu Iranophobia dengan mengklaim Revolusi Islam Iran mengancam keamanan regional dan internasional. Padahal selama ini justru AS-lah yang menyulut konflik dan instabilitas di kawasan dan dunia.
AS melancarkan aksi spionase luas di Iran yang kemudian disusul dengan peristiwa Tabas, rencana kudeta di Iran dan dukungan terhadap rezim Saddam di Irak. Perilaku AS pasca peristiwa Tabas menunjukkan bahwa Gedung Putih masih tidak bersedia belajar dari peristiwa pahit tersebut. Realitanya adalah permusuhan Amerika terhadap Iran tidak pernah pupus.
Meski mengalami kegagalan memalukan di badai pasir Tabas, namun Washington masih dibuai mimpi indah menaklukkan bangsa Iran dan permusuhannya terhadap bangsa ini masih tetap eksis. Dewasa ini permusuhan dan kebencian Gedung Putih terhadap pemerintah Republik Islam Iran memasuki babak baru.
Pemerintah Amerika setelah 40 tahun mengatakan bahwa mereka tidak memiliki masalah dengan prinsip dan identitas Republik Islam serta untuk meraih ambisinya, Washington melemparkan tudingan tak berdasar kepada identitas, lembaga revolusioner dan rakyat. Perilaku pemerintah AS ini sama artinya dengan berlanjutnya permusuhan Gedung Putih terhadap Iran, tapi di babak baru kehidupan pemerintah Republik Islam. Tujuannya adalah menguasai kembali Iran.
Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Khamenei dua tahun lalu dalam arahannya kepada pejabat pemerintah telah menjelaskan realita ini.
Ayatullah Khamenei mengatakan, "Banyak dari masalah kita dengan Amerika pada dasarnya tidak dapat diselesaikan. Alasannya adalah masalah Amerika dengan kita. Masalah utama dan sejati adalah kita yakni Republik Islam. Bukan energi nuklir, bukan juga isu Hak Asasi Manusia (HAM). Permusuhan Amerika adalah dengan Republik Islam itu sendiri."
Rahbar dalam analisanya soal permusuhan AS terhadap Iran menekankan, salah satu metode kekuatan agresor untuk menakut-nakuti bangsa dan pemerintah serta memaksa mereka untuk menjamin kepentingan haramnya adalah menggertak dan pamer kekuatan.
Beliau menjelaskan, jika Republik Islam dan bangsa Iran takut dari kekuatan tersebut dan mundur, maka kini Iran atau bangsa Iran tidak akan tersisa.
Impian hegemoni kembali AS di Iran masih terus berlanjut dan tuntutan negara ini terhadap Iran adalah penyerahan terhadap arogansi pemerintah Gedung Putih. Sementara jawaban bangsa Iran terhadap kecongkakan AS sangat jelas. Tidak ada optimisme terhadap persahabatan tan perilaku bersahabat Amerika. Pendekatan anti Iran oleh Amerika sebuah realita yang mengharuskan diambilnya sebuah persiapan yang tepat.