Memaknai Ketenangan dan Kegembiraan Bersama Al-Quran
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i12403-memaknai_ketenangan_dan_kegembiraan_bersama_al_quran
Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Uzdma Sayid Ali Khamenei dalam pertemuannya bersama para hafiz dan qari al-Quran menjelaskan posisi dan pengaruh al-Quran dalam kesuksesan hidup manusia di dunia.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Jun 20, 2016 13:09 Asia/Jakarta
  • Al-Quran
    Al-Quran

Rahbar atau Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran, Ayatullah al-Uzdma Sayid Ali Khamenei dalam pertemuannya bersama para hafiz dan qari al-Quran menjelaskan posisi dan pengaruh al-Quran dalam kesuksesan hidup manusia di dunia.

Beliau mengatakan, “Berkah al-Quran tidak ada batasnya. Bersama dan pada al-Quran itu sendiri ada kemuliaan, kekuatan, kemajuan, kesejahteraan materi, ketinggian spiritual, perkembangan pemikiran dan akidah, kesenangan dan ketenangan jiwa. Kita harus memenuhi diri, hati dan jiwa kita dengan pengetahuan al-Quran.”

 

Ketika menjelaskan al-Quran, Rahbar menyinggung ayat:

 

فَأَنْزَلَ اللَّهُ سَكینَتَهُ عَلى  رَسُولِهِ وَ عَلَى الْمُوْمِنینَ وَ أَلْزَمَهُمْ كَلِمَةَ التَّقْوى  وَ كانُوا أَحَقَّ بِها

 

... Lalu Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin dan Allah mewajibkan kepada mereka kalimat-takwa dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya...” (QS. Fath:26)

 

Dalam pertemuan ini beliau selain menilai manfaat tadarus bersama, juga mengajak untuk memikirkan dan memahami al-Quran dan apa yang diajarkannya. Namun pada kesempatan ini, lebih tepat bila mengkaji kata kunci dari pidato tersebut, yaitu ketenangan menurut al-Quran.

 

Al-Quran menganjurkan manusia hidup gembira yang dibarengi dengan ketenangan.

 

Ketika merujuk pada hal-hal yang diajarkan al-Quran, kita akan menemukan kata-kata yang penting dan prinsip, dimana fitrah manusia benar-benar mengenalnya dan menginginkannya, yaitu kegembiraan dan ketenangan.

 

Secara fitrah manusia senang akan kehidupan yang jelas-jelas di dalamnya ada kegembiraan dan ketenangan. Al-Quran juga menggunakan dan memerhatikan beberapa kata kunci kegembiraan dan ketenangan dalam beberapa ayat:

 

أَنْزَلَ اللَّهُ سَكینَتَهُ عَلى  رَسُولِهِ وَ عَلَى الْمُوْمِنینَ

 

Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada orang-orang mukmin.” (QS. Fath: 26)

 

Dalam surat Yunus Allah juga menggunakan kata kunci kegembiraan:

 

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَ بِرَحْمَتِهِ فَبِذلِكَ فَلْیَفْرَحُوا هُوَ خَیْرٌ مِمَّا یَجْمَعُونَ

 

Katakanlah: “Dengan kurnia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Kurnia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 58)

 

Makna Kegembiraan dan Ketenangan

 

1. Sakinatahu:

 

Al-Quran menggunakan kata ‘Sakinatahu’ untuk ketenangan. Para ahli bahasa menjelaskan tentang kata kunci al-Quran ini dengan ibarat yang indah. Akar dari kata ini adalah ‘Sakana’ yang berarti “kestabilan” di hadapan gerakan yang berarti “ketenangan jiwa manusia” dan “hilangnya kepanikan”, “kepanikan dan kegalauan hilang darinya”.

 

Terkait makna istilahi ‘Sakinah’, Jurjani mengatakan, “Cahaya dalam hati manusia yang memberikan ketetapan dan ketenangan dalam menghadapi hal-hal yang bersifat ghaib.”

 

Ayatullah Thabathabai di bawah ayat 247 surat Baqarah, terkait kata “Sakinah” menulis, “Kata ‘Sakinah’ berasal dari kata ‘Sukun’ yang berlawanan dengan gerakan. Kalimat ini dipakai tentang ‘sukun’ dan ketenangan hati yang berarti ketetapan hati dan tidak adanya kepanikan batin dalam mengambil keputusan dan kehendak. Sebagaimana kondisi orang yang bijaksana demikian adanya. (tentunya maksud dari hakim di sini adalah orang yang memiliki hikmah akhlak) yakni penuh semangat setiap kali mengerjakan sesuatu dan Allah telah menetapkan hal ini sebagai ciri khas iman yang sempurna dan ini merupakan anugerah yang besar.

 

2. Kegembiraan:

 

Kegembiraan pada dasarnya sebuah kondisi atau keadaan yang berlawanan dengan kesedihan.

 

Dalam buku Ghurar al-Hikam wa Durar al-kalim, Imam Ali as terkait dengan definisi kegembiraan mengatakan, “

 

السُّرُورُ یَبْسُطُ النَّفْسَ وَ یُثِیرُ النَّشَاغ

 

Kegembiraan itu membuka hati dan menyebabkan keceriaan.

 

Berdasarkan ucapan Amirul Mukmini Ali as ini, bisa disimpulkan bahwa kegembiraan adalah sebuah kondisi, dimana pengaruh awalnya adalah hati dan jiwa manusia terbuka yakni seseorang dalam batinnya merasa ada kelonggaran dan kemudahan dan dari sisi lain menjadikan dia ceria.

 

Istilah kegembiraan secara keseluruhan disebutkan sebanyak dua puluh lima kali dengan berbagai bentuk. Namun tetap saja kata-kata yang berbeda ini digunakan untuk menjelaskan kondisi dan bagaimana kegembiraan itu. Dengan penjelasan ini, dengan melihat secara umum pada ayat-ayat al-Quran bisa disimpulkan bahwa kegembiraan dan keceriaan tidak ditekankan oleh al-Quran secara keseluruhan. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa dalam budaya al-Quran, kegembiraan bisa dibagi menjadi dua bagian; terpuji dan tercela.

 

1. Kegembiraan yang terpuji dan positif

Dalam budaya al-Quran, kegembiraan dan keceriaan yang menyebabkan terbuka dan tumbuhnya jiwa akan menyebabkan kedekatan dan hubungan yang semakin akrab dengan Allah Swt. Kegembiraan seperti ini adalah terpuji dan baik.

 

Akar dan faktor utama kegembiraan yang terpuji

Esensi dan unsur utama kegembiraan seperti ini pada dasarnya bersumber pada iman, takwa, harapan, percaya, tawakal dan rela akan kehendak Tuhan.

 

قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَ بِرَحْمَتِهِ فَبِذلِكَ فَلْیَفْرَحُوا هُوَ خَیْرٌ مِمَّا یَجْمَعُونَ

Katakanlah: "Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan". (QS. Yunus: 58)

Oleh karena itu, Allah Swt mengenalkan hamba-hamba-Nya yang khusus sebagai orang yang terlepas dari kesedihan dan kekhawatiran. Karena mereka bersenjatakan iman dan takwa ilahi.

أَلا إِنَّ أَوْلِیاءَ اللَّهِ لا خَوْفٌ عَلَیْهِمْ وَ لا هُمْ یَحْزَنُونَ؛ الَّذینَ آمَنُوا وَ كانُوا یَتَّقُونَ

Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. (QS. Yunus: 62-63)

Orang-orang yang telah mempersenjatai dirinya dengan takwa ilahi dan menjauhkan dirinya dari segala bentuk noda dosa, tidak saja mereka ini gembira di dunia, bahkan di alam keabadian yakni akhirat juga penuh dengan kegembiraan dan keceriaan. Sebagaimana Allah menjelaskan tentang kegembiraan mereka demikian:

لَهُمُ الْبُشْرى  فِی الْحَیاةِ الدُّنْیا وَ فِی الْآخِرَةِ لا تَبْدیلَ لِكَلِماتِ اللَّهِ ذلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظیمُ

Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar. (QS. Yunus: 64)

2. Kegembiraan yang tercela

Kegembiraan yang tercela bermakna kegembiraan yang memabukkan yang menunjukkan bahwa seseorang percaya secara berlebihan pada kehidupan duniawi yang tidak abadi ini. Orang-orang yang tenggelam dalam angan-angan dan harapan materi dan hawa nafsu pada hakikatnya sedang terjerembab pada kegembiraan semu. Kegembiraan yang tidak kekal dan hanya mendapatkan kehidupan duniawi dan hanya sementara tidak akan mendapatkan kesenangan abadi. Allah Swt dalam surat al-An’am menyingkap tirai kegembiraan semu ini:

  فَلَمَّا نَسُوا ما ذُكِّرُوا بِهِ فَتَحْنا عَلَیْهِمْ أَبْوابَ كُلِّ شَیْ ءٍ حَتَّى إِذا فَرِحُوا بِما أُوتُوا أَخَذْناهُمْ بَغْتَةً فَإِذا هُمْ مُبْلِسُونَ

Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa. (QS. An’am: 44)

Secara keseluruhan, bisa disimpulkan bahwa sebab utama kegembiraan yang memabukkan dan tercela adalah terlalu percaya dan tergantung pada kehidupan materi dan duniawi. (Emi Nur Hayati)