53 Teroris Indonesia Balik dari Suriah
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengkonformasi sedikitnya 53 warga negara ini yang bergabung dengan kelompok teroris di Suriah balik ke Indonesia.
Seperti diberitakan IRNA, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol Suhardi Alius Kamis (27/10) mengatakan, sedikitnya 53 warga Indonesia yang sebelumnya bergabung ke Daesh di Suriah telah balik ke negara ini dan berusaha menarik anggota baru.
“Saat ini sekitar 500 wargaIndonesia di Suriah dan menjadi anggota Daesh. Sekitar 70 dari mereka telah tewas,” papar Suhardi Alius.
Sementara itu, A. Syamsu, petinggi BNPT hari Selasa mengatakan, “Beberapa (pendukung Daesh dari Indonesia) menjalani pelatihan di Filipina.” “Tidak ada jumlah yang pasti tapi mungkin ada puluhan.”
Otoritas di seluruh wilayah tahun lalu merazia simpatisan Daesh yang berusaha pergi ke Suriah. Hal itu memaksa banyak radikal di Indonesia untuk menempuh jalur laut untuk pergi ke Filipina, sehingga melacak gerakan mereka menjadi lebih sulit lagi, ujar Kapolri Jenderal Tito Karnavian dalam wawancara minggu lalu.
Ahli terorisme yang berbasis di Jakarta, Sidney Jones, dalam sebuah laporan yang merinci kaitan-kaitan antara jaringan radikal di Indonesia, Malaysia dan Filipina, mengatakan mereka sekarang meningkatkan kerjasama, meningkatkan kemungkinan terjadinya kekerasan lintas perbatasan.
“Karena pergi ke Suriah semakin sulit untuk para pejuang Asia Tenggara, Mindano (di Filipina selatan) mungkin menjadi pilihan terbaik berikutnya,” tulis Jones dalam laporan tersebut.
Bulan Juni, para militan yang mengklaim sedang bertempur untuk Daesh mengatakan dalam sebuah video bahwa mereka memilih buronan paling dicari di Filipina, Isnilon Hapilon, untuk memimpin faksi Asia Tenggara.
Video tersebut, yang diunggah di media sosial, menandai penerimaan Daesh terhadap sumpah setia dari pendukung di Asia Tenggara dan menyerukan mereka untuk meluncurkan serangan di wilayah ini.
Hapilon diketahui merupakan anggota kelompok Abu Sayyaf yang berbasis di daerah Mindanao dan dikenal dengan penculikan dan pemerasan. Siapa pun yang bisa menangkapnya akan dibayar US$5 juta oleh Departemen Luar Negeri AS, yang menginginkannya atas penculikan orang-orang Amerika tahun 2001.
Kepolisian Malaysia telah menangkap lebih dari 100 tersangka simpatisan Daesh tahun ini dan meningkatkan upaya keamanan untuk mengantisipasi kembalinya para pejuang ini dari Timur Tengah, di tengah serangan yang berlanjut di daerah kekuasaan Daesh di Mosul, Irak.
“Di Malaysia, ada beberapa upaya (serangan) jadi bukan suatu kejutan jika ada ada lebih banyak lagi di wilayah ini, terutama jika mereka putus asa,” ujar kepala unit kontra-terorisme Ayob Khan Mydin Pitchay, dengan menambahkan bahwa ada kemungkinan orang-orang Malaysia pergi ke Filipina.