Ehud Barak: Keberadaan Hizbullah Usai Dua Tahun Perang Adalah Kekalahan Strategis
-
Mantan Perdana Menteri Rezim Zionis, Ehud Barak
Pars Today - Mantan Perdana Menteri Rezim Zionis, Ehud Barak menyatakan bahwa masih bertahannya Hizbullah setelah dua setengah tahun perang merupakan sebuah "kekalahan strategis bagi kabinet".
Dilansir Fars News, 10 Mei 2026, Barak juga mengkritik tajam Benjamin Netanyahu, menuduhnya telah menyeret AS ke dalam situasi ini. "Tanpa keraguan, Netanyahu yang menyeret Trump ke kondisi ini, karena dia (Netanyahu) menjual ilusi, sama seperti yang dia jual kepada warga Israel," kata Barak. Ia menambahkan bahwa Netanyahu sendiri telah mulai percaya pada ilusinya sendiri.
Di sisi lain, Avigdor Lieberman, ketua partai "Rumah Kita Israel", melontarkan kritik pedas terhadap kabinet Netanyahu. Ia menyatakan bahwa Israel terperangkap dalam perang tak berujung tanpa tujuan, keputusan, solusi nyata, atau strategi yang jelas. "Kabinet Netanyahu gagal total. Dalam dua tahun terakhir, tidak ada kemenangan meyakinkan di medan mana pun," tegasnya.
Sementara itu, surat kabar Yedioth Ahronoth mengakui bahwa ancaman drone peledak Hizbullah saat ini belum ada solusinya. "Kami yang terbiasa melihat angkatan bersenjata Israel menghadapi segala jenis ancaman, dari balon api dan layang-layang hingga rudal balistik, kini harus mengakui bahwa ancaman drone peledak tidak memiliki solusi," tulis media tersebut.
Jurnalis militer Channel 12 Israel mengakui bahwa inisiatif tetap berada di tangan Hizbullah. Kelompok tersebut menggunakan drone generasi baru yang menjadi tantangan besar bagi tentara Zionis. Untuk pertama kalinya, Hizbullah menggunakan drone secara luas melawan pemukiman utara dan target-target di dalam Wilayah Pendudukan.
Kanal Israel Kan melaporkan bahwa pasukan Zionis akan mulai memasang sistem "Smart Shooter" pada senjata pribadi mereka untuk meningkatkan kemampuan menembak jatuh drone. Sistem ini sebenarnya bukan teknologi baru, telah digunakan secara terbatas oleh pasukan khusus, kini akan didistribusikan secara luas setelah pembelian dalam jumlah besar .
Mengapa Israel Kewalahan?
Sejumlah analis dan pejabat keamanan Israel kini mengakui bahwa ancaman drone berserat optik Hizbullah telah mengejutkan mereka. Berikut rincian mengapa situasi ini menjadi sangat genting:
Ancaman yang Telah Diketahui Sejak Lama
Drone FPV (First Person View) dengan kabel serat optik pertama kali menjadi perhatian global dalam skala besar di medan perang Ukraina. Fakta bahwa Israel, yang dikenal dengan kecanggihan teknologinya, tidak memiliki solusi yang matang hingga saat ini menunjukkan adanya kegagalan dalam membaca perkembangan medan perang.
Mengapa Drone Ini Sulit Diatasi?
Kelemahan utama terletak pada kabel serat optik sepanjang 10 hingga 20 kilometer yang menghubungkan drone dengan operatornya . Karena terhubung melalui kabel, drone:
1. Tidak Memancarkan Sinyal Radio: Ini membuatnya kebal terhadap sistem peperangan elektronik (jamming) tercanggih Israel sekalipun.
2. Sulit Dideteksi: Sistem radar kesulitan mendeteksi drone kecil yang terbang rendah karena tidak memancarkan sinyal.
Taktik "Payung" dan "Gunting"
Karena tidak ada solusi teknologi yang sempurna, tentara Zionis terpaksa menggunakan cara-cara primitif yang dipelajari dari Ukraina :
- Memasang jaring atau tudung besi di atas kendaraan dan posisi untuk memicu ledakan drone sebelum menyentuh target.
- Pejabat keamanan mengakui bahwa upaya mencari solusi terlambat dimulai. Meskipun ancaman ini sudah terlihat sejak 2024, tidak ada solusi sistemik yang diterapkan secara memadai, dan kini para prajurit di lapangan-lah yang membayar harganya.
Di tengah krisis kepemimpinan internal dan kekacauan teknologi di medan perang, para petinggi politik dan militer Israel menyuarakan keprihatinan yang mendalam. Pengakuan dari Barak, Lieberman, hingga media Israel sendiri menunjukkan bahwa rezim Zionis tidak hanya menghadapi ancaman eksternal yang mematikan dari Hizbullah, tetapi juga ancaman internal dari kebijakan dan strategi yang gagal. Ironisnya, drone murah seharga beberapa ratus dolar berhasil menantang dan mengalahkan sistem pertahanan miliaran dolar Israel.
Di sinilah perang asimetris menunjukkan kekuatannya yang sesungguhnya: Tidak harus menghancurkan musuh. Cukup membuatnya frustrasi, takut, dan tidak berdaya di tanahnya sendiri.(Sail)