Undangan Resmi Iran untuk Wakil Presiden RI
Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla menerima Duta Besar Republik Islam Iran untuk Jakarta, Valiollah Mohammadi Nasrabadi. Dalam pertemuan selama 30 menit itu, Duta Besar Iran membicarakan hubungan kedua negara dan membahas beberapa hal mulai dari ilmu pengetahuan, energi hingga pariwisata.
"Yang digarisbawahi adalah kerjasama di bidang energi, ilmu pengetahuan dan teknologi. Meningkatkan sektor di pariwisata adalah hal yang dibahas," kata Valiollah di Kantor Wakil Presiden, Jakarta Pusat, Jumat, 27 Oktober 2017.
Valiollah juga menyampaikan undangan resmi Wakil Presiden Iran untuk Wakil Presiden RI untuk mengunjungi Tehran dalam rangka membahas isu-isu kawasan Timur Tengah dan internasional, terutama membahas peningkatan kerja sama antara kedua negara.
Meski tak menjelaskan secara detil, namun undangan ini diberikan kepada Jusuf Kalla atas tindak lanjut hubungan baik RI-RII setelah kunjungan Presiden RI Joko Widodo ke Iran pada 14 Desember 2016.
"Hari ini saya mempunyai suatu kehormatan untuk dapat bertemu yang mulia Wakil Presiden RI Bapak Jusuf Kalla dalam pertemuan siang hari ini, selain untuk memberikan salam hormat dari Wakil Presiden Republik Islam Iran, sekaligus menyampaikan undangan resmi kami untuk bisa berkunjung ke Iran," ujarnya.
Seperti dilansir Antaranews, Valiollah mengatakan, kami mengundang secara resmi untuk bisa berkunjung ke Republik Islam Iran untuk meningkatkan hubungan kedua negara.
Menurutnya, kerja sama antara kedua negara dalam dua tahun terakhir berkembang pesat, apalagi setelah kunjungan Presiden RI Joko Widodo ke Iran pada 14 Desember 2016.
"Dalam dua tahun ini hubungan kita berkembang pesat apalagi setelah kunjungan Presiden Joko Widodo ke Republik Islam Iran. Kedua negara menyaksikan hubungan lebih cepat, kemudian di berbagai bidang khususnya ilmu pengetahuan, teknologi, perdagangan, perekonomian dan pariwisata," sambungnya.
Dalam undangan tersebut Wapres RI dan Iran akan membahas beberapa poin antara lain kerja sama bilateral hingga situasi kawasan internasional dan kawasan Timur Tengah.
"Kami sangat yakin dengan kunjungan Wapres ke negara kami, kedua belah pihak akan semakin baik hubungannya dan mengembangkan potensi satu sama lain untuk dipergunakan bagi kepentingan bersama," ujarnya.
Menurutnya, kerja sama kedua negara di bidang energi, ilmu pengetahuan dan teknologi serta pariwisata, juga masih bisa ditingkatkan.
Berdasarkan laporan CNN, nilai perdagangan antara Indonesia dan Iran sebelum dijatuhkan sanksi tercatat cukup besar. Nilai total perdagangan bilateral Indonesia-Iran tembus US$ 273,1 juta di tahun 2015. Nilai itu turun sebesar 38,51 persen sejak 2011, yang tercatat sebesar US$ 1,8 miliar. Jadi, empat tahun sebelumnya, nilai perdagangan keduanya mencapai US$1,8 miliar.
Adapun, hingga Agustus 2016, nilai perdagangan bilateral Indonesia-Iran hanya sebesar US$150 juta atau lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, yaitu sebesar US$ 195 juta.
Dari sisi investasi, berdasarkan catatan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), realisasi investasi Iran di Indonesia secara kumulatif selama tahun 2011-2014 sebesar US$ 6,3 juta dengan total 16 proyek.
Namun, sanksi tersebut juga sempat membuat akses perbankan antara Indonesia dan Iran terputus yang akhirnya membuat aktivitas pembiayaan ekspor-impor keduanya berhenti total.
Iran merupakan sahabat dan mitra dagang strategis bagi Indonesia. Hubungan bilateral kedua negara semakin erat pasca pertemuan kedua negara di KTT KAA 2015 dan KTT Luar Biasa OKI Maret 2016. Momentum ini juga makin terjaga, pasca implementasi JCPOA (Rencana Aksi Bersama Komprehensif) yang mencabut sebagian sanksi ekonomi terhadap Iran.
Dalam jangka pendek, Indonesia akan mengoptimalkan beberapa komoditas yang dianggap potensial dan banyak diminati oleh masyrakat Iran. Beberapa sektor yang menjadi andalan ekspor Indonesia, antara lain minyak sawit, tekstil, pakaian jadi, industri serta produk industri.
Sementara bagi Iran, investor Iran disebut-sebut tengah melirik beberapa sektor energi seperti kelistrikan hingga kilang minyak. Pada akhir tahun 2016, Iran mengungkapkan keinginannya untuk masuk ke kilang dan jika masih ada kesempatan, negara itu akan investasi 35 Megawatt (MW). (RA)