Posisi Tertinggi Pertumbuhan Ekonomi RI Sejak 2014
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i51015-posisi_tertinggi_pertumbuhan_ekonomi_ri_sejak_2014
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, produk domestik bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi Indonesia selama tahun 2017 mencapai 5,07 persen. Angka ini, menurut BPS, merupakan angka pertumbuhan ekonomi tertinggi sejak tahun 2014 silam.
(last modified 2026-05-06T17:35:17+00:00 )
Feb 05, 2018 08:57 Asia/Jakarta
  • BPS.
    BPS.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, produk domestik bruto (PDB) atau pertumbuhan ekonomi Indonesia selama tahun 2017 mencapai 5,07 persen. Angka ini, menurut BPS, merupakan angka pertumbuhan ekonomi tertinggi sejak tahun 2014 silam.

Kepala BPS Suhariyanto menyebut, angka pertumbuhan ekonomi pada tahun 2017 tersebut lebih rendah dari target yang dipasang pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), yakni 5,2 persen. Namun demikian, ia optimistis ekonomi Indonesia ke depan bisa tumbuh lebih tinggi.

"Memang masih di bawah target 5,2 persen, tapi angka ini cukup bagus. Kita tentunya berharap pada kuartal berikutnya pertumbuhan ekonomi kita makin meningkat, sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan rakyat," ujar Suhariyanto dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (5/2/2018) seperti dikutip Kompas.

Suhariyanto menyebut, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2017 merupakan angka tertinggi sejak tahun 2014. Sekedar informasi, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2014 sebesar 5,01 persen, tahun 2015 sebesar 4,88 persen, dan tahun 2016 sebesar 5,03 persen.

"Artinya hasil pembangunan infrastruktur mulai bergulir," tutur Suhariyanto.

Ia menyebutkan, sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2017 adalah industri pengolahan, yakni 0,91 persen. Selain itu, disusul sektor konstruksi sebesar 0,67 persen, perdagangan 0,59 persen, dan pertanian 0,49 persen.

"Sumber pertumbuhan 3 tahun terakhir dari industri pengolahan. Kalau bisa meningkatkan pertumbuhan di industri dampaknya bisa besar, karena menyerap banyak tenaga kerja dan kontribusinya besar sekali," sebut Suhariyanto.

Tingkat Inflasi pada Januari 2018

Sementara itu, menurut Antaranews, Badan Pusat Statistik mencatat inflasi pada Januari 2018 sebesar 0,62 persen sehingga inflasi tahun ke tahun (year on year) 3,25 persen, kata Kepala BPS Suhariyanto di Jakarta, Kamis.

Inflasi Januari 2018 ini lebih kecil dibanding inflasi Desember 2017 sebesar 0,71 persen atau inflasi Januari 2017 sebesar 0,97 persen.

Inflasi terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya beberapa indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok bahan makanan sebesar 2,34 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,43 persen; kelompok perumahan, air, listrik, gas, dan bahan bakar sebesar 0,23 persen.

Selanjutnya kelompok sandang sebesar 0,50 persen; kelompok kesehatan sebesar 0,28 persen; dan kelompok pendidikan, rekreasi, dan olahraga sebesar 0,16 persen. Sementara kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks, yaitu kelompok transpor, komunikasi, dan jasa keuangan 0,28 persen.

Menurut BPS, 79 kota mengalami inflasi dan 3 kota mengalami deflasi. Inflasi tertinggi terjadi di Bandar Lampung sebesar 1,42 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK)  sebesar 133,17 dan terendah terjadi di Tangerang sebesar 0,04 persen dengan IHK sebesar 138,34.

Sementara deflasi tertinggi terjadi di Jayapura sebesar 1,12 persen dengan IHK sebesar 130,28 dan terendah terjadi di Meulaboh sebesar 0,14 persen dengan IHK sebesar 131,63.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati.

4 Faktor Pendorong Kemajuan Indonesia

Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menghadiri dan menyampaikan orasi ilmiah pada acara Dies Natalis dan Wisuda Program Magister, Profesi, Spesialis, dan Doktor Universitas Indonesia (UI), Sabtu, 3 Februari 2018. Acara tersebut diselenggarakan di Balairung Kampus UI Depok, Jawa Barat.

Sri Mulyani menyatakan, dirinya mengapresiasi UI yang telah banyak menghasilkan para pemikir dan pembuat kebijakan pada masa lalu untuk membuat Indonesia menurun angka kemiskinannya.

"Kita harus bangga dan terinspirasi dengan berbagai macam capaian yang dilakukan oleh policy maker tersebut," kata Sri Mulyani, seperti yang dikutip dari unggahan pada akun Facebook pribadinya, Minggu (4/2/2018).

Sri Mulyani pun kemudian menekankan kondisi Indonesia yang saat ini menjadi negara berpendapatan menengah (middle income country). Untuk bisa menjadi negara maju (high income country), Indonesia perlu mencari upaya bagaimana menghilangkan kendala untuk menjadi negara maju tersebut.

"Apakah itu dari sisi investasi, teknologi, sumber daya manusia, dan institusi," ungkapnya seperti dikutip Kompas.

Ia menyatakan, ada empat hal yang menjadi faktor untuk mendorong hal tersebut. Pertama, faktor manusia. Indonesia memiliki dividen demografi yang harus memiliki kemampuan untuk produktif.

Oleh sebab itu, investasi di bidang sumber daya manusia menjadi penting. Pemerintah sendiri telah mengalokasikan 20 persen anggaran di bidang pendidikan dan 5 persen di bidang kesehatan.

"Itu harus mampu menghasilkan manusia terutama generasi muda yang memiliki pemikiran kreatif, inovatif, dan terbuka," ujar mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut.

Kedua, urbanisasi. Proses urbanisasi, tutur Sri Mulyani, akan membuat banyak masyarakat Indonesia tinggal di perkotaan, yang akan meningkatkan permintaan konsumsi dan sebagainya, sehingga mendorong investasi dan produktivitas.

"Oleh karena itu, infrastruktur perlu dibangun," kata dia.

Ketiga, Indonesia bisa memiliki kesempatan untuk melakukan diversifikasi ekonomi pada saat harga komoditas turun.

Keempat, institusi. Sri Mulyani berpandangan, sangat penting untuk membangun institusi publik yang sehat, bersih, dan tidak koruptif. Penting pula untuk membangun institusi swasta, yaitu perusahaan-perusahaan yang produktif dan kompetitif.

"Ini adalah sesuatu yang bisa kita lakukan dalam konteks untuk menyambung era teknologi. Era teknologi 4.0 akan mengharuskan kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan swasta maupun filantropi yang berasal dari dalam dan luar negeri," ungkap Sri Mulyani.