IMF dan Optimisme Perekonomian Indonesia
Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Christine Lagarde dalam pertemuan dengan Presiden Indonesia, Joko Widodo menyebut kinerja perekonomian Indonesia tangguh dan memiliki prospek yang baik di tahun-tahun mendatang.
Situs Antara melaporkan, pertemuan keduanya dilakukan untuk membicarakan perkembangan perekonomian terkini, prospek Indonesia dan persiapan penyelenggaraan Pertemuan Tahunan IMF-WB di Bali.
Dalam pertemuan itu, Lagarde juga memuji kinerja Presiden Joko Widodo dan jajaran kabinet yang sukses memperkuat kerangka kebijakan ekonomi.
"Kami juga mendiskusikan pentingnya mencapai pertumbuhan ekonomi tinggi yang potensial guna menciptakan lapangan kerja dan mendukung angkatan kerja yang terus tumbuh," kata Lagarde dilansir Antara.
Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan, pertemuan antara Presiden Indonesia dan direktur pelaksana IMF membahas sejumlah masalah.
Jokowi dan Lagarde membicarakan perkembangan ekonomi global hingga digital ekonomi. Keduanya juga membahas mengenai kesiapan Indonesia dalam menggelar pertemuan tahunan IMF dan Kelompok Bank Dunia tahun 2018, yang akan diselenggarakan di Nusa Dua Bali pada Oktober mendatang.
Selain itu, presiden Indonesia dan direktur pelaksana IMF juga membahas masalah usaha kecil dan menengah (UKM) di era perkembangan ekonomi digital. Menurutnya, Indonesia perlu mempersiapkan diri dalam menghadapi perkembangan ekonomi digital pada sektor UKM.
Kemudian, kedua pihak berdiskusi mengenai permasalahan mata uang digital yang tengah menjadi topik utama di berbagai negara.
Jokowi memaparkan kepada Christine Lagarde bahwa Indonesia sedang mengedepankan kebijakan yang mengutamakan pendidikan vokasi dan keterampilan masyarakat, terutama generasi muda untuk siap menghadapi era digital.
Selama ini, Jerman dan Denmark di level internasional memiliki program yang baik mengenai kolaborasi antara pemerintah dengan dunia usaha dalam pendidikan vokasi itu.
Masih mengenai ekonomi, situs riset dan berita, Kata Data hari Senin (26/2) menurunkan laporan mengenai optimisme Presiden Jokowi bahwa Asia Tenggara dan India bisa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi di kawasan Samudera Hindia. Melalui Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (RCEP), kedua pihak akan mendukung stabilitas di Indo-Pasifik.
Saat ini, Indonesia berada dalam posisi strategis sebagai koordinator perundingan RCEP. Posisi tersebut memungkinkan Indonesia mendorong negara-negara peserta RCEP menyepakati strategi dan langkah-langkah penyelesaian perundingan RCEP.
Kawasan ASEAN dan India merupakan pasar yang besar, dengan jumlah penduduk diperkirakan hampir 2 miliar jiwa. Dari angka tersebut, penduduk usia produktif mencapai hampir 1,5 miliar.
ASEAN dan India mewakili 50 persen populasi dunia, 31 persen pendapatan per kapita dunia, 32 persen ekspor dunia, 27 persen dari impor dunia, dan 28 persen penanaman modal asing dunia.
Optimisme pertumbuhan ekonomi dunia juga menyumbang kontribusi cukup penting yang diperkirakan naik menjadi 3,7 persen di tahun 2018 dari 3,6 persen pada tahun lalu.
Ekonomi ASEAN diprediksi tumbuh 5 persen, sedangkan ekonomi India diperkirakan tumbuh 7 persen pada tahun 2018.
Meski begitu, masih ada sejumlah kondisi ketidakstabilan dunia yang harus dihadapi ASEAN dan India. Salah satu contohnya adalah pesimisme pelemahan ekonomi global pada jangka panjang, hingga meningkatnya kecenderungan proteksionisme di berbagai negara. (Antara/Kompas/Katadata/PH)