Dampak Kecanduan Gawai Bagi Anak
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i52771-dampak_kecanduan_gawai_bagi_anak
Riset membuktikan, anak-anak yang terlalu sering menggunakan gawai berpotensi mengalami kesulitan untuk memegang pensil dengan benar. Terlalu banyak menggunakan ponsel dan tablet layar sentuh menghambat otot jari anak-anak untuk berkembang. Pada akhirnya, kondisi itu akan menyebabkan mereka tak mampu memegang pensil dengan benar. Demikian kesimpulan yang terungkap dalam penelitian Heart of England Foundation NHS Trust.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Mar 05, 2018 07:07 Asia/Jakarta

Riset membuktikan, anak-anak yang terlalu sering menggunakan gawai berpotensi mengalami kesulitan untuk memegang pensil dengan benar. Terlalu banyak menggunakan ponsel dan tablet layar sentuh menghambat otot jari anak-anak untuk berkembang. Pada akhirnya, kondisi itu akan menyebabkan mereka tak mampu memegang pensil dengan benar. Demikian kesimpulan yang terungkap dalam penelitian Heart of England Foundation NHS Trust.

"Di masa kini, anak -anak tak dituntut untuk menggunakan kekuatan dan ketangkasan tangan yang mereka, seperti yang terjadi 10 tahun silam." Demikian dikatakan Sally Payne, Kepala Terapis Okupasi Pediatrik di Heart of England Foundation NHS Trust, dilansir Harian The Guardian.

Dia menyebutkan, teknologi mencegah anak mengembangkan keterampilan untuk mencengkeram, dan bahkan memindahkan pensil seperti yang didapat dalam permainan tradisional.

"Lebih mudah memberi anak iPad daripada mendorong mereka untuk melakukan permainan membangun otot seperti menyusun balok, memotong, dan menempel, atau menarik mainan dan tali," ucapnya.

iPad

"Padahal, kegiatan itu memungkinkan mereka mengembangkan keterampilan dasar yang mereka butuhkan untuk mencengkeram dan memegang pensil," tambah Sally Payne.

Di Inggris, ada kasus seorang anak laki-laki berusia enam tahun bernama Patrick, yang menerima terapi khusus untuk membantu memperkuat jari telunjuk, agar bisa memegang pensil dengan benar. Berdasarkan kesaksian sang ibu, Laura, bocah malang tersebut ternyata terlalu sering bermain dengan gadget. Sang ibu juga mengaku, dia jarang sekali mengajak anaknya memainkan permainan tradisional. Efek tersebut baru diketahui oleh orangtua Patrick saat sang anak mulai memasuki masa sekolah.

Pihak sekolah menghubungi Laura, dan menginformasikan tentang masalah tersebut. "Dia mencengkeram pensilnya seperti orang gua yang memegang tongkat. Dia tidak bisa menahannya dengan cara lain, dan karenanya tidak bisa belajar menulis."

"Dia tidak bisa menggerakkan pinsil untuk keperluan sekecil apa pun," sebutnya.

Laura mengaku senang, karena pihak sekolah tergerak untuk menginformasikan dan membantu proses tumbuh kembang Patrick.

"Sesi terapi sangat membantu, dan saya sangat ketat sekarang di rumah dengan akses terhadap teknologi." "Menurut saya, sekolah tersebut telah menangkap masalah ini cukup dini," kata Laura.

Hp

Nah, bagaimana caranya untuk menghindari hal ini?

Menurut Catherine Price, seorang penulis buku How to Break Up With Your Phone: The 30-Day Plan to Take Back Your Life, ada beberapa cara sederhana yang dapat kita gunakan untuk agar kita lebih bijak dalam menggunakan gawai. Hal pertama yang disarankan Price adalah menetapkan batasan dan menjadi lebih sadar seberapa sering kita menggunakan smartphone ini.

Dia juga menyarankan agar kita mengunduh aplikasi yang dapat memantau kapan dan berapa lama waktu yang kita habiskan untuk ponsel. Dengan cara seperti ini, kita akan lebih menyadari hal-hal yang memicu penggunaan ponsel dan, sebagai hasilnya, kita mampu mengurangi intensitas kita dalam menggunakan ponsel. Selain itu, ada baiknya kita juga menetapkan periode hari di mana kita bebas dari ponsel kesayangan kita.

Kita juga bisa mematikan ponsel kita hanya dalam 30 menit, atau membiarkannya di rumah saat kita jalan-jalan. Langkah kecil ini dapat membantu kita untuk melakukan 'detoks' dari kecanduan gawai selama 24 jam penuh. Cara lain untuk mengatasi hal ini adalah dengan menentukan ruang spesifik di mana kita dilarang membawa ponsel.

Salah satu area yang paling mudah dan paling efektif untuk melakukan hal ini adalah kamar tidur. Menurut riset, menjauhkan ponsel dari kamar tidur dapat memperbaiki kualitas tidur kita. Cara ini sangat cocok bagi penderita insomnia. Langkah sederhana seperti ini mampu membuat kita mengontrol diri sendiri dalam penggunaan ponsel. Jadi, jika kamu biasa menggunakan ponselmu sebagai alarm agar kamu bisa bangun di pagi hari, sebaiknya kamu menggantinya dengan jam weker. (Kompas)