Gerakan Radikal Diperlukan Melawan Sampah Plastik
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i68275-gerakan_radikal_diperlukan_melawan_sampah_plastik
Kampanye pengurangan kantong plastik yang dicanangkan pelaku usaha ritel modern harus diikuti industri lain secara menyeluruh.
(last modified 2025-07-30T06:25:16+00:00 )
Mar 10, 2019 12:05 Asia/Jakarta
  • Sampah plastik
    Sampah plastik

Kampanye pengurangan kantong plastik yang dicanangkan pelaku usaha ritel modern harus diikuti industri lain secara menyeluruh.

Kebijakan tersebut perlu dilakukan dengan terintegrasi melibatkan instansi terkait. Pengurangan sampah plastik sedianya juga dilakukan dengan meminimalkan penggunaan bahan plastik pada kemasan minuman, makanan, maupun kosmetik.

Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mengatakan perlu ada upaya radikal untuk mengurangi sampah plastik, bukan sekadar memberlakukan kantong plastik berbayar di sektor ritel.

"Penggunaan kantong plastik sudah sangat mengkhawatirkan. Sudah seharusnya pemerintah, pelaku usaha, produsen dan konsumen bersinergi," kata Tulus melalui siaran pers yang diterima di Jakarta, Jumat. Sebagaimana dikutip dari Antaranews.

Tulus mengatakan pengurangan sampah kantong plastik seharusnya menjadi kebijakan dan gerakan nasional yang radikal oleh pemerintah pusat, bukan sporadis di masing-masing daerah.

Upaya pengurangan sampah kantong plastik yang sporadis, kata Tulus, menunjukkan belum ada keseriusan dari pemerintah, seperti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian. "Belum ada keseriusan untuk menyelamatkan lingkungan dari pencemaran sampah plastik," ujarnya.

Kantong berbahan kain

Tulus menilai pengurangan kantong plastik, misalnya dengan memberlakukan kantong plastik berbayar, seharusnya tidak hanya menyasar pelaku ritel modern, tetapi juga pasar-pasar tradisional. Hal itu bisa dimulai dari Perusahaan Daerah (PD) Pasar Jaya, badan usaha milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

"Seharusnya bukan hanya kantong plastik saja, melainkan pembungkus plastik untuk kemasan makanan, minuman, kosmetik dan lain-lain juga harus ramah lingkungan," tuturnya.

Tulus menilai sampah plastik pembungkus barang-barang konsumsi yang beredar di masyarakat adalah sumber pencemaran lingkungan yang sebenarnya.

Untuk itu, perlu sinergi antarpemangku kepentingan agar kebijakan yang diterapkan tidak terfragmentasi dan sporadis di satu sektor saja. Indonesia, menurut data dirilis pada pertemuan tahunan American Associations for the Advancement of Science (AAAS) melalui Science Magazine, merupakan negara kedua di dunia yang menghasilkan limbah plastik ke lautan.

Sampah plastik Indonesia di lautan mencapai 1,29 juta ton atau berada di bawah China yang menghasilkan limbah plastik sebesar 3,53 juta ton. Urutan berikutnya ditempati oleh Filipina, Vietnam, Sri Lanka, Thailand, Mesir, Malaysia, dan Nigeria.

Dalam satu dekade terakhir para aktivis lingkungan aktif menggerakkan kampanye pengurangan plastik. Tahun lalu Asosiasi Industri Plastik Indonesia (Inaplas) dan Badan Pusat Statistik (BPS) merilis sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun.

Mirisnya, sebanyak 3,2 juta ton dari total sampah plastik tersebut dibuang ke laut. Sedangkan kantong plastik yang terbuang ke lingkungan sebanyak 10 miliar lembar per tahun atau sebanyak 85.000 ton kantong plastik.