Krisis Global dan Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
https://parstoday.ir/id/news/indonesia-i75393-krisis_global_dan_pertumbuhan_ekonomi_indonesia
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,02 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal III 2019.
(last modified 2025-07-30T02:55:16+00:00 )
Nov 07, 2019 09:31 Asia/Jakarta
  • Perang dagang AS-Cina
    Perang dagang AS-Cina

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,02 persen secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal III 2019.

Angka ini berbeda tipis dibandingkan dengan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II 2019 yang mencapai 5,05 persen (yoy).

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) mengungkap kondisi perekonomian nasional dalam acara Workshop on Accelerating Infrastructure Development yang di gelar di Kawasan Jakarta Pusat, Kamis (7/11/2019). Acara ini dihadiri oleh perwakilan pemerintah daerah.

Deputi Gubernur BI Rosmaya Hadi menjelaskan, kondisi ekonomi global saat ini tengah tidak menentu dan bakal berlanjut. Hal itu disebabkan oleh perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Cina.

Pertumbuhan ekonomi

"Kita sama-sama tahu kondisi saat ini, kita menyadari global ada trade war  yang rasanya roll dan sustain, antara Amerika dan Cina yang merambah Eropa, Jepang, dan seterusnya. Dan, kondisi geopolitik yg menyebabkan perekonomian berbagai negara terimbas," katanya. Demikian pantuan Parstodayid dari Detik, Kamis, (07/11/2019).

Rosmaya melanjutkan, data pertumbuhan ekonomi nasional pun sudah dirilis di mana pada kuartal III ekonomi Indonesia hanya tumbuh 5,02%. Hal ini menunjukkan ketidakpastian global berpengaruh pada kinerja perdagangan.

Memang, Rosmaya melihat ada perkembangan di sisi ekspor karena didorong kenaikan harga nikel. Menurutnya, itu hanya bersifat sementara.

Sementara laporan yang diturunkan Antaranews dari Surabaya, Kamis (07/11/2019), Deputi Gubernur Bank Indonesia Dody Budi Waluyo mengatakan perlambatan ekonomi tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia namun juga hampir di berbagai negara termasuk Malaysia dan Singapura yang jauh lebih dalam perlambatan ekonominya.

“Masalah global menjadi salah satu penyebab utama ekonomi dunia yang semuanya terdampak oleh perang dagang,” katanya di Surabaya, Kamis.

Di sisi lain, Dody menuturkan pihaknya memandang positif terhadap rilis terbaru data pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan III-2019 tersebut karena dinilai masih tetap terjaga dan cukup kuat di tengah pertumbuhan ekonomi dunia yang semakin melambat.

“Dalam kondisi yang penuh tantangan tersebut, kita harus bersyukur ekonomi kita tumbuh 5,02 persen memang melambat tapi patut kita acungkan jempol karena masih bisa tumbuh di atas 5 persen,” ujarnya.

Menurutnya, pertumbuhan ekonomi Indonesia itu didukung oleh permintaan domestik yang tetap terjaga dan kinerja sektor eksternal yang menguat di tengah permintaan dan harga komoditas global yang masih menghadapi tekanan.

Ia menyebutkan dalam kondisi yang penuh dengan ketidakpastian maka paparan angka ataupun indikator makroekonomi tidak cukup untuk bisa memberi keyakinan dan gambaran optimisme yang utuh bagi pelaku usaha.

Dody melanjutkan tantangan perekonomian global semakin tidak mudah khususnya untuk 2019 sebab terus diliputi oleh ketidakpastian geopolitik dan perang dagang antara Amerika Serikat dan Cina sehingga bank sentral juga akan terus mengantisipasi hal tersebut.