Kritik Iran terhadap Standar Ganda Barat dalam Isu HAM
Meskipun penghormatan terhadap hak asasi manusia secara eksplisit ditekankan sebagai salah satu bab penting dari Piagam PBB, tapi Barat justru menggunakannya sebagai instrumen politik sehingga hak asasi manusia kehilangan makna sebenarnya.
Sikap kontradiktif Barat terhadap hak asasi manusia mencerminkan fakta bahwa mereka menggunakan masalah ini sebagai alat politik melawan negara lain setiap saat ketika kepentingan mereka membutuhkannya.
Republik Islam Iran mengkritik masalah ini dalam sebuah pernyataan yang disampaikan kepada Komite Ketiga Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa baru-baru ini. Republik Islam menekankan komitmennya terhadap prinsip dan tujuan Piagam PBB, termasuk penghormatan terhadap hak asasi manusia, serta mengkritik standar ganda Barat dalam masalah hak asasi manusia.
Menyinggung situasi di Afghanistan, Tehran mengajak negara-negara dunia untuk memperhatikan situasi rakyat Afghanistan, terutama mereka yang telah mengungsi di dalam dan negara-negara tetangga yang sangat membutuhkan dukungan internasional.
Situasi di Afghanistan jelas menunjukkan wajah sebenarnya tidak hanya Amerika Serikat, tetapi juga mereka yang menyerang negara yang dilanda perang dua dekade lalu dengan dalih memerangi terorisme dan melindungi hak asasi manusia.
Dengan menduduki Afghanistan, Amerika Serikat justru menyebabkan berkobarnya perang, ketidakamanan, terorisme, dan penyebaran narkotika di negara ini dan kawasan. Bencana kemanusiaan di Afghanistan, dan Gaza adalah contoh tak terbantahkan dari standar ganda Barat dalam isu hak asasi manusia.
Negara-negara ini tidak hanya diam dalam menghadapi kejahatan rezim Saudi di Yaman, tetapi mereka juga memperkuat para agresor dengan menjual senjata kepada Arab Saudi. Negara-negara yang selama ini mengklaim sebagai pengibar bendera hak asasi manusia, termasuk Inggris, Amerika Serikat dan Kanada, terlibat dalam perang di Yaman.
Kualitas tanggapan dan sikap mereka terhadap penindasan dan aksi represif terhadap protes rasisme di Amerika Serikat dan Eropa, serta dan pelanggaran hak-hak pribumi di Kanada dan perlakuan rasis terhadap etnis dan agama minoritas, terutama Muslim menjadi rangkaian contoh lain standar ganda hak asasi manusia di Barat.
Contoh lain dari kebijakan hak asasi manusia Barat terhadap Republik Islam Iran dapat dilihat dalam sanksi AS yang menindas terhadap Iran. Amerika Serikat menjadi pelanggar terbesar hak-hak rakyat Iran dengan sanksi ilegalnya. Bagian dari pernyataan Iran yang dibacakan di Komite Ketiga Majelis Umum PBB, mengkritik sanksi sepihak yang tidak manusiawi dan ilegal, dengan menyatakan bahwa langkah-langkah ini merampas Republik Islam Iran dari akses terhadap vaksin Corona pada waktu yang tepat.
Parsa Jafari, seorang penulis dan pakar politik dalam menganalisis konsekuensi dari standara ganda Barat dalam masalah hak asasi manusia mengatakan: "Hak asasi manusia adalah salah satu masalah yang dapat meningkatkan kondisi kehidupan individu jika tidak ada konfrontasi politik. Tetapi kita tidak melihat pendekatan seperti itu di dunia kontemporer, dan negara-negara Barat, terutama Amerika Serikat dan Eropa sangat merendahkan status hak asasi manusia dengan menggunakannya sebagai alat,".
Statemen keprihatinan Barat tentang situasi hak asasi manusia di negara lain dan mengeluarkan resolusi politik tentang masalah ini yang tidak memiliki nilai atau kredibilitas, sebab dilakukan hanya untuk mengalihkan opini publik dunia dari fakta sebenarnya yang terjadi. Tentu saja, standar ganda Barat dalam masalah hak asasi manusia tidak tersembunyi dari opini publik dunia. Akibatnya, berlanjutnya sepak terjang Barat tersebut telah menyebabkan meningkatnya ketidakpercayaan terhadap institusi hak asasi manusia.(PH)