Iran Minta Barat Realistis dalam Pembicaraan Wina
-
Foto: Sergei Lavrov (kiri) dan Hossein Amir-Abdollahian.
Menteri Luar Negeri Iran mengatakan kemajuan cepat dalam pembicaraan Wina bisa dicapai jika Barat menghindari sikap berlebihan dan tidak mengajukan tuntutan di luar perjanjian nuklir JCPOA. Mereka juga harus mengambil pendekatan yang realistis dan konstruktif.
Hal itu disampaikan Hossein Amir-Abdollahian dalam pembicaraan telepon dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, Sabtu (6/11/2021).
Menurut siaran pers Kemenlu Iran, Amir-Abdollahian memuji sikap konstruktif dan positif Rusia dalam masalah nuklir Republik Islam.
Dia menegaskan Eropa dan AS harus menghindari sikap yang berlebihan dan tuntutan yang keluar dari JCPOA supaya kemajuan cepat dapat dicapai dalam pembicaraan.
"Tidak boleh ada yang meragukan tentang keseriusan Republik Islam Iran dalam pembicaraan dan tentang perlunya semua pihak untuk kembali kepada komitmennya," kata Amir-Abdollahian.
Dia menjelaskan bahwa meskipun Republik Islam meragukan itikad pihak AS, namun jika AS kembali melaksanakan kewajibannya secara penuh dan tidak menuntut lebih, maka Iran juga akan kembali memenuhi semua kewajibannya.
Menlu Iran juga meminta Badan Energi Atom Internasional (IAEA) untuk tidak mengambil sikap politik, dan mencatat bahwa Tehran akan melanjutkan kerja sama teknis dengan IAEA.
Dalam pembicaraan itu, Amir-Abdollahian menekankan pentingnya menghidupkan kembali JCPOA, dengan menyatakan semua pihak dan pertama-tama AS, harus kembali kepada komitmen mereka.
Sementara itu, menlu Rusia mengatakan kami selalu menekankan agar AS menghentikan tindakan destruktifnya terhadap JCPOA.
Amir-Abdollahian dan Lavrov sepakat tentang perlunya mengirim bantuan kemanusiaan ke Afghanistan menjelang musim dingin. Kedua belah pihak juga menegaskan pentingnya membentuk pemerintahan yang inklusif di Afghanistan. (RM)