Syahid Soleimani dari Perspektif Rahbar
Ayatullah Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam Iran dalam pertemuan dengan keluarga Syahid Soleimani dan panitia peringatan kesyahidan Komandan pasukan Quds IRGC ini hari Sabtu (1/1/2022) menyebut Syahid Soleimani sebagai teladan dan pahlawan pemuda dunia Islam.
Rahbar menyatakan bahwa hari ini Soleimani menjadi simbol harapan, kepercayaan diri, keberanian, dan rahasia ketahanan dan kemenangan di kawasan. Sebagaimana dikatakan beberapa orang bahwa Syahid Soleimani lebih berbahaya bagi musuh-musuhnya daripada Haji Soleimani semasa hidupnya.
Menjelaskan fakta ini, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam mengungkapkan, "Musuh mengira dengan syahidnya Soleimani, Abu Mahdi dan rekan-rekannya, pekerjaan akan berakhir. Tetapi hari ini, berkat darah pejuang terhormat dan tertindas ini, Amerika Serikat telah meninggalkan Afghanistan. Tentu saja, saudara-saudara Irak harus mengikuti masalah ini dengan kewaspadaan. Di Yaman, front perlawanan bergerak maju. Di Suriah, musuh terjebak dan tanpa harapan untuk masa depannya. Secara umum, arus perlawanan dan anti-arogansi di kawasan hari ini lebih bergelora dari dua tahun lalu dan lebih penuh harapan,".
Pada tanggal 3 Januari 2020, dini hari, Letjen Qassem Soleimani dan Abu Mahdi al-Mohandes gugur bersama delapan orang lainnya dalam serangan teroris AS di bandara Baghdad.
Mereka memainkan peran besar dalam perang melawan terorisme, terutama penghancuran Daesh dan menggagalkan rencana separatis Amerika Serikat dan Zionisme di kawasan, sekaligus memulihkan stabilitas di Asia Barat dan sekitarnya.
Dengan pembunuhan ini, Amerika Serikat sebenarnya menargetkan komando yang telah memberikan pukulan telak kepada teroris Daesh. Sebuah laporan sekitar sebulan sebelum kesyahidan Haji Qassem Soleimani dari Centcom menunjukkan bahwa Amerika Serikat sangat prihatin dengan kemenangan berturut-turut dari front perlawanan, dan mengkhawatirkan kekalahan dan kehancuran Daesh.
Tujuan pembunuhan ini demi mencegah pemberantasan terorisme di kawasan. Hal ini menunjukkan bahwa Syahid Soleimani memainkan peran strategis dalam menggagalkan rencana AS-Israel di Asia Barat.
Institut Penelitian dan Pendidikan Pertahanan Suci menunjukkan bahwa Syahid Soleimani telah menjadi masalah keamanan publik bagi Amerika Serikat.
"Amerika Serikat membunuh siapa saja yang menjadi ancaman bagi tujuan hegemoniknya. Mereka juga membunuh orang-orang seperti Martin Luther King Jr. karena penentangan mereka terhadap rezim yang berkuasa di Washington," kata Stephen Landman, seorang teoritikus Amerika jebolan Harvard.
Tidak diragukan lagi, kelompok teroris takfiri Daesh tumbuh dengan tujuan mengamankan kepentingan Amerika Serikat dan rezim Zionis demi memperluas hegemoni AS di berbagai belahan kawasan. kemunculan Daesh untuk menciptakan suasana chaos di dunia Islam, terutama di Suriah dan Irak. Kelompok teroris ini dibidani kelahirannya oleh AS sebagai bagian dari persekongkolan di kawasan yang ditujukan untuk menghancurkan segala arus front perlawanan.
Tidak diragukan lagi, kemenangan akhir atas terorisme takfiri Daesh di Suriah, Irak dan kawasan tidak akan mungkin terjadi tanpa Haji Qassem Soleimani dan peran strategisnya di medan perang. Zionisme dan imperialisme Amerika, pada kenyataannya, menderita kekalahan terberat dalam sejarah mereka menghadapi Revolusi Islam dan Front Perlawanan.
Itulah sebabnya, Rahbar menyebut Syahid Soleimani sebagai realitas yang abadi dan hidup. Ayatullah Khamenei memandang penghapusan Syahid Soleimani secara arogan di dunia maya sebagai tanda ketakutan Barat terhadap pahlawan dunia Islam ini. Bahkan ketika disebut namanya saja, mereka ketakutan. Para pembunuhnya, seperti Trump dan sejenisnya, akan berada di tong sampah sejarah yang terlupakan dan akan hilang ditelan waktu, tentu saja, setelah membayar tebusan mahal atas kejahatan kejahatan yang dilakukannya.(PH)