Amir-Abdollahian: Iran siap Kembangkan Hubungan Penuh dengan Ukraina
-
Menlu Iran Hossein Amir-Abdollahian
Menteri Luar Negeri Iran, Hossein Amir-Abdollahian mengatakan, Iran siap mengembangkan dan memperluas hubungan penuh termasuk di sektor ekonomi dan pertanian dengan Ukraina.
Menurut laporan Humas Kemenlu Iran, Hossein Amir-Abdollahian Jumat (15/7/2022) di kontak telepon dengan Menlu Ukraina, Dmytro Kuleba kembali menegaskan sikap mendasar Iran menentang perang. "Republik Islam Iran menentang perang di Afghanistan, Yaman, Palestina dan juga Ukraina," papar Amir-Abdollahian.
Menlu Iran seraya menepis tudingan tak berdasar baru-baru ini oleh Penasihat Keamanan Nasional AS terhadap Iran terkait pengiriman drone Iran ke Rusia untuk digunakan melawan Ukraina, menyebut tujuan klaim seperti ini yang bertepatan dengan kunjungan Presiden AS Joe Biden ke Palestina pendudukan memiliki motif politik.
"Sikap mendasar dan transparan Iran menentang segala bentuk perang dan mendukung dihentikannya perang, dan tidak seperti pendekatan ganda sejumlah negara Barat yang didasari standar ganda," kata Amir-Abdollahian.
Lebih lanjut Amir-Abdolllahian menambahkan, Republik Islam Iran akan melanjutkan upayanya untuk mengakhiri perang dan menyelesaikan secara damai krisis Ukraina.
Sementara itu, Dmytro Kuleba seraya memuji sikap Iran yang menentang perang mengatakan, berlanjutnya hubungan menlu Iran dan Ukraina, bahka di hari-hari sulit awal perang, sangat berharga.
Seraya menjelaskan bahwa tudingan pihak lain jangan sampai merusak hubungan bersahabat Kiev-Tehran, menlu Ukraina menyatakan kesiapan untuk memperluasa hubungan penuh bilateral dan membuka babak baru di hubungan dengan Iran.
Rusia pada 24 Februari 2022, menyusul tindakan provokatif NATO di perbatasannya, melancarkan operasi militer di Ukraina dan negara-negara Barat, khususnya AS bukan saja berusaha meredam tensi dan menghentikan konfrontasi di Ukraina, tapi malah mengobarkan lebih luas instabilitas dengan mengirim peralatan perang, senjata ke Kiev serta menjatuhkan sanksi lebih keras kepada Rusia. (MF)