Prakarsa Iran untuk Solidaritas, Perdamaian dan Pembangunan Berkelanjutan di Dunia Islam
-
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf
Ketua Parlemen Iran selama pidatonya di sidang Persatuan Parlemen Organisasi Negara Anggota Kerja Sama Islam (OKI) memamparkan proposal inovatif yang mencakup tiga strategi dengan tema "Dunia Islam; Solidaritas bagi perdamaian dan pembangunan berkelanjutan".
Mohammad Bagher Ghalibaf Senin (31/1/2023) di sidang Uni Parlemen negara anggota OKI ke-17 menyinggung bahwa dunia Islam di era modern meski memiliki mayoritas elemen kekuatan, belum juga memainkan peran yang sesuai dengan kapasitas dan fasilitas sistem internasional.
“Dalam rangka mewujudkan dan mengoperasionalisasikan pemajuan posisi global dan martabat umat Islam, Saya ingin menyampaikan proposal dengan judul “Dunia Islam: Solidaritas untuk Perdamaian dan Pembangunan Berkelanjutan” pada pertemuan kali ini; prasyarat dasar dari inisiatif ini adalah untuk menekankan multilateralisme dan fokus pada Kesamaan negara dan bangsa Islam, serta menghindari berurusan dengan isu-isu kontroversial," papar Ghalibaf.
Pidato dan usulan inovatif dari Ketua Parlemen Iran dapat dievaluasi sejalan dengan pengembangan kerja sama negara-negara anggota, terutama pelestarian persatuan dan konvergensi negara-negara Islam, serta menghadapi skenario musuh melawan persatuan umat Islam, karena pendekatan ini adalah salah satu tujuan terpenting dari pertemuan Persatuan Parlemen Negara-Negara anggota OKI.
Saat ini dunia Islam, meski memiliki banyak komponen kekuatan, karena beberapa perbedaan internal dan juga konspirasi musuh, belum mampu berada pada posisi yang sebenarnya dan layak bagi umat Islam. Misalnya, meskipun keanggotaan lebih dari lima puluh negara Islam di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang merupakan hampir seperempat dari populasi dunia, perwakilan mereka tidak memiliki pengaruh yang serius terhadap keputusan global. Beberapa dari negara-negara tersebut, meskipun berpolitik mandiri dan memiliki banyak kekayaan, bahkan bergantung pada kekuatan asing untuk menjamin keamanannya.
Sementara itu dunia arogan bersatu melawan Islam dan memusuhi agama samawi ini. Mereka terus menerus mempublikasikan kebohongan dan menghina Islam serta keluarga Rasulullah Saw dengan tujuan menebar perpecahan dan Islamophobia.
Di kondisi seperti ini, tak diragukan lagi bahwa lembaga seperti Uni Persatuan Parlemen Negara anggota OKI melalui konvergensi dan fokus pada persamaan umat Islam serta menghindari pembahasan isu-isu yang memicu perpecahan, dapat memainkan peran dalam menaikkan posisi dunia Islam.
Dalam hal ini, implementasi rencana yang diusulkan Iran dapat membantu penyelarasan dan koherensi strategis posisi parlemen negara-negara Islam mengenai kepentingan bersama. Secara khusus, sebagian besar negara Islam secara geopolitik penting dengan memiliki sumber daya kekayaan yang besar, dan peningkatan konvergensi antara negara-negara ini merupakan jaminan perdamaian, stabilitas dan pembangunan berkelanjutan umat Islam dan meningkatkan posisi dunia Islam di perimbangan kawasan dan global.
Ketua parlemen Iran juga menyinggung kendala dan tantangan utama dan besar dunia Islam seperti kemiskinan, keterbelakangan, terorisme, radikalisme dan pengobaran krisis oleh kekuatan intervensif asing, dan menegaskan, solusi tunggal untuk mengatasi tantangan dan ancaman ini adalah kerja sama antara negara-negara Islam dan koordinasi di bidang pencanangan kebijakan strategis dan makro mereka. (MF)