Perang 12 Hari antara Iran dan Israel; Siapa yang Paling Terpukul? (2)
https://parstoday.ir/id/news/iran-i183186-perang_12_hari_antara_iran_dan_israel_siapa_yang_paling_terpukul_(2)
Fakta-fakta menunjukkan bahwa serangan balasan Iran terhadap Israel yang di luar dugaan rezim Zionis sebelumnya memiliki efek destruktif yang sangat besar.
(last modified 2026-01-11T09:54:06+00:00 )
Des 29, 2025 15:41 Asia/Jakarta
  • Perang 12 Hari antara Iran dan Israel; Siapa yang Paling Terpukul? (2)

Fakta-fakta menunjukkan bahwa serangan balasan Iran terhadap Israel yang di luar dugaan rezim Zionis sebelumnya memiliki efek destruktif yang sangat besar.

Bagian Ketiga: Kawasan Permukiman

Dalam penelaahan kawasan-kawasan yang terdampak oleh rudal balistik Iran selama perang 12 hari, kawasan permukiman termasuk di antara wilayah yang menunjukkan jejak dampak serangan.

Salah satu penyebab utama mengapa kawasan-kawasan ini terkena sasaran dapat dijelaskan oleh penggunaan rudal balistik lama Iran; suatu keterbatasan yang muncul akibat tidak beroperasinya pangkalan-pangkalan Iran di wilayah barat (yang dikenal sebagai lokasi penempatan rudal generasi baru berbahan bakar padat Iran). Kondisi tersebut menyebabkan Iran, untuk melaksanakan serangan rudalnya, secara luas bergantung pada rudal-rudal generasi lama berbahan bakar cair.

Rudal berbahan bakar cair Iran—yang pada umumnya dikembangkan berdasarkan keluarga rudal Shahab dan dalam perang ini digunakan secara luas dalam varian Qadr dan Emad—karena memiliki lingkar kesalahan (CEP) yang lebih besar dibandingkan rudal balistik berbahan bakar padat dari keluarga Kheibar Shekan dan Fattah, serta penggunaan sistem pemandu berbasis navigasi satelit GPS/GNSS, akan lebih terdampak oleh perang elektronik dan gangguan sistem navigasi pada fase terminal (saat masuk kembali hulu ledak RV/MaRV ke atmosfer), sehingga menghadapi tingkat kesalahan yang lebih besar.

Kesalahan inheren rudal balistik Iran, di samping penempatan sejumlah kawasan militer dan keamanan rezim Zionis di dekat kibbutz, kawasan perkotaan, dan wilayah permukiman padat, merupakan salah satu penyebab jatuhnya rudal balistik ke kawasan permukiman. Sebagai contoh, dapat disebutkan penempatan peluncur sistem pertahanan udara antibalistik rezim tersebut di sekitar Kamp Rabin yang berlokasi di kawasan HaKirya di pusat Tel Aviv. Berdasarkan citra yang dipublikasikan dari gelombang pertama serangan rudal Iran pada malam 13 Juni terhadap Tel Aviv (yang setidaknya menunjukkan satu titik hantaman), penempatan peluncur sistem pertahanan di pusat Tel Aviv dan di dalam lindungan kawasan permukiman terlihat dengan jelas.

 

Dampak rudal Iran di wilayah pendudukan

Gedung 11 lantai Bat Yam – Tel Aviv

Pada malam 15 Juni, kawasan pusat wilayah pendudukan termasuk Tel Aviv menjadi salah satu sasaran serangan rudal Iran. Pada malam tersebut, akibat hantaman rudal balistik Iran ke kawasan Bat Yam di selatan Tel Aviv, sebuah gedung 11 lantai beserta sebuah gedung 4 lantai di area tersebut terkena sasaran rudal Iran, yang mengakibatkan sedikitnya 7 orang tewas. Dengan menelaah citra satelit dari kawasan sasaran bertanggal 12 Juli, jejak kerusakan pada bangunan-bangunan dimaksud dapat diamati.

 

Menara Bat Yam

Kawasan Neve Yam – Bat Yam – Tel Aviv

Kawasan permukiman Neve Yam di wilayah Rishon LeZion, yang terletak di selatan Tel Aviv, termasuk area yang menjadi sasaran serangan rudal Iran pada malam 14 Juni. Rishon LeZion, dengan populasi lebih dari 250 ribu jiwa, hingga tahun 2023 merupakan kota kelima terpadat di kalangan Zionis.

Berdasarkan citra yang dipublikasikan dari serangan rudal Iran pada 14 Juni ke kawasan ini serta analisis citra satelit bertanggal 12 Juli, dua bangunan di kawasan Neve Yam hancur total akibat hantaman langsung rudal balistik Iran dan kini struktur keduanya telah dibongkar. Selain itu, citra pemberitaan yang dirilis menunjukkan bahwa sedikitnya 11 bangunan lain di area tersebut mengalami kerusakan dan dampak pada berbagai tingkat akibat gelombang ledakan rudal balistik Iran.

Kawasan Neve Yam

 

Salah satu poin menonjol dari perang ini adalah komposisi rudal balistik Iran yang tidak terduga. Sebagian besar peluncuran bertumpu pada rudal berbahan bakar cair dan generasi lama, yakni Qadr dan Emad. Varian-varian ini berbasis Shahab-3, di mana keluarga Qadr dengan hulu ledak terpisah sederhana diperkenalkan pada 2009, dan Emad dengan hulu ledak terpisah berpemandu diperkenalkan pada 2015. Varian optimalisasi lainnya juga diluncurkan pada 2024. Sistem-sistem ini, dibandingkan dengan generasi modern seperti Hajj Qasem dan Kheibar Shekan, memiliki ukuran lebih besar, akurasi lebih rendah, kecepatan lebih lambat, tingkat kesalahan lebih tinggi, serta lebih mudah dicegat oleh musuh.

 

 

Tantangan ini muncul ketika persediaan rudal modern Iran sebagian besar ditempatkan di pangkalan-pangkalan barat, barat daya, dan barat laut. Rezim Zionis, berdasarkan pengalaman sebelumnya, berulang kali menargetkan pangkalan-pangkalan rudal di provinsi perbatasan Azerbaijan Barat, Lorestan, Kermanshah, dan Khuzestan—yang menampung lebih dari sepuluh pangkalan dengan persediaan modern. Patroli terus-menerus wahana udara rezim Zionis memungkinkan pendeteksian dan penyerangan peluncur, serta upaya merusak pintu masuk terowongan dan jalur logistik. Meskipun sebagian besar fasilitas bawah tanah tetap utuh, kerusakan pada pintu masuk menyebabkan bagian-bagian bawah tanah terkurung.

 

 

Dalam praktiknya, beban utama serangan rudal setelah hari keempat dialihkan ke pangkalan-pangkalan pusat dan utara di provinsi Isfahan, Teheran, Fars, dan Qazvin, yang umumnya dilengkapi rudal jarak jauh namun lebih tua. Sejumlah terbatas rudal modern seperti Kheibar Shekan-2 dan Hajj Qasem digunakan secara sangat selektif. Pola ini mencakup peluncuran simultan rudal balistik berbahan bakar cair untuk menjenuhkan pertahanan udara, serta peluncuran terbatas rudal berbahan bakar padat canggih terhadap sasaran tertentu.

 

 

Sementara Iran tidak memiliki kesempatan untuk memanfaatkan sepenuhnya kemampuannya, jaringan antibalistik rezim Zionis diperkuat secara belum pernah terjadi sebelumnya. Selama pertempuran, Amerika Serikat dan rezim Zionis menunjukkan kerja sama luas di bidang intelijen, komando, operasi, dan pertahanan rudal terintegrasi. Seiring menipisnya persediaan pencegat Zionis akibat serangan berat Iran, ketergantungan Tel Aviv pada sistem pertahanan Amerika meningkat. Perkiraan menunjukkan bahwa Amerika Serikat menembakkan lebih dari 230 rudal pencegat antibalistik untuk membela Zionis. Perisai pertahanan berlapis rezim Zionis pada periode ini mencakup pencegat eksosferik Standard-3, Arrow-3, THAAD, serta pencegat endoatmosferik Arrow-2 dan Standard-6.

 

 

Biaya besar yang ditanggung Amerika Serikat akibat konsumsi persediaan terbatas pencegat balistiknya menunjukkan pentingnya peran perisai pertahanan rudal Amerika dalam mendukung rezim Zionis. Dukungan terhadap sistem pertahanan Zionis yang canggih namun terbatas ini merupakan salah satu faktor kunci perang Iran–Zionis, karena kemampuan pencegatan Zionis dalam waktu singkat hampir berlipat ganda. Perkiraan menunjukkan bahwa rezim Zionis mampu menembakkan hingga 100 rudal antibalistik Arrow secara simultan; peluncur bergerak dan bunker beton di empat lokasi yang diketahui—Palmachim, Ein Shemer, Tel Shahar, dan Eilat—memungkinkan kapasitas ini tanpa perlu pemuatan ulang.

Amerika Serikat juga mengerahkan dua baterai THAAD untuk mendukung rezim Zionis: baterai pertama di selatan Kiryat Gat sebelum akhir Oktober 2024 dan baterai kedua pada April 2025 di dekat Pangkalan Udara Nevatim. Setiap baterai THAAD memiliki 6 peluncur dengan 48 pencegat, serta dapat diperluas hingga 9 peluncur. Menurut laporan Wall Street Journal, selama pertempuran 12 hari lebih dari 150 rudal THAAD dan sekitar 80 rudal Standard-3 ditembakkan—angka yang setara dengan konsumsi penuh tiga baterai THAAD.

Diklaim bahwa dari sekitar 574 rudal balistik yang diluncurkan Iran, rezim Zionis mencoba mencegat 257 rudal; menurut klaim tersebut, 201 dinilai berhasil, 20 semi-berhasil, dan 36 gagal. Sementara itu, bukti dampak hantaman rudal Iran di wilayah pendudukan berada di bawah sensor ketat.

Masa depan dekat berpotensi membuka peluang signifikan bagi Iran, yang dapat diwujudkan melalui peninjauan ulang taktik militer, rekonstruksi infrastruktur industri terkait kemampuan rudal, peningkatan kelincahan sistem yang ada, dan masuknya generasi baru persenjataan ke siklus operasional. Namun, kemampuan ini hanya akan mencapai efektivitas maksimal apabila disertai pemulihan jaringan pertahanan udara dan kekuatan pencegahan. Sebaliknya, pemulihan dan perbaikan kemampuan antibalistik Israel merupakan proses mahal dan memakan waktu, yang berpotensi menggeser keseimbangan deterensi dalam jangka menengah ke arah Iran.

 

Rudal hipersonik Fattah

 

Berdasarkan pernyataan resmi pejabat tinggi Iran—termasuk Laksamana Ali Shamkhani, perwakilan Pemimpin Revolusi dan mantan Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, serta Mohammad-Bagher Qalibaf, mantan Komandan Angkatan Udara Korps Garda Revolusi Islam dan Ketua Majelis Syura Islam saat ini—Iran hingga sebelum April 2024 tidak memiliki pengalaman langsung berperang dengan rezim Zionis.

Dengan demikian, Operasi Janji Sejati 1 merupakan pengalaman operasional pertama Iran dalam konfrontasi langsung dengan sistem pertahanan rezim Zionis. Dalam pandangan komando tertinggi angkatan bersenjata Iran, hasil operasi ini meskipun bernilai teknis, dari sisi efektivitas operasional tidak dinilai memuaskan. Dalam operasi tersebut, lebih dari 150 wahana nirawak dan 100 rudal balistik diluncurkan secara bersamaan ke sasaran di kedalaman wilayah pendudukan. Namun, perbedaan signifikan dalam profil penerbangan (waktu terbang 9–10 jam untuk UAV, sekitar 2,5 jam untuk rudal jelajah, dan hanya 12–20 menit untuk rudal balistik) membuat sinkronisasi waktu antargelombang serangan menjadi menantang. Pengalaman ini secara langsung diperhitungkan dalam perancangan operasi selanjutnya, yakni Janji Sejati 2 dan Janji Sejati 3; pada tahap-tahap berikutnya, dengan otonomi taktis yang lebih besar dan penjadwalan peluncuran berurutan, komando rudal IRGC berhasil meningkatkan tingkat hantaman dan penetrasi terhadap sistem pertahanan rezim Zionis.

Tampaknya sebagian signifikan aset strategis Iran sengaja tidak digunakan. Rudal balistik jarak jauh seperti Sejjil, Khorramshahr-3 dan Khorramshahr-4, UAV semi-jelajah Shahed-238, serta rudal jelajah darat-ke-darat seperti Abu Mahdi dan Paveh tetap berada dalam arsenal. Mengingat tidak adanya keterbatasan jangkauan untuk menargetkan kedalaman wilayah pendudukan, keputusan ini menunjukkan pertimbangan deterensi dan pemeliharaan kemampuan untuk fase-fase konflik berikutnya. Keluarga rudal Khorramshahr—sebagai salah satu capaian balistik terbaru Iran—memiliki subsistem navigasi modern, sistem kendali penerbangan canggih, dan desain yang dioptimalkan untuk mengatasi sistem pertahanan rudal berlapis. Tidak digunakannya rudal-rudal ini dalam perang 12 hari terakhir dapat dipandang sebagai indikasi penyimpanan kemampuan strategis untuk konflik mendatang.

 

 

Selama perang ini, sejumlah fasilitas terkait produksi bahan bakar padat, bahan peledak, dan bagian dari infrastruktur program rudal Iran menjadi sasaran serangan udara rezim Zionis.

Pertanyaan kunci adalah apakah serangan tersebut mampu mengganggu rantai produksi rudal balistik Iran. Bukti visual yang dirilis oleh media dan sumber analitis independen menunjukkan bahwa sebagian proses produksi rudal Iran dilakukan di fasilitas bawah tanah yang diperkuat; di antaranya dapat disebutkan penayangan fasilitas lini perakitan rudal balistik Dezful pada Februari 2019.

Hal ini secara praktis membuat penghancuran total rantai produksi rudal Iran dengan kemampuan rezim Zionis saat ini menjadi tidak mungkin. Tampaknya proses pemindahan lini produksi rudal ke bawah tanah akan berlanjut dengan kecepatan lebih tinggi di masa depan. Meskipun produksi bahan bakar dan bahan peledak di fasilitas bawah tanah dapat sangat menantang, dalam jangka menengah hal tersebut akan menguntungkan Iran.

Apabila terjadi gangguan produksi, diperkirakan persediaan Iran saat ini mampu menopang beberapa putaran konflik berturut-turut. Terutama rudal Kheibar Shekan dan Fattah berbahan bakar padat dan semi-hipersonik—yang kemungkinan berperan dalam penghancuran kilang Haifa—dinilai sangat menantang dari sudut pandang pertahanan antibalistik. Diperkirakan sebagian besar persediaan ini tetap utuh di pangkalan-pangkalan Iran barat dan kini telah ditempatkan secara tersebar di wilayah tengah Iran.

Sebaliknya, biaya pertahanan rezim Zionis dalam konflik serupa diperkirakan sangat besar dan hampir tidak tertanggungkan. Meskipun angka pasti persediaan rudal Zionis dirahasiakan, pejabat Amerika menggambarkan kondisinya sebagai kritis.

Menurut laporan Financial Times pada 15 Oktober 2024, rezim Zionis menghadapi risiko serius kekurangan rudal pencegat. Dana Stroul, mantan Wakil Menteri Pertahanan Amerika untuk Timur Tengah, menyatakan bahwa isu amunisi rezim Zionis sangat serius. Direktur Utama Israel Aerospace Industries (IAI) juga menyatakan bahwa lini produksi rudal pencegat beroperasi dalam tiga shift dengan kapasitas maksimum untuk menggantikan hanya sebagian dari persediaan yang telah digunakan.

Di Amerika Serikat pun situasinya tidak jauh lebih baik. Hingga 2025, hanya sekitar 900 rudal pencegat Talon yang diproduksi oleh Lockheed Martin; dari jumlah tersebut, 192 unit telah dikirim ke Uni Emirat Arab dan 50 unit ke Arab Saudi. Dari 658 unit yang tersisa milik Amerika, sekitar 25 digunakan dalam latihan dan hampir 150 ditembakkan dalam perang terbaru. Ini berarti persediaan operasional Amerika turun menjadi kurang dari 500 unit, dan secara praktis seperempat dari delapan baterai operasional Amerika difokuskan pada wilayah pendudukan. Amerika Serikat pada tahun ini hanya menerima 12 pencegat baru dan pada 2026 hanya 37 unit tambahan. Bahkan dengan kapasitas produksi tahunan penuh 100 unit, pemulihan persediaan akan memakan waktu lebih dari 18 bulan dan berpotensi mengganggu pengiriman pesanan luar negeri seperti 360 unit untuk Arab Saudi.

Perlu dicatat bahwa sistem Aegis Angkatan Laut Amerika juga menembakkan sekitar 80 rudal Standard-3 dalam pertempuran ini. Padahal hingga 2024, hanya sekitar 398 unit rudal ini yang telah diserahkan kepada Angkatan Laut Amerika. Dari 2023 hingga Januari 2025, lebih dari 400 proyektil digunakan untuk menghadapi UAV serta rudal jelajah dan balistik Ansarullah Yaman; angka ini mencakup 120 rudal SM-2, sekitar 80 SM-6, 20 SM-3, dan sejumlah ESSM. Dengan memperhitungkan penggunaan 12 unit dalam Operasi Janji Sejati 2 dan 80 unit dalam Janji Sejati 3, sekitar 23% dari total persediaan rudal Standard-3 telah dikonsumsi. Rudal-rudal ini, dengan jangkauan 700 hingga 900 kilometer, merupakan salah satu dari sedikit instrumen pertahanan Amerika terhadap rudal balistik antarbenua berkepala nuklir.

Dalam setiap konflik mendatang, apabila Amerika Serikat tidak mampu mempertahankan payung pertahanan udara yang efektif di atas wilayah pendudukan, kerugian yang diderita rezim Zionis akan berlipat ganda dan bersifat sangat menghancurkan.(PH)