Hari Nasional Iran: Kesaksian atas Keteguhan Rakyat dan Kehendak yang Tak Terpatahkan
Mohd Azmi Abdul Hamid, Presiden, Majlis Perundingan Pertubuhan Islam Malaysia (MAPIM)
Peringatan Hari Nasional ke-47 Republik Islam Iran merupakan momen refleksi atas sejarah, perjuangan, dan kekuatan abadi sebuah bangsa yang menolak untuk menyerahkan kedaulatan, martabat, dan kemerdekaannya.
Selama hampir lima dekade, rakyat Iran hidup di bawah tekanan eksternal yang tiada henti. Sanksi ekonomi, isolasi politik, perang informasi, operasi rahasia, serta ancaman terbuka telah diterapkan dengan satu tujuan yang jelas: menghancurkan kehendak sebuah bangsa dan memaksanya tunduk pada kepentingan hegemoni. Namun sejarah justru menunjukkan hasil yang berbeda.
Upaya-upaya tersebut telah gagal.
Yang menonjol sepanjang empat puluh tujuh tahun ini adalah keteguhan tekad rakyat Iran. Kekuatan mereka tidak semata-mata terletak pada institusi negara atau kemampuan militer, melainkan pada kesadaran kolektif yang mengakar kuat—yang menjunjung tinggi kemerdekaan, martabat nasional, dan perlawanan terhadap dominasi.
Keteguhan inilah yang memungkinkan Iran bertahan menghadapi berbagai kesulitan yang, bagi banyak masyarakat lain, mungkin telah menyebabkan perpecahan.
Republik Islam Iran lahir dari sebuah revolusi rakyat yang digerakkan oleh tuntutan akan penentuan nasib sendiri. Sejak itu, negara ini telah melalui perang, sanksi, keterbatasan ekonomi, serta permusuhan eksternal yang terus-menerus.
Namun, di tengah berbagai tantangan tersebut, Iran tetap melanjutkan pengembangan kapasitas ilmiahnya, menjaga keutuhan tatanan sosialnya, serta mempertahankan kebijakan luar negeri yang mandiri—berlandaskan kepentingan nasional dan perlawanan terhadap ketidakadilan.
Upaya untuk mengisolasi Iran justru mengungkap kebenaran yang lebih luas tentang tatanan dunia kontemporer.
Langkah-langkah koersif yang diterapkan oleh negara-negara kuat sering kali bukan semata demi keamanan atau hak asasi manusia, melainkan lebih untuk memaksakan kepatuhan politik. Pengalaman Iran memperlihatkan keterbatasan strategi semacam ini. Tekanan dapat menimbulkan penderitaan, tetapi tidak serta-merta menghasilkan ketundukan.
Dalam banyak kasus, tekanan justru memperkuat kohesi nasional dan memperdalam kesadaran politik.
Sikap Iran terhadap isu-isu keadilan global, khususnya dukungannya yang konsisten terhadap hak-hak bangsa tertindas—termasuk perjuangan rakyat Palestina—semakin menempatkan negara ini sebagai simbol perlawanan di dunia yang kian terpolarisasi.
Posisi ini memang membawa konsekuensi, namun juga melahirkan penghormatan dari berbagai komunitas dan gerakan yang menjunjung prinsip di atas kepentingan sesaat.
Dari perspektif MAPIM, pengalaman Iran mengandung pelajaran penting bagi negara-negara Global South dan dunia Islam.
Kemerdekaan tidak diberikan, tetapi dipertahankan. Martabat tidak dijaga melalui diam, melainkan melalui perlawanan yang berprinsip. Ketahanan nasional dibangun melalui persatuan, keadilan sosial, dan kejelasan tujuan.
Saat Iran memperingati Hari Nasional ke-47, ia melakukannya bukan sebagai bangsa yang telah dipatahkan, melainkan sebagai bangsa yang telah bertahan.
Kehendak rakyatnya yang kuat dan tak tergoyahkan terus menggagalkan setiap upaya untuk melemahkan, memecah-belah, atau menundukkan negara tersebut.
MAPIM menyampaikan penghormatan kepada rakyat Republik Islam Iran serta harapan agar tahun-tahun mendatang membawa stabilitas kawasan yang lebih besar, kerja sama yang lebih kuat antarbangsa yang berkomitmen pada keadilan, serta upaya baru untuk membangun tatanan dunia yang lebih manusiawi dan seimbang.
Sejarah telah menjatuhkan putusannya:Sebuah bangsa yang bersatu dalam tujuan tidak akan pernah dapat dipatahkan.