Arsitektur Hormozgan; Simfoni Laut dan Gurun yang Abadi
https://parstoday.ir/id/news/iran-i185824-arsitektur_hormozgan_simfoni_laut_dan_gurun_yang_abadi
ParsToday – Provinsi Hormozgan di selatan Iran, yang terbentuk dari kontras mencolok antara gurun membara dan biru cemerlang Teluk Persia, menyimpan sejarahnya yang menakjubkan bukan melalui monumen kekaisaran yang megah, melainkan dalam arsitektur yang selaras dengan kehidupan sehari-hari.
(last modified 2026-02-21T05:18:15+00:00 )
Feb 21, 2026 12:09 Asia/Jakarta
  • Arsitektur Hormozgan
    Arsitektur Hormozgan

ParsToday – Provinsi Hormozgan di selatan Iran, yang terbentuk dari kontras mencolok antara gurun membara dan biru cemerlang Teluk Persia, menyimpan sejarahnya yang menakjubkan bukan melalui monumen kekaisaran yang megah, melainkan dalam arsitektur yang selaras dengan kehidupan sehari-hari.

Provinsi Hormozgan, yang terletak di selatan Iran, sejak lama dikenal sebagai salah satu titik persimpangan terpenting jalur perdagangan laut dan kafilah. Posisi strategis ini, bersama dengan kondisi iklim panas dan lembap, melahirkan tradisi arsitektur unik yang berkembang sebagai respons langsung terhadap kebutuhan lingkungan, sosial, dan ekonomi wilayah tersebut.

Melaporkan dari Press TV, ParsToday pada Sabtu, 21 Februari 2026, warisan arsitektur provinsi ini dapat dipahami sebagai kumpulan solusi cerdas yang mencakup ruang religius yang adaptif terhadap iklim, struktur pertahanan dan komersial untuk perlindungan serta konektivitas, dan sistem canggih penyimpanan air untuk menjamin kelangsungan hidup.

Masjid Malek bin Abbas, Bandar Lengeh

Kumpulan arsitektur ini, meliputi masjid-masjid pesisir, jaringan benteng dan kafilah, serta reservoir air yang luas, mencerminkan upaya masyarakat Iran selatan dalam menciptakan lingkungan yang harmonis dengan alam dan kebutuhan hidup sehari-hari. Struktur ini, sebagai contoh arsitektur vernakular yang ikonik, menjadi bukti kemampuan masyarakat lokal dalam beradaptasi dengan kondisi iklim keras dan memanfaatkan sumber daya terbatas.

Masjid-masjid bersejarah Hormozgan yang tersebar di sepanjang pesisir Teluk Persia adalah contoh luar biasa dari adaptasi arsitektur ini. Berbeda dengan masjid megah di kota-kota seperti Isfahan dan Shiraz yang dikenal dengan kubah besar dan denah empat ivannya, masjid-masjid Hormozgan memiliki struktur sederhana namun sangat fungsional. Bangunan-bangunan ini sebagian besar didirikan selama tiga abad terakhir. Pembentukannya adalah hasil interaksi langsung dengan kondisi lingkungan, keterbatasan material lokal, dan pengaruh budaya dari hubungan maritim.

Salah satu fitur terpenting masjid-masjid ini adalah penggunaan model shabestan-ivan. Shabestan, ruang utama untuk beribadah, dirancang sebagai aula bertiang dengan atap datar atau melengkung. Struktur ini, dengan menciptakan naungan dan melancarkan aliran udara, menyediakan lingkungan yang sejuk dan nyaman untuk beribadah. Berbeda dengan banyak masjid Iran, bangunan ini biasanya tidak memiliki kubah, karena atap datar atau melengkung lebih berfungsi dalam mengurangi panas. Di samping shabestan, ivan-ivan besar sebagai ruang setengah terbuka memainkan peran penting dalam menghubungkan ruang dalam dan luar, serta memungkinkan interaksi sosial.

Masjid Gallehdari Bandar Abbas

Organisasi ruang masjid-masjid ini juga menunjukkan fleksibilitas dalam perancangan. Meskipun halaman tengah merupakan salah satu elemen utama arsitektur masjid Iran, di Hormozgan, posisi halaman bervariasi tergantung kondisi lingkungan dan arah angin. Pendekatan ini menunjukkan prioritas pada fungsi dan kenyamanan iklim, daripada kepatuhan pada pola arsitektur kaku. Pintu masuk terpisah untuk pria dan wanita juga mencerminkan perhatian pada struktur sosial dan menjaga privasi. Jalur pergerakan dirancang sehingga seseorang secara bertahap beralih dari ruang publik ke ruang spiritual.

Eksterior masjid-masjid ini seringkali sederhana, tetapi interiornya dihiasi ornamen plesteran yang memuat motif geometris dan flora. Ornamen ini, meskipun sederhana, menunjukkan keterampilan seniman lokal dan penggunaan material lokal seperti gips, batu, dan tanah liat. Contoh seperti Masjid Malek bin Abbas di Bandar Lengeh, Masjid Galehdari di Bandar Abbas, dan Masjid Karchi, merepresentasikan keberlanjutan tradisi arsitektur ini di berbagai periode sejarah.

Di samping masjid, benteng dan kafilah di Hormozgan juga membentuk bagian penting dari warisan arsitektur provinsi ini. Struktur yang tersebar di wilayah pegunungan, pesisir, dan pulau ini memainkan peran krusial dalam melindungi jalur perdagangan dan menjamin keamanan kawasan.

Benteng Portugis di pulau Hormuz dan Qeshm adalah contoh paling menonjol, yang dibangun pada abad ke-16 Masehi. Benteng di Pulau Hormuz, dengan dinding setebal 3,5 meter dan menara setinggi 12 meter, dilengkapi gudang senjata, gereja, dan reservoir air canggih. Benteng di Pulau Qeshm, dibangun dari batu karang dan mortar gips, memiliki empat menara sudut dan lorong rahasia sepanjang tiga kilometer yang baru ditemukan pada 2008, menghubungkan benteng ke jantung kota Qeshm.

Kehadiran Portugis berlangsung lebih dari satu abad, hingga pasukan Safawi di bawah pimpinan Jenderal Imam Qoli Khan atas perintah Syah Abbas berhasil merebut kembali kedua benteng tersebut pada tahun 1623 M. Peristiwa ini diperingati sebagai simbol perlawanan nasional terhadap arogansi asing.

Di wilayah pedalaman, benteng seperti Gohran di Bashagard dan Kamiz dekat Rudan dibangun oleh dan untuk para khan serta komunitas setempat. Benteng Gohran, benteng era Qajar, merupakan mahakarya pertahanan pragmatis, dibangun di atas bukit dengan tiga sisi tebing curam dan satu sisi dapat diakses dilindungi parit sedalam 60 meter. Fiturnya yang paling mencengangkan adalah sumur yang digali lebih dari 200 meter hingga ke sungai, menjamin pasokan air permanen selama pengepungan. Benteng Kamiz, dari periode Safawi hingga Qajar, berfungsi sebagai pos pengintaian strategis, dengan para penjaga memantau pergerakan di wilayah Siba.

Kafilah, sebagai simpul vital perdagangan dan perjalanan, juga tak kalah penting. Penginapan di pinggir jalan ini menyediakan tempat berlindung, keamanan, dan kandang bagi kafilah yang membawa barang dan orang melintasi lanskap gersang. Dibangun dengan batu, plester, dan mortar di sekitar halaman tengah, kafilah adalah pusat pertukaran ekonomi dan sosial.

Reservoir air merupakan elemen penting lain dari arsitektur vernakular Hormozgan, sebagai respons langsung terhadap kelangkaan sumber air dan kondisi iklim kering. Struktur bawah tanah dengan kubah batu ini memungkinkan penyimpanan dan pengawetan air dalam kondisi yang sesuai. Reservoir air, selain fungsi vitalnya, juga dikenal sebagai simbol kerja sama sosial dan sering dibangun dengan partisipasi publik.

Contoh seperti reservoir air Darya Dolat di Bandar Kong, menunjukkan keterampilan insinyur lokal dalam merancang sistem penyimpanan dan pengelolaan air. Struktur ini memiliki sistem pengaliran, penyaringan, dan distribusi air, memainkan peran penting dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat. Meskipun sistem modern kini menggantikan banyak struktur ini, reservoir air tetap dikenang sebagai simbol kearifan lokal, solidaritas sosial, dan adaptasi dengan lingkungan.

Secara keseluruhan, warisan arsitektur Hormozgan merefleksikan interaksi cerdas antara manusia dengan alam dan kondisi lingkungan. Struktur ini menunjukkan bagaimana masyarakat lokal, dengan memanfaatkan kearifan lokal, mampu menciptakan lingkungan berkelanjutan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Warisan berharga ini tidak hanya mengekspresikan sejarah dan budaya kawasan, tetapi juga menjadi contoh kemampuan manusia dalam beradaptasi dengan tantangan alam dan menjadikan arsitektur sebagai alat untuk bertahan hidup dan maju.(sl)