Iran sebagai Inspirasi Kemandirian, Keadilan, dan Perlawanan terhadap Penindasan
https://parstoday.ir/id/news/opini-i185322-iran_sebagai_inspirasi_kemandirian_keadilan_dan_perlawanan_terhadap_penindasan
Syed Abdullah Assegaf, Dosen Hubungan Internasional, Direktur Iran Corner, FISIP Universitas Brawijaya
(last modified 2026-02-12T04:28:40+00:00 )
Feb 12, 2026 11:21 Asia/Jakarta
  • Iran sebagai Inspirasi Kemandirian, Keadilan, dan Perlawanan terhadap Penindasan

Syed Abdullah Assegaf, Dosen Hubungan Internasional, Direktur Iran Corner, FISIP Universitas Brawijaya

Perayaan kemenangan Revolusi Islam Iran bukan sekadar seremoni politik atau peringatan sejarah. Lebih dari itu, ia merupakan perayaan spiritualitas, kebebasan dari kekuasaan zalim, penegakan keadilan, dan solidaritas dengan kaum tertindas di dunia. Revolusi ini lahir dari kesadaran kolektif rakyat yang menolak dominasi asing, penindasan, dan ketidakadilan. Dalam konteks global yang dipenuhi hegemoni dan ketimpangan, Revolusi Iran hadir sebagai simbol keberanian dan konsistensi nilai—bahwa kebebasan dan martabat tidak lahir dari kepatuhan, tetapi dari keberanian melawan ketidakadilan.

Ketahanan Iran di Tengah Tekanan Global

Empat puluh tujuh tahun setelah Revolusi Islam 1979, Iran menjadi contoh ketahanan negara di tengah tekanan global yang ekstrem. Sanksi ekonomi, embargo, dan isolasi politik yang diterapkan Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya tidak berhasil melumpuhkan negara ini. Sebaliknya, tekanan eksternal menjadi pendorong lahirnya kemandirian strategis dan inovasi nasional.Penguasaan teknologi strategis—mulai dari rudal, drone, hingga riset medis—mencerminkan kemampuan Iran menghadapi keterbatasan sumber daya. Bahkan, Indeks Pembangunan Manusia (Human Development Index/HDI) Iran berada di atas rata-rata global, menunjukkan bahwa masyarakat Iran mampu menjaga kualitas hidup, pendidikan, dan kesehatan meski di bawah tekanan.

Tekanan sebagai Katalis Kemandirian

Iran menunjukkan bahwa sanksi dan tekanan tidak selalu menimbulkan keputusasaan. Justru, kondisi ini membentuk kekuatan nasional, persatuan sosial, dan semangat pantang menyerah. Negara ini mampu mengembangkan kapasitas internal, memperkuat industri domestik, dan memaksimalkan sumber daya manusia secara mandiri.Pengalaman Iran menjadi pelajaran bagi negara-negara Global South: kedaulatan tidak diwariskan, tetapi diperjuangkan; kemerdekaan tidak dijaga melalui kepatuhan, tetapi melalui kemandirian.

Fondasi Ideologis dan Kepemimpinan Ulama

Keberhasilan Iran tidak bisa dilepaskan dari fondasi ideologis negara, yakni nilai-nilai Islam dan sistem Wilayatul Faqih. Kepemimpinan ulama bukan sekadar simbol religius, tetapi menjadi pilar moral dan politik negara. Wali Faqih yang dipilih melalui mekanisme ketat menjaga stabilitas ideologis dan kontinuitas kebijakan nasional, sehingga negara mampu bertahan menghadapi tekanan eksternal.Kepemimpinan Ayatullah Ali Khamenei menjadi simbol konsistensi Iran dalam melawan dominasi Amerika Serikat dan Zionisme Israel. Dukungan Iran terhadap perjuangan Palestina, termasuk Hamas dan Hizbullah, menunjukkan bahwa politik luar negeri Iran didasarkan pada nilai dan konstitusi, bukan kepentingan pragmatis semata.

Konstitusi Iran dan Politik Perlawanan

Sikap konfrontatif Iran terhadap AS dan Israel bukan reaksi emosional, melainkan implementasi konstitusional. Konstitusi Republik Islam Iran menegaskan bahwa kebijakan luar negeri harus melawan segala bentuk penindasan dan kezaliman. Dengan demikian, perlawanan Iran terhadap dominasi global bukan sekadar pilihan geopolitik, tetapi ekspresi ideologis dan struktural dari identitas nasional.

Inspirasi Global 

Pengalaman Iran menjadi cermin strategis bagi dunia, khususnya bagi negara-negara Muslim dan Global South. Iran menunjukkan bahwa tekanan internasional dapat menjadi pendorong lahirnya bangsa yang solid, mandiri, dan berdaulat, bukan bangsa yang menyerah.Bagi Indonesia, dinamika geopolitik global menawarkan pelajaran penting dalam menjalankan diplomasi multilateral. Partisipasi Indonesia dalam forum-forum internasional, termasuk Board of Peace (BoP), mencerminkan komitmen aktif negara dalam membangun perdamaian dan kerja sama global. Pengalaman Iran dapat menjadi refleksi strategis untuk terus menyeimbangkan kepentingan nasional dengan prinsip keadilan global, serta memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang mengutamakan perdamaian, kemerdekaan, dan solidaritas bagi bangsa-bangsa tertindas, tanpa mengabaikan kebijakan luar negeri yang konsisten dengan konstitusi dan mandat bangsa.

Spiritualitas sebagai Basis Etika Peradaban

Perayaan Revolusi Iran menegaskan bahwa spiritualitas bukan sekadar ritual, tetapi kekuatan pembebasan. Revolusi ini menghubungkan iman dengan keadilan sosial, dan keyakinan dengan perjuangan kemanusiaan. Ia bukan hanya milik rakyat Iran, tetapi menjadi simbol global bagi perjuangan melawan ketidakadilan dan penindasan.