Analis Amerika: Pembunuhan Jenderal Soleimani Mempertanyakan Diplomasi dan Kredibilitas Internasional Amerika Serikat
https://parstoday.ir/id/news/iran-i183242-analis_amerika_pembunuhan_jenderal_soleimani_mempertanyakan_diplomasi_dan_kredibilitas_internasional_amerika_serikat
Seorang analis Amerika menilai pembunuhan Jenderal Mayor Qasem Soleimani sebagai tindakan sepihak yang berujung pada meningkatnya ketidakstabilan di kawasan Asia Barat.
(last modified 2025-12-30T06:58:54+00:00 )
Des 30, 2025 13:52 Asia/Jakarta
  • Analis Amerika: Pembunuhan Jenderal Soleimani Mempertanyakan Diplomasi dan Kredibilitas Internasional Amerika Serikat

Seorang analis Amerika menilai pembunuhan Jenderal Mayor Qasem Soleimani sebagai tindakan sepihak yang berujung pada meningkatnya ketidakstabilan di kawasan Asia Barat.

Letjen Qasem Soleimani, Komandan Pasukan Quds Korps Garda Revolusi Islam Iran, pada 3 Januari 2020—saat melakukan perjalanan ke Irak atas undangan resmi otoritas negara tersebut—gugur sebagai syahid dalam serangan udara pasukan agresor dan teroris Amerika Serikat di dekat Bandara Baghdad. Dalam serangan itu, ia bersama Abu Mahdi al-Muhandis, Wakil Ketua Pasukan Mobilisasi Rakyat Irak (Hashd al-Shaabi), serta delapan orang pendamping lainnya turut gugur.

Giorgio Cafiero, analis isu Asia Barat, dalam wawancara dengan IRNA menyatakan bahwa Jenderal Soleimani di Iran dan di sejumlah wilayah kawasan dipandang sebagai pembela tanah air yang patriotik dalam menghadapi ISIS. Menurutnya, penghapusan tokoh tersebut telah memperkecil peluang terjadinya dialog konstruktif antara Teheran dan Washington.

Menurut laporan Pars Today, Cafiero menambahkan bahwa serangan Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir Iran serta dukungannya terhadap perang rezim Israel melawan Republik Islam Iran bukan didorong oleh kekhawatiran nyata terkait proliferasi nuklir, melainkan oleh motif ekspansionis dan upaya melemahkan Iran.

Cafiero menegaskan bahwa tujuan Israel adalah menjadikan Iran sebagai negara yang lemah dan berada di bawah dominasi, serupa dengan Lebanon atau Suriah, dan bahwa upaya untuk kembali memicu perang pada tahun 2026 masih terus berlangsung.

Analis Amerika tersebut menekankan bahwa perilaku sepihak dan bersifat mengacau seperti ini telah merusak kredibilitas Washington sebagai aktor yang bertanggung jawab di panggung internasional serta melemahkan keamanan global.

Cafiero menambahkan bahwa satu-satunya jalan untuk menciptakan stabilitas jangka panjang di Asia Barat adalah dengan menghormati kedaulatan negara-negara, hukum internasional, serta mengedepankan diplomasi yang dilandasi itikad baik di antara semua pihak, termasuk Iran dan Amerika Serikat.

Ia juga menyatakan bahwa respons timbal balik Iran terhadap tindakan Amerika Serikat dan Israel—termasuk serangan rudal ke pangkalan-pangkalan militer—menunjukkan kesiapan Tehran untuk mempertahankan kedaulatan nasional dan menghadapi segala bentuk agresi.(PH)