Akar Permusuhan Amerika terhadap Iran dari Perspektif Pemimpin Revolusi Islam
Pernyataan Pemimpin Tertinggi Revolusi pada tanggal 12 Bahman terkait fitnah terbaru Amerika dan permusuhan negara tersebut terhadap Republik Islam Iran, juga menjelaskan bahwa Republik Islam Iran telah memulihkan kekuatan daya tangkal (deterrence)-nya dan menyadari perang kognitif yang dilakukan musuh.
Tehran, Parstoday-Poin pertama dalam pidato Pemimpin Revolusi Islam, Imam Khamenei, pada 12 Bahman mengenai fitnah terbaru Amerika dan permusuhan negara itu terhadap Republik Islam Iran adalah penegasan tentang permusuhan mendasar dan prinsipil Amerika terhadap Republik Islam Iran.
Penyebab utama permusuhan ini terutama bersumber dari posisi geopolitik strategis Iran serta terputusnya akses Amerika terhadap keistimewaan tersebut setelah kemenangan Revolusi Islam. Dalam konteks ini, Pemimpin Revolusi menyatakan:
“Sekitar tiga puluh tahun Amerika berada di Iran; sumber daya ada di tangan mereka, minyak ada di tangan mereka, politik ada di tangan mereka, keamanan ada di tangan mereka, hubungan dengan dunia ada di tangan mereka, segalanya ada di tangan mereka; selama tiga puluh tahun mereka melakukan apa pun yang mereka kehendaki. [Sekarang] tangan mereka telah terputus; mereka ingin kembali dan memiliki kondisi seperti masa Pahlavi. Tetapi bangsa Iran berdiri kokoh, menghadang dengan dada terbuka dan menjadi penghalang. Permusuhan itu [terjadi] karena hal ini.”
Poin kedua dalam pernyataan Pemimpin Revolusi adalah bahwa faktor lain dari permusuhan Amerika terhadap Iran berasal dari keteguhan Iran dalam menghadapi pemaksaan kehendak (arogansi) serta penyajian sebuah gagasan baru di dunia. Dengan kata lain, selain kehilangan posisi Amerika di Iran pasca kemenangan Revolusi Islam, Iran juga telah berubah menjadi sebuah model pemikiran bagi bangsa-bangsa dan negara-negara lain. Berdasarkan hal inilah Amerika memainkan peran utama dalam penciptaan fitnah-fitnah di Iran. Dalam hal ini, dengan merujuk pada kerusuhan terbaru, beliau menegaskan:
“Ini bukan fitnah pertama dan juga bukan fitnah terakhir; setelah ini pun kemungkinan kejadian-kejadian seperti ini akan terjadi. Pada akhirnya, kita adalah sebuah negara, kita memiliki sebuah pemikiran baru, sebuah jalan baru, kita berbenturan dan berhadapan dengan kepentingan para penguasa dunia; maka kita harus selalu siap dan waspada.”
Poin ketiga dalam pernyataan Pemimpin Revolusi adalah rujukan terhadap berbagai manuver Amerika dalam beberapa pekan terakhir terhadap Iran. Dari sudut pandang Ayatollah Khamenei, di satu sisi manuver-manuver tersebut merupakan bagian dari upaya perang kognitif, dan di sisi lain berasal dari kesalahan persepsi mereka terhadap kekuatan militer Iran. Oleh karena itu, Pemimpin Revolusi, sambil menghadapi perang kognitif musuh, juga berupaya dengan menekankan dampak regional dari perang terhadap Iran, untuk mengingatkan musuh Amerika tentang kekuatan militer dan pemulihan daya tangkal Iran. Dalam hal ini beliau menegaskan:
“Kami bukan pihak yang memulai, kami tidak ingin menzalimi siapa pun, kami tidak ingin menyerang negara mana pun; tetapi terhadap siapa pun yang memiliki niat jahat, ingin menyerang dan menyakiti, bangsa Iran akan memberikan pukulan yang keras. Dan hendaknya orang-orang Amerika juga mengetahui bahwa jika kali ini mereka memulai perang, maka perang itu akan menjadi perang regional.”
Sebagai poin penutup, pernyataan Pemimpin Revolusi menunjukkan bahwa pemberitaan rekayasa dan ancaman Amerika bukan hanya tidak menggoyahkan tekad dan kehendak Iran—terutama Pemimpin Tertinggi Revolusi—dalam melanjutkan kebijakan kemerdekaan dan perlawanan dalam politik luar negeri, tetapi justru Iran akan menjawab provokasi Amerika dengan kekuatan dan keteguhan yang lebih besar daripada sebelumnya.(PH)