Mengapa Iran Bisa Lebih Unggul dalam Perundingan Jenewa?
https://parstoday.ir/id/news/iran-i185572-mengapa_iran_bisa_lebih_unggul_dalam_perundingan_jenewa
Menjelang putaran baru dialog nuklir antara Iran dan Amerika Serikat, Tehran memasuki medan perundingan dengan agenda yang jelas: pencabutan sanksi, pemertahanan hak pengayaan uranium, dan ketergantungan pada kesabaran strategis
(last modified 2026-02-17T05:54:34+00:00 )
Feb 17, 2026 12:37 Asia/Jakarta
  • Mengapa Iran Bisa Lebih Unggul dalam Perundingan Jenewa?

Menjelang putaran baru dialog nuklir antara Iran dan Amerika Serikat, Tehran memasuki medan perundingan dengan agenda yang jelas: pencabutan sanksi, pemertahanan hak pengayaan uranium, dan ketergantungan pada kesabaran strategis

Dengan menguasai inisiatif waktu dan kerangka negosiasi, Iran telah menempatkan pihak Amerika pada pilihan antara kesepakatan yang berimbang atau kelanjutan kebuntuan.

Putaran kedua dialog tidak langsung nuklir antara Republik Islam Iran dan Amerika Serikat, yang dimediasi oleh Oman di Jenewa, berlangsung di tengah penetapan prioritas utama tim negosiator Iran yang dipimpin Menteri Luar Negeri Seyed Abbas Araghchi, yakni pencabutan sanksi secara efektif dan pengamanan kepentingan nasional. Pendekatan ini mencerminkan fokus Tehran pada hasil nyata yang dapat diverifikasi.

Berdasarkan jadwal yang diumumkan, konsultasi akan berlanjut di Kedutaan Besar Oman di Jenewa; jalur yang sebelumnya dimulai di Muskat dan digambarkan "baik" oleh kedua belah pihak, membuka jalan bagi kelanjutan dialog. Dalam kerangka ini, Menteri Luar Negeri Iran, sebelum memulai negosiasi, bertemu dengan Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi, untuk memaparkan pandangan teknis Iran dan menegaskan kerja sama profesional dalam kerangka perjanjian safeguards.

Pertemuan Araghchi dengan Menteri Luar Negeri Oman, Badr bin Hamad Al Busaidi, menunjukkan peran aktif mediasi Muskat dan dukungan terhadap jalur diplomasi yang berorientasi hasil. Pihak Oman memuji pendekatan Iran dalam menjaga perdamaian dan stabilitas kawasan, serta menegaskan keberlanjutan upaya untuk mencapai kesepakatan yang mengakomodasi kepentingan semua pihak.

Tehran memasuki putaran negosiasi ini dengan dua syarat tegas: dialog terbatas pada masalah nuklir dan pengakuan hak pengayaan uranium. Kerangka kerja ini, yang juga diperhatikan oleh pihak lawan, menunjukkan bahwa Republik Islam, dengan mempertahankan garis merah strategis dan tanpa memasuki area di luar Kesepakatan Nuklir 2015 (JCPOA), memegang inisiatif dalam mengelola proses negosiasi.

Para pakar berpendapat bahwa kohesi internal, kemajuan teknis nuklir, dan kemampuan pertahanan yang deterrent telah memperkuat posisi Iran dalam persamaan negosiasi dan mendorong pihak Amerika untuk memilih jalur diplomasi sebagai opsi yang lebih murah. Sebaliknya, pesan-pesan yang kontradiktif dan terbatasnya kehadiran tim negosiator AS di lokasi dialog dinilai sebagai indikasi tidak adanya keputusan final di Washington.

Sementara itu, tim negosiator Iran, dengan menekankan kesabaran strategis dan manajemen waktu, berupaya mengarahkan proses negosiasi menuju kesepakatan yang adil dan berimbang; kesepakatan yang mencakup pencabutan sanksi secara nyata, manfaat ekonomi bagi negara, dan jaminan hak nuklir bangsa Iran.

Menurut Menteri Luar Negeri Iran, Tehran hadir di Jenewa dengan inisiatif dan kesiapan untuk mencapai kesepakatan yang adil, dan menggantungkan hasil positif pada kemauan politik serta realisme pihak lawan. Dalam kondisi demikian, semua mata tertuju pada keputusan Washington; di mana ia harus memilih antara melanjutkan tekanan yang tidak efektif atau menerima kesepakatan yang berimbang.(PH)