Blokade Laut Trump: Bumerang untuk Perekonomian Dunia
https://parstoday.ir/id/news/iran-i188552-blokade_laut_trump_bumerang_untuk_perekonomian_dunia
Pars Today - Albert Baghzian, dosen Universitas Tehran dan analis ekonomi, menilai tujuan utama Donald Trump dari blokade laut terhadap Iran adalah mencegah total penjualan minyak Iran.
(last modified 2026-04-16T05:31:27+00:00 )
Apr 16, 2026 10:48 Asia/Jakarta
  • Kapal tanker dan boat cepat Iran
    Kapal tanker dan boat cepat Iran

Pars Today - Albert Baghzian, dosen Universitas Tehran dan analis ekonomi, menilai tujuan utama Donald Trump dari blokade laut terhadap Iran adalah mencegah total penjualan minyak Iran.

Target di Balik Ancaman

"Selama lima dekade terakhir, AS telah menjatuhkan berbagai sanksi, finansial, larangan penjualan pesawat dan suku cadang, hingga embargo minyak. Setiap negara yang membeli minyak Iran berisiko kena denda," jelasnya dalam wawancara eksklusif dengan IRNA, Rabu (15/4/2026).

Menurut Baghzian, Iran selama ini telah menyiapkan strategi untuk menetralisir sanksi. "Kali ini, AS ingin lebih ekstrem: tidak setetes pun minyak Iran keluar."

Gencatan Senjata sebagai Jebakan

Baghzian meyakini bahwa gencatan senjata baru-baru ini bukanlah niat damai, melainkan bagian dari skenario terencana Trump.

"Dia ingin memprovokasi Iran bereaksi di Selat Hormuz. Begitu Iran mengumumkan pembatasan bagi kapal yang melayani AS, Israel, atau sekutunya seperti UEA dan Bahrain, AS langsung mengambil posisi sebagai 'polisi laut'."

Hasilnya, menurut Baghzian, Iran yang terkepung, sementara dunia melihat AS sebagai pelindung keamanan maritim, padahal tujuannya tunggal: menghentikan ekspor minyak Iran, tanpa harus mematikan total ekspor negara tetangga Teluk Persia.

Dampak ke Perekonomian Dunia

"Ekspor minyak dari kawasan tidak akan berhenti total. Jika itu terjadi, negara-negara Teluk Persia akan babak belur dan harga minyak meroket. AS tidak mau itu," kata Baghzian.

Namun, ia memperingatkan bahwa harga minyak pasti akan naik. AS akan mendorong jalur pasokan alternatif, mungkin melalui Oman atau Qatar, dan bahkan membuka rute laut baru.

"Kenaikan harga energi akan memicu inflasi global. Karena energi adalah biaya pokok produksi, banyak negara akan terpaksa mengambil kebijakan kontraktif, yang berujung pada resesi ekonomi."

Iran Bukan Venezuela

Baghzian dengan tegas membedakan situasi Iran dengan Venezuela.

"Di Venezuela, tekanan berlangsung sepihak. Negara itu tidak punya kapasitas untuk membalas. Namun Iran bisa membatasi ekspor minyak negara-negara yang berpihak pada AS."

Konsekuensinya, AS harus mengerahkan pengawalan militer, menanggung biaya besar, dan meningkatkan level konfrontasi. "Ini bukan sekadar blokade; ini eskalasi."

Ketahanan Ekonomi Iran vs Negara Asia

"Beberapa analis AS bilang Trump frustrasi karena gagal di Pakistan. Namun saya melihat ini skenario lama: provokasi Hormuz, tawaran gencatan palsu, lalu blokade."

Namun, Baghzian menegaskan bahwa ekonomi global akan lebih terpukul daripada Iran.

"Iran punya pengalaman panjang menghadapi tekanan dan cadangan pangan serta logistik yang memadai untuk bertahan. Namun negara-negara Asia yang bergantung pada minyak Teluk Persia tidak memiliki persiapan seperti itu."

Kenaikan harga minyak dan penipisan cadangan strategis akan menekan negara-negara tersebut. "Tekanan ini bisa memaksa pemerintah, terutama AS, untuk kembali ke meja perundingan."

Eropa Diam, Asia yang Terjepit

"Eropa tidak akan banyak protes," kata Baghzian. "Kenaikan harga justru menguntungkan mereka. Mereka bisa menjual minyak Brent lebih mahal, atau membeli dari Kanada dan Rusia."

Siapa yang paling terpukul? Negara-negara Asia dan ekonomi dengan cadangan strategis terbatas.

Blokade Trump di laut mungkin terlihat seperti serangan ke Iran. Namun kenyataannya, bumerang itu akan melukai perekonomian dunia, dan Asia yang akan merasakan dampak paling menyakitkan.

Iran bertahan. Dunia yang membayar.(sl)