Super El Niño Menuju Iran: Banjir Bandang atau Kekeringan?
https://parstoday.ir/id/news/iran-i192330-super_el_niño_menuju_iran_banjir_bandang_atau_kekeringan
Pars Today - El Niño 2026 mungkin tidak membawa kekeringan bagi Iran, melainkan curah hujan deras yang memicu banjir. Para ahli memperingatkan agar Kementerian Jihad Pertanian bersiap memasok pangan, dan Kementerian Energi bersiap mengendalikan banjir.
(last modified 2026-06-30T10:06:09+00:00 )
Jun 30, 2026 17:00 Asia/Jakarta
  • Super El Nino
    Super El Nino

Pars Today - El Niño 2026 mungkin tidak membawa kekeringan bagi Iran, melainkan curah hujan deras yang memicu banjir. Para ahli memperingatkan agar Kementerian Jihad Pertanian bersiap memasok pangan, dan Kementerian Energi bersiap mengendalikan banjir.

Melansir Fars News, 30 Juni 2026, Organisasi Meteorologi Dunia dengan probabilitas 80 persen memperkirakan bahwa fenomena El Niño yang kuat akan dimulai pada Agustus (Shahrivar) 2026. Dampaknya bersifat global, tetapi Asia Selatan dan Tenggara, Afrika, serta Amerika termasuk negara-negara dengan dampak terbesar.

Fenomena ini meningkatkan suhu permukaan air Samudra Pasifik sebesar 2 derajat Celsius, mengubah pola curah hujan dan suhu di seluruh dunia, menyebabkan kekeringan di beberapa wilayah dan banjir bandang di wilayah lainnya.

Ancaman Krisis Pangan Global

Prediksi FAO adalah bahwa El Niño 2026-2027 akan lebih kuat daripada periode-periode sebelumnya dan akan mengurangi produksi gandum, biji-bijian berminyak, dan tebu di beberapa sabuk penghasil pangan dunia, serta meningkatkan harga pangan global. Berdasarkan sebuah analisis, "El Niño yang kuat dapat meningkatkan harga pangan hingga dua kali lipat dalam satu tahun".

Pelajaran dari Sejarah

El Niño 1876-1878: Menyebabkan kekeringan luas di Asia, Brasil, dan Afrika, mengakibatkan kelaparan bagi 50 juta orang.

El Niño 1997-1998: Menurunkan produksi beras dan jagung di Filipina masing-masing 27 dan 44 persen, serta merusak ekonomi global sebesar $5,7 triliun.

El Niño 1982-1983: Menyebabkan kerugian sekitar $13 miliar.

Pola umum dari semua ini adalah kerusakan pada hasil pertanian, kematian ternak, dan kenaikan harga pangan.

Iran dan Kerentanan Impor Pangan

Iran setiap tahun mengimpor 23 juta ton barang pokok pertanian senilai $12 miliar (setara sepertiga pendapatan minyak negara), terutama barang-barang pokok, dan pemenuhan jumlah ini dalam kondisi krisis dan lonjakan harga akan membuat situasi semakin sulit.

Tiga Perspektif Ahli: Teknologi vs Realitas

Ali Teimouri, ahli senior meteorologi, mengatakan bahwa dalam periode ini, kecerdasan buatan (AI) telah masuk ke medan dan akan mengurangi tingkat kerusakan; dengan model cuaca cerdas, kita mampu memprediksi wilayah-wilayah yang terdampak kekeringan.

Sebaliknya, Ebrahim Moradzadeh, ahli senior pertanian, mengatakan bahwa tindakan pencegahan terhadap fenomena kekeringan, pemanasan global, badai, dan banjir tidak mungkin dilakukan dalam jangka pendek dan kerusakan sudah pasti; oleh karena itu FAO dan Program Pangan Dunia telah meminta bantuan keuangan sebesar $202 juta.

Jalal Sakhi, ahli senior perdagangan, dengan memberikan solusi untuk negara mengatakan, "Dalam jangka pendek, sebelum harga pangan naik, gudang-gudang harus diisi stok agar kita tidak mengalami krisis dan tidak kehilangan banyak devisa."

"Dalam jangka panjang; menurut pendapat para spesialis pertanian, benih yang tahan panas dan kekeringan harus digunakan, dan koefisien penetrasi pengetahuan dan teknologi harus ditingkatkan."

Laporan ini menyingkap paradoks yang menarik: sementara banyak negara khawatir El Niño akan membawa kekeringan, Iran justru diingatkan untuk bersiap menghadapi banjir bandang. Ini karena posisi geografis Iran yang unik, ketika pola curah hujan berubah, wilayah yang biasanya kering bisa tiba-tiba menerima hujan deras yang tidak bisa diserap tanah keras. Yang paling menarik adalah perdebatan antara tiga ahli: Teimouri optimis tentang peran AI dalam prediksi, Moradzadeh pesimis tentang kemampuan pencegahan jangka pendek, dan Sakhi memberikan solusi pragmatis: stok sekarang sebelum harga naik. Ini adalah cerminan dari tiga pendekatan yang sering kita lihat dalam menghadapi krisis: optimisme teknologi, realisme pahit, dan pragmatisme ekonomi. Dan bagi Iran yang mengimpor 1/3 pangan utamanya dengan nilai $12 miliar (setara sepertiga pendapatan minyak), krisis pangan global bukan hanya masalah lingkungan, ini adalah masalah ketahanan nasional.(Sail)