Mengapa Iran Menekankan Perlunya Membentuk Arsitektur Keamanan Regional yang Baru?
Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Republik Islam Iran sekaligus Utusan Khusus Republik Islam Iran untuk Urusan China, dalam sebuah unggahan di jejaring sosial X menulis: Penekanan China pada penguatan keamanan bersama mencerminkan prinsip utama yang juga telah ditekankan Iran selama bertahun-tahun.
Menurut laporan Pars Today, Ghalibaf menyambut pernyataan terbaru Presiden China Xi Jinping dan menulis: “Penekanan China pada penguatan keamanan bersama mencerminkan prinsip utama yang juga telah ditekankan Iran selama bertahun-tahun. Negara-negara di kawasan harus menentukan masa depan mereka dengan tangan mereka sendiri, dan stabilitas yang nyata hanya dapat terwujud melalui pembentukan arsitektur keamanan baru dan berbasis kawasan. Iran siap.”
Pandangan Mohammad Bagher Ghalibaf, Ketua Parlemen Republik Islam Iran, mengenai perlunya pembentukan “arsitektur keamanan baru dan berbasis kawasan” pada hakikatnya melampaui sekadar sikap sesaat mengenai hubungan Iran dan China. Pandangan tersebut perlu dipahami dalam kerangka perkembangan geopolitik Asia Barat, persaingan kekuatan-kekuatan besar, serta perubahan pola hubungan keamanan di kawasan. Pokok utama pernyataannya adalah bahwa keamanan kawasan tidak boleh terus bergantung pada kehadiran dan intervensi kekuatan asing, melainkan negara-negara kawasan harus mampu merancang dan menerapkan mekanisme keamanan mereka sendiri. Dari perspektif kebijakan luar negeri Republik Islam Iran, pandangan ini merupakan kelanjutan konseptual dari gagasan yang selama bertahun-tahun menekankan “keamanan endogen” dan peran langsung negara-negara kawasan dalam menjamin stabilitas.
Pernyataan Ghalibaf mengenai penekanan China pada “penguatan keamanan bersama” juga memiliki arti penting. Dalam beberapa tahun terakhir, China berupaya memosisikan dirinya bukan hanya sebagai kekuatan ekonomi, tetapi juga sebagai aktor yang berpengaruh dalam tatanan politik dan keamanan dunia. Bagi Beijing, keamanan bersama berarti keamanan suatu negara tidak boleh diwujudkan dengan mengorbankan keamanan negara lain, dan persoalan-persoalan kawasan, sejauh memungkinkan, harus diselesaikan melalui dialog dan kerja sama antara para aktor di kawasan itu sendiri. Oleh karena itu, adanya kesamaan antara wacana politik Iran dan China mengenai keamanan kawasan bahwa terdapat landasan yang sesuai untuk memperluas kerja sama strategis kedua negara, meskipun kesamaan tersebut tidak serta-merta berarti bahwa kepentingan atau tujuan Tehran dan Beijing sepenuhnya sama.
Konsep “arsitektur keamanan baru” dari sudut pandang ini merupakan bagian terpenting dari pernyataan Ghalibaf. Arsitektur keamanan tidak semata-mata berarti pembentukan pakta militer atau organisasi baru, melainkan mencakup seperangkat aturan, pengaturan, langkah-langkah membangun kepercayaan, dan mekanisme kerja sama yang mampu mengelola konflik di antara negara-negara kawasan. Asia Barat selama beberapa dekade terakhir telah menyaksikan berbagai perang, perlombaan senjata, intervensi asing, krisis politik, serta ketidakpercayaan yang mendalam di antara negara-negara. Dalam kondisi seperti ini, pembentukan arsitektur keamanan berbasis kawasan mengharuskan negara-negara di kawasan beralih dari logika “keamanan melawan pihak lain” menuju “keamanan bersama pihak lain”. Perubahan ini, meskipun menarik secara teoritis, dalam praktiknya akan menghadapi berbagai hambatan serius, seperti perbedaan ideologis, persaingan geopolitik, dan ketidakpercayaan yang telah berlangsung secara historis.
Pernyataan “negara-negara di kawasan harus menentukan masa depan mereka dengan tangan mereka sendiri” juga membawa pesan politik yang jelas. Pernyataan tersebut pada dasarnya merupakan kritik terhadap ketergantungan negara-negara kawasan pada kekuatan di luar kawasan dalam hal keamanan. Kehadiran militer Amerika Serikat dan kekuatan asing lainnya di Asia Barat selama beberapa dekade terakhir telah menjadi salah satu pilar utama tatanan keamanan kawasan. Namun, dari sudut pandang Iran, kehadiran tersebut tidak hanya gagal menciptakan stabilitas yang berkelanjutan, tetapi dalam sejumlah kasus justru menyebabkan meningkatnya persaingan dan ketidakamanan. Dari sudut pandang ini, pernyataan Ghalibaf dapat dipandang sebagai upaya untuk mengusulkan model alternatif, di mana negara-negara kawasan, alih-alih bergantung pada jaminan eksternal, mengambil tanggung jawab utama atas keamanan mereka sendiri.
Namun demikian, terwujudnya model semacam ini membutuhkan langkah lebih jauh dari sekadar slogan dan mengubah gagasan keamanan bersama menjadi mekanisme yang nyata. Dialog rutin antara negara-negara kawasan, kesepakatan mengenai prinsip non-intervensi, pembentukan saluran komunikasi untuk mengelola krisis, kerja sama dalam memerangi terorisme, menjamin keamanan jalur energi dan pelayaran, bahkan mekanisme pengendalian senjata, dapat menjadi bagian dari arsitektur tersebut. Dalam kerangka ini, hubungan Iran dengan negara-negara Arab di kawasan juga memiliki arti yang sangat menentukan, karena tidak mungkin membentuk arsitektur keamanan yang komprehensif tanpa partisipasi para aktor utama di Teluk Persia dan tercapainya kesepahaman di antara kekuatan-kekuatan regional.
Di sisi lain, pernyataan penutup Ghalibaf, yakni “Iran siap”, menunjukkan bahwa Tehran tidak bermaksud menempatkan dirinya semata-mata sebagai pihak yang menentang tatanan yang ada, tetapi juga sebagai salah satu perancang tatanan alternatif. Hal ini dapat menciptakan peluang diplomatik bagi Iran, tetapi pada saat yang sama mengharuskan Tehran mengajukan inisiatif-inisiatif konkret yang dapat diterima oleh negara-negara lain di kawasan. Jika konsep keamanan berbasis kawasan mampu menghasilkan kerja sama nyata, membangun kepercayaan, dan mengurangi ketegangan, konsep tersebut berpotensi menjadi kerangka yang efektif bagi masa depan kawasan.
Jika tidak, konsep tersebut mungkin hanya akan tetap berada pada tataran wacana politik. Oleh karena itu, arti penting pernyataan Ghalibaf bukan terletak pada pengumuman mengenai pakta atau aliansi baru, melainkan pada upaya untuk memperkuat gagasan bahwa tatanan keamanan Asia Barat sedang memasuki tahap baru; sebuah tahap ketika peran kekuatan-kekuatan regional, khususnya Iran dan negara-negara Arab penting, serta peran China dalam memberikan dukungan politik dan ekonomi terhadap pengaturan baru, dapat menjadi lebih menentukan dibandingkan sebelumnya.