Peran dan Risalah Wanita; Hubungan Wanita dan Pria (5)
https://parstoday.ir/id/news/iran-i24589-peran_dan_risalah_wanita_hubungan_wanita_dan_pria_(5)
Memperkuat Daya Tarik Seksual; Senjata Paling Mematikan Terhadap Iran
(last modified 2026-04-12T10:02:39+00:00 )
Okt 31, 2016 14:34 Asia/Jakarta
  • Ayatullah Sayid Ali Khamenei
    Ayatullah Sayid Ali Khamenei

Memperkuat Daya Tarik Seksual; Senjata Paling Mematikan Terhadap Iran

Setiap kali para penjajah ingin menjauhkan sebuah bangsa dari keseriusan dan kegigihan, Setiap kali mereka ingin mencerabut jiwa perjuangan, keberanian, keksatriaan dan pengorbanan dari sebuah bangsa; salah satu senjata yang paling mematikan terhadap bangsa itu adalah mewujudkan dan menguatkan daya tarik seksual dan menyeret bangsa itu pada fahsya [perbuatan keji]. Ini adalah pengalaman yang berulang kali terjadi di dunia. (dalam khutbah Jumat, 14/10/1363)

Usaha Media Dunia Menyodorkan Cara yang Tidak Baik terkait Hubungan Anak Perempuan dan Anak Lelaki

Anak-anak perempuan dan anak-anak lelaki, para wanita dan pria di jalan-jalan, model pakaian dan riasannya harus sedemikian rupa sehingga tidak bertentangan dengan perasaan masyarakat dan [khususnya] masyarakat yang anggota keluarganya ada yang syahid. Peralatan dari berbagai penjuru dunia bekerja untuk bangsa-bangsa [di dunia]. Untuk memaksakan akhlak dan cara berpakaian, cara hubungan wanita dan pria, cara hubungan anak perempuan dan anak lelaki dan ini berbahaya untuk nasib sebuah bangsa. (dalam khutbah Jumat, Tehran, 30/1/1364)

Menyeret anak-anak perempuan dan anak-anak lelaki pada kesenangan semu

Bila mereka ingin merusak revolusi dengan cara menyeret sejumlah orang pada kefasadan dan kehancuran, menyeret anak-anak perempuan dan lelaki pada kesenangan semu dan kebinatangan, menyelenggarakan pertemuan merugikan, merusak dan menghancurkan Republik Islam Iran. Kami pasti tidak akan membiarkannya begitu saja. Masyarakat juga tidak akan menerimanya. Bahkan jangan sampai menerimanya. (dalam pertemuan bersama para ibu penyelenggara seminar Hijab, 10/3/1363)

Salah memahami akan batas hubungan wanita dan pria

Di tempat-tempat tertentu di dunia, di antara bangsa-bangsa lain terkadang terjadi salah pemahaman akan batas yang sudah kita tentukan seperti; antara lelaki dan perempuan non mahram jangan sampai ada persentuhan badan dan jasmani, jangan sampai saling memandang penuh syahwat, jangan sampai ada hubungan tanpa aturan dan batasan, jangan sampai berduaan di dalam ruangan tertutup dan sepi, dan batasan-batasan lainnya yang kita yakini. Musuh-musuh kita juga menyulut pemahaman yang salah ini. Kami, misalnya di sebuah tempat atau di pertemuan umum resmi tidak bersalaman dengan seorang wanita, kemudian ditafsirkan sebagai penghinaan terhadap wanita [secara umum] atau wanita tersebut secara khusus. (dalam khutbah shalat Jumat, 18/7/1365)

Mempermudah pergaulan tidak pada tempatnya yang dilakukan oleh Barat

Bila dalam sebuah pertemuan atau tempat-tempat acara, kita berhadapan dengan para wanita, maka kita akan menjaga batasan-batasan tertentu. Ini adalah sebuah nilai. Tepat berseberangan dengan apa yang dianggap sebagai nilai di dunia. Di dunia, ketika berhadapan dengan para wanita, termasuk dalam sistem pemerintahan, ada semacam langkah-langkah mempermudah terkait pergaulan. Tentunya dalam pergaulan dengan non mahram. Dalam pergaulan dengan mahram malah tidak ada yang namanya mempermudah ini. Yakni di sana para suami melakukan kezaliman yang biasa dilakukan oleh kebanyakan para lelaki di dunia terhadap istri-istrinya, bahkan lebih parah. Data yang disiarkan di dunia, dan terlihat di koran-koran dan majalah-majalah menunjukkan tentang masalah-masalah seperti menyiksa wanita yakni menyiksa istri. Tidak mutlak wanita Barat saja. Mereka-mereka yang menunduk di hadapan wanita asing dan berbicara lembut, tidak melakukan hal ini di hadapan istrinya sendiri. Tapi bahkan melakukan kekerasan terhadap istrinya, menghina dan menekannya.

Dengan demikian, nilai yang tersebar di dunia adalah dalam pergaulan dengan wanita non mahram ada semacam kelonggaran dan usaha mempermudah. Sementara kita tidak demikian. Dalam pergaulan dengan wanita non mahram, kita ada semacam usaha mempersulit; tidak bersalaman dan tidak bercanda. Tidak berduaan di dalam ruangan tertutup pintunya dan semacamnya. Semua ini harus kalian jelaskan. (dalam pertemuan dengan para duta dan staf kementrian luar negeri, 4/6/1372)

Hubungan wanita dan pria di Iran, jelas hubungannya

Di antara negara-negara di dunia, kita termasuk satu-satunya bangsa dan negara yang memiliki batasan dan aturan yang jelas terkait hubungan wanita dan pria secara umum dalam kancah sosial dan pergaulan sehari-hari. Di negara-negara lain, baik itu negara-negara yang di sana kefasadan seksual sengaja disulut, maupun negara-negara yang di sana kefadan seksual tidak disulut sebagai sebuah kebijakan, di negara-negara tersebut,  tidak di tentukan adanya batasan-batasan yang jelas terkait hubungan pergaulan wanita dan pria. (dalam khutbah shalat jumat, 18/7/1365) 

Hadir di tengah-tengah masyarakat; iya, percampuran; tidak!

Di negara-negara non Islam, wajar bila para wanita di sana tidak memakai pakaian yang seharusnya dipakai oleh seorang wanita sebagaimana yang kami yakini. Tentunya kami harus komitmen pada keyakinan ini, dimana para wanita harus memiliki pakaian yang sesuai dan pada saat yang sama mereka bisa melakukan aktivitas yang membangun dan sangat bepengaruh di berbagai kancah sosial.  Kami tidak menerima percampuran wanita dan pria sebagaimana yang biasa terjadi di Eropa dan masyarakat Barat saat ini. (dalam wawancara media; radio-televisi di Zimbabwe, 1/11/64)

Partisipasi wanita yang membangun di tengah-tengah masyarakat tanpa percampuran dengan para lelaki

Terkait sarana pakaian para wanita, kami memiliki pandangan prinsip. Dan meyakini bahwa wanita bisa membentuk separuh dari tubuh sosial dan separuh dari usaha dan gerakan revolusi setiap masyarakat. Di negara kami sendiri, kenyataan ini ada sejak dahulu dan sekarang. Sehingga bila saat ini ada seseorang datang ke negara kami, maka dia akan menyaksikan kehadiran para wanita di semua aktivitas besar umum dan revolusi negara kami. Oleh karena itu kami meyakini bahwa wanita bisa aktif dan bisa hadir membangun di tengah-tengah masyarakat. Dan kami komitmen dengan prinsip ini. Tapi kami menentang pakaian yang dipaksakan oleh peradaban Barat dengan tujuan yang tidak benar terhadap para wanita. (dalam wawancara media; radio-televisi di Zimbabwe, 1/11/64) (Emi Nur Hayati)

Sumber: Naghs wa Resalat-e Zan I, Ifaf wa Hejab Dar Sabke Zendegi-e Irani-Eslami

Bargerefteh az bayanat-e Ayatullah al-Udhma Khamenei, Rahbare Moazzam-e Enghelab-e Eslami